Kapal Tanker Minyak Meledak di Selat Hormuz, Media Iran: Keluar Navigasi, Tabrak Ranjau Laut
Nuryanti July 27, 2026 06:38 AM

 

TRIBUNNEWS.COM - Sebuah kapal tanker minyak dilaporkan meledak di Selat Hormuz setelah diduga menabrak ranjau laut saat menyimpang dari jalur navigasi yang telah ditentukan Iran. Insiden tersebut dilaporkan media Iran pada Minggu (26/7/2026). 

Dan sebelum akhirnya menghantam ranjau laut di jalur perairan strategis tersebut. 

Hingga kini belum ada informasi mengenai identitas kapal, jumlah korban jiwa, maupun tingkat kerusakan akibat ledakan tersebut. 

Sebelumnya, pada 26 Juni lalu, Iran mengeluarkan peringatan bahwa pelayaran melalui Selat Hormuz hanya diperbolehkan melalui rute yang telah ditentukan oleh otoritas Teheran. 

Insiden ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran dalam beberapa pekan terakhir.  

Washington sebelumnya melancarkan serangan terhadap Iran, sementara Teheran membalas dengan menargetkan apa yang disebut sebagai fasilitas dan peralatan militer AS di sejumlah negara di kawasan. 

Situasi kembali memanas setelah pada 8 Juli Presiden AS Donald Trump menyatakan nota kesepahaman yang dicapai dengan Iran pada bulan sebelumnya telah berakhir.  

Trump menuduh Teheran melanggar kesepakatan tersebut, mengutip Anadolu Agency, Minggu (26/7/2026).  

Pernyataan itu muncul setelah serangkaian serangan terhadap tiga kapal tanker di Selat Hormuz serta kembali mencuatnya perselisihan mengenai aturan navigasi di jalur pelayaran yang menjadi salah satu rute distribusi minyak paling penting di dunia. 

AS menegaskan kapal-kapal harus dapat melintasi Selat Hormuz tanpa hambatan. 
Di sisi lain, Iran bersikeras seluruh kapal yang melintas wajib mengikuti jalur pelayaran di dekat garis pantainya sesuai mekanisme navigasi yang dikelola oleh Teheran. 

Iran dan Oman Kerja sama, Perkuat Koordinasi untuk Jaga Navigasi Aman di Selat Hormuz

Iran dan Oman menggelar pembicaraan di Teheran mengenai keamanan navigasi dan pengelolaan lalu lintas maritim di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu rute utama perdagangan energi dunia.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan pembicaraan berlangsung pada Jumat (24/7/2026) dan Sabtu (25/7/2026) di tingkat wakil menteri luar negeri.

Menurutnya, kedua negara mengadakan diskusi yang produktif dan akan melanjutkan konsultasi teknis maupun politik terkait pengelolaan jalur pelayaran tersebut.

Baghaei menjelaskan bahwa kedua pihak bertukar pandangan mengenai prinsip-prinsip umum dan mekanisme operasional untuk memastikan navigasi yang aman di Selat Hormuz.

Ia juga menegaskan bahwa hingga saat ini tidak terdapat perubahan pada lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz.

Meski demikian, koordinasi dan konsultasi antara Teheran dan Muscat mengenai pengelolaan jalur strategis tersebut terus dilakukan, mengutip Al Mayadeen, Minggu (26/7/2026). 

Media pemerintah Iran menyebut konsultasi tersebut bertujuan menyusun mekanisme yang tepat untuk mengatur lalu lintas maritim di Selat Hormuz.

Namun, belum ada rincian lebih lanjut mengenai hasil konkret yang dicapai dalam pembicaraan tersebut.

Menurut laporan itu, pembahasan dilakukan ketika AS kembali menegaskan kehadiran militernya di kawasan dengan alasan menjaga kebebasan navigasi di Selat Hormuz.

Pemerintah Iran berpandangan bahwa Iran dan Oman, sebagai dua negara yang berbatasan langsung dengan Selat Hormuz, memiliki hak bersama dalam mengatur lalu lintas pelayaran di jalur tersebut.

Teheran juga menegaskan bahwa keamanan selat itu memerlukan kerja sama erat antara kedua negara yang berbagi yurisdiksi atas perairan strategis tersebut.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran paling penting di dunia karena menjadi lintasan bagi sekitar seperlima ekspor minyak global, selain berbagai komoditas lain seperti mineral dan pupuk alami. 

(Tribunnews.com/Garudea Prabawati) 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.