TRIBUNSORONG.COM - Perjuangan meraih pendidikan tinggi tidak selalu berjalan mulus. Di balik toga dan senyum bahagia saat mengikuti prosesi yudisium, tersimpan kisah perjuangan, pengorbanan, hingga duka mendalam yang dialami oleh Atinus Sahe.
Pemuda kelahiran Gilika, 22 Juni 2004, dari Kampung Thamaksin, Kabupaten Yalimo, Papua Pegunungan ini resmi dinyatakan lulus dan mengikuti yudisium tahun 2026 usai menempuh studi selama empat tahun di Sekolah Tinggi Filsafat Teologi (STFT) GKI Izaak Samuel Kijne Jayapura.
Bagi Atinus, keberhasilannya menuntaskan kuliah bukan sekadar kerja keras pribadi, melainkan anugerah Tuhan yang luar biasa.
"Berasal dari daerah pegunungan tidak menjadi penghalang untuk bermimpi dan menempuh pendidikan tinggi. Saya percaya setiap orang punya kesempatan sama jika punya kemauan, disiplin, dan kesetiaan," ujar Atinus kepada Tribun-Papua.com, Sabtu (25/7/2026).
Baca juga: IPMNI Jabodetabek Desak Pemkab Nduga Jelaskan Selisih Dana Studi Rp10 Miliar
Atinus menceritakan, kerinduan untuk melayani Tuhan sudah tertanam di hatinya sejak kecil.
Motivasi itulah yang memantapkan langkahnya masuk ke STFT GKI Izaak Samuel Kijne pada 2022 lalu, setamat dari SMA PGRI Kota Jayapura.
Baginya, gelar akademik bukanlah tujuan utama. Ia ingin membekali diri demi masyarakat di garis terdepan Papua.
"Saya ingin menjadi hamba Tuhan yang siap melayani di pedalaman. Prestasi yang saya peroleh bukan tujuan akhir, melainkan sarana untuk memuliakan Tuhan," ungkapnya.
Baca juga: 12 Ramalan Zodiak Kesehatan Hari Ini Senin 27 Juli 2026: Taurus Iritasi Tenggorokan, Virgo Kulit
Duka Bertubi-tubi: Ayah, Paman, dan 2 Kakak Meninggal Dunia
Namun, jalan Atinus meraih mimpi tak semulus yang dibayangkan. Di tengah ketatnya perkuliahan, cobaan berat menghantam jiwanya secara bertubi-tubi.
Dalam rentang waktu studinya, ia harus kehilangan orang-orang tercinta: ayah kandung, paman yang sudah dianggap seperti ayah sendiri, serta dua orang kakaknya meninggal dunia secara berurutan.
Rasa terpukul sempat membuatnya ingin gulung tikar dan pulang ke kampung halaman di Yalimo. Namun, Atinus memilih bertahan demi masa depan.
"Sebagai anak, saya tentu ingin pulang dan berada di samping keluarga. Namun demi menyelesaikan pendidikan, saya memilih tetap bertahan. Keputusan itu tidak mudah, tapi saya serahkan semuanya kepada Tuhan Yesus," kenangnya.
Baca juga: Timpora Sorong Amankan Tiga Warga Asing di Kelurahan Tampa Garam Kota Sorong
Keteguhan hati Atinus membuahkan hasil manis. Selama kuliah, ia tak hanya aktif tetapi juga mengukir prestasi akademik hingga lulus tepat waktu.
Keberhasilannya ini tak lepas dari bantuan beasiswa dari Mabes Polri, pimpinan kampus, dosen, serta doa tak putus dari sang ibu, Sipora Saram, dan dukungan kakaknya, Oknel Meke, S.M.
Tak berhenti di jenjang Sarjana, potensi Atinus rupanya dilirik oleh para dosennya. Ia disiapkan untuk menjadi dosen di almamaternya.
Kini, Atinus tengah bersiap mengikuti tes masuk program Magister (S2) Filsafat Keilahian di Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta yang dijadwalkan pada Senin (27/7/2026).
Baca juga: Mahasiswa Waropen di Jayapura Terancam Telantar Akibat Dana Operasional Belum Cair
Di akhir perbincangan, pemuda asal Yalimo ini menitipkan pesan mendalam bagi para pemimpin gereja, masyarakat, hingga generasi muda Papua.
Ia mengingatkan pentingnya menjaga identitas dan harkat martabat Tanah Papua.
"Tanah Papua jangan dijual! Tanah ini adalah harta yang sangat berharga dan warisan yang harus kita jaga bersama," tegas Atinus.
Ia juga membakar semangat pemuda Papua lainnya agar tidak minder meski berasal dari daerah terpencil atau terbatas secara ekonomi.
"Siapkan mental, berkomitmen, dan giat belajar. Jangan pernah takut karena berasal dari daerah terpencil. Jika ada tekad, disiplin, dan mengandalkan Tuhan, cita-cita pasti terwujud. Pendidikan adalah jalan menjadi berkat bagi Tanah Papua," pungkasnya. (*)