Datangi Polres Purwakarta, Dedi Mulyadi Desak Kasus Satpam Jatiluhur Terborgol Segera Terungkap
Ravianto July 27, 2026 01:11 PM

TRIBUNJABAR.ID, PURWAKARTA - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, mendatangi Mapolres Purwakarta pada Senin (27/7/2026).

Kedatangannya bertujuan untuk memberikan dukungan langsung kepada tim penyidik Satreskrim yang tengah menangani kasus dugaan pembunuhan Sumarna (42), petugas keamanan objek vital Waduk Jatiluhur yang ditemukan tewas terborgol.

Sebelum menemui jajaran kepolisian, pria yang akrab disapa Kang Dedi Mulyadi (KDM) itu terlebih dahulu menyambangi kediaman keluarga korban untuk menyampaikan belasungkawa secara langsung.

"Pagi ini saya bertemu dengan keluarga korban. Korban diduga pembunuhan. Hari ini saya bertemu Pak Kasat Reskrim untuk menanyakan perkembangan."

"Kita meminta agar kasus ini segera terungkap karena ini menyangkut rasa aman masyarakat di Jawa Barat," ujar Dedi Mulyadi kepada awak media di Mapolres Purwakarta, Senin (27/7/2026).

Janji Rehab Ruang Satreskrim

Baca juga: Kronologi Satpam Jatiluhur Ditemukan Tewas Terborgol di Waduk, Polisi Periksa 15 Saksi

Dedi menegaskan, peran Pemerintah Provinsi Jawa Barat adalah mendukung penuh aparat kepolisian dalam memberikan rasa aman dan nyaman bagi warga, terutama pada kasus-kasus kriminalitas menonjol yang menyita perhatian publik.

Sebagai bentuk motivasi bagi para penyidik, Gubernur Jabar bahkan mengutarakan niatnya untuk membantu memperbaiki fasilitas infrastruktur kantor kepolisian setempat jika kasus misterius ini berhasil dituntaskan.

"Supporting-nya sederhana, kasus ini harus segera terungkap. Kalau sudah terungkap, saya mau rehab ruangan Serse-nya," tegas KDM.

Jenazah satpam PJT II berada di RSUD Bayu Asih Purwakarta sebelum diberangkatkan untuk menjalani autopsi. Hingga kini, polisi masih menyelidiki penyebab kematian korban dengan memeriksa 12 saksi dan rekaman CCTV.
Jenazah satpam PJT II berada di RSUD Bayu Asih Purwakarta sebelum diberangkatkan untuk menjalani autopsi. Hingga kini, polisi masih menyelidiki penyebab kematian korban dengan memeriksa 12 saksi dan rekaman CCTV. (Tribun Jabar/Deanza Falevi)

Sentil Keamanan PJT II: "Masa di Tanggul Tidak Ada CCTV?"

Tak hanya mendorong kepolisian, Dedi Mulyadi juga menyoroti kelemahan sistem pengamanan di kawasan Waduk Jatiluhur yang dikelola oleh Perum Jasa Tirta (PJT) II.

Menurut KDM, sebagai salah satu Objek Vital Nasional (Obvitnas) strategis—yang berfungsi sebagai pengendali banjir, pembangkit listrik, hingga penyedia air baku—pengawasan di Jatiluhur dinilai sangat minim.

Ia mempertanyakan ketiadaan kamera pengawas (CCTV) di titik-titik krusial seperti area tanggul bendungan.

"Bayangkan perusahaan besar yang menjaga objek vital negara, masa di tanggulnya tidak ada CCTV?"

"Harusnya PJT punya command center yang dipantau 24 jam. Semua titik harus dipantau sehingga setiap pergerakan orang bisa terdeteksi," cetus Dedi.

Dedi meminta manajemen PJT II segera melakukan evaluasi total dan membangun sistem pengawasan terpadu demi mengantisipasi potensi ancaman keamanan yang lebih besar.

"Ini penting agar kawasan Jatiluhur terbebas dari berbagai ancaman. Bayangin loh, kalau di situ ada orang bawa mobil terus bawa bahan peledak lalu ditinggalkan di sana?" tandasnya.

Kasus Kematian Satpam Terborgol

Kasus ini menyita perhatian publik setelah jasad Sumarna (42) ditemukan mengambang di perairan Waduk Jatiluhur pada Jumat (24/7/2026).

Saat dievakuasi, korban masih mengenakan seragam dinas satpam lengkap dengan kondisi kedua tangan terikat borgol.

Hingga kini, Satreskrim Polres Purwakarta masih terus mengumpulkan alat bukti, menguji hasil autopsi, dan mendalami keterangan belasan saksi untuk mengungkap penyebab pasti serta dalang di balik kematian korban. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.