Laporan Wartawan TribunJatim.com, Nur Ika Anisa
TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Kesadaran masyarakat terhadap pentingnya vaksinasi demam berdarah dengue (DBD) mulai menunjukkan tren positif.
Semakin banyak orang tua memahami bahwa DBD bukan penyakit yang bisa dianggap sepele dan pencegahannya tidak cukup hanya dengan menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga melalui vaksinasi sesuai rekomendasi tenaga medis.
Peningkatan pemahaman tersebut terlihat dalam rangkaian peringatan Hari Anak Nasional di Atrium Tunjungan Plaza, Surabaya. Antusiasme para orang tua mengikuti sesi edukasi kesehatan menunjukkan bahwa informasi mengenai pencegahan DBD melalui vaksinasi semakin diterima masyarakat.
Dokter spesialis anak RSIA Kendangsari Surabaya, dr. Adelia Lavenialita, mengatakan edukasi yang terus dilakukan mulai mengubah pandangan masyarakat mengenai penanganan demam berdarah.
"Setelah memberikan edukasi mengenai vaksinasi demam berdarah, banyak orang tua yang memberikan apresiasi. Awareness masyarakat juga semakin tinggi. Stigma bahwa demam berdarah bisa diobati sendiri mulai berubah," ungkap dr. Adelia kepada Tribun Jatim Network saat ditemui di acara Hari Anak Nasional di Tunjungan Plaza Surabaya, Minggu (26/7/2026).
Baca juga: Peringati Hari Anak Nasional, RSIA Kendangsari Edukasi Vaksin DBD Lewat Petualangan Anak Hebat
Dr. Adelia meluruskan anggapan bahwa DBD hanya muncul saat musim hujan. Menurutnya, Indonesia yang beriklim tropis tetap memiliki risiko penularan sepanjang tahun karena nyamuk Aedes aegypti dapat berkembang biak selama masih terdapat genangan air.
"Karena kita berada di daerah tropis, nyamuk Aedes aegypti masih bisa berkembang biak selama ada genangan air. Jadi, penularan tetap dapat terjadi meski bukan musim hujan," jelasnya.
Ia menjelaskan, gejala DBD umumnya muncul selama dua hingga tujuh hari berupa demam tinggi mencapai 39–40 derajat Celsius, sakit kepala, nyeri di belakang mata, ruam atau bintik merah pada kulit, mual, muntah, hingga tanda bahaya berupa perdarahan.
Selain itu, infeksi virus dengue juga dapat menyebabkan kebocoran plasma yang mengakibatkan penumpukan cairan pada organ, termasuk paru-paru. Kondisi tersebut memerlukan penanganan medis secepat mungkin.
Berdasarkan data kasus, kelompok usia yang paling rentan mengalami DBD adalah anak usia sekolah, khususnya pada rentang usia 5–14 tahun.
Sementara itu, vaksin dengue direkomendasikan bagi kelompok usia 4–60 tahun sesuai indikasi medis dan rekomendasi dokter.
Dr. Adelia menegaskan hingga kini belum tersedia obat yang secara spesifik dapat mencegah maupun menyembuhkan DBD. Karena itu, upaya pencegahan menjadi langkah paling efektif untuk menekan angka kesakitan dan komplikasi akibat infeksi virus dengue.
Selain menerapkan gerakan 3M Plus—menguras tempat penampungan air, menutup rapat wadah air, mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi tempat berkembang biak nyamuk, serta berbagai upaya pencegahan lainnya—vaksinasi juga menjadi bagian penting dalam perlindungan terhadap DBD.
Menurut dr. Adelia, vaksin dengue bukan berfungsi sebagai obat, melainkan membantu meningkatkan sistem kekebalan tubuh sehingga dapat mengurangi risiko terinfeksi sekaligus menurunkan tingkat keparahan penyakit apabila seseorang tetap terpapar virus dengue.
Ia juga mengingatkan bahwa seseorang yang pernah mengalami DBD justru memiliki risiko mengalami gejala yang lebih berat apabila kembali terinfeksi serotipe virus dengue yang berbeda.
"Kalau sudah pernah terkena demam berdarah, vaksin tetap boleh diberikan, tetapi menunggu sekitar tiga sampai enam bulan setelah sembuh," katanya.
Dr. Adelia menyebut vaksin dengue telah direkomendasikan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) sejak 2024. Rekomendasi serupa juga diberikan oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI).
Ia mengungkapkan, berdasarkan data yang dipaparkan, apabila terdapat satu anggota keluarga yang terinfeksi DBD, risiko penularan kepada anggota keluarga lain dapat mencapai sekitar 75 persen. Bahkan, jumlah infeksi tanpa gejala diperkirakan lebih tinggi dibandingkan kasus yang bergejala.
Selain melindungi individu, vaksinasi dengue juga dinilai memberikan manfaat bagi dunia usaha. Program vaksinasi bagi karyawan dapat membantu menekan biaya kesehatan, mengurangi risiko penularan di lingkungan kerja, sekaligus menjaga produktivitas tenaga kerja.
"Mari tingkatkan kesadaran untuk melindungi diri dan keluarga dari demam berdarah dengan vaksinasi sesuai anjuran dokter," pungkasnya.