TRIBUNJATIM.COM - Misteri kematian Sumarna (40), petugas satuan pengamanan (satpam) di kawasan objek vital Waduk Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, masih didalami aparat kepolisian.
Korban ditemukan meninggal dunia dalam kondisi mengambang di perairan Tanggul Kayat dengan kedua tangan terborgol ke belakang pada Jumat (24/7/2026).
Hingga kini, penyebab kematian maupun dugaan adanya tindak pidana belum dapat dipastikan karena penyidik masih menunggu hasil lengkap autopsi.
Baca juga: Tangis Anak saat Pemakaman Ayah yang Tewas Dikeroyok Warga Diduga Curi Ayam, Kades Pilu
Peristiwa itu bermula ketika Sumarna menjalankan tugas piket malam di kawasan Waduk Jatiluhur.
Korban yang saat itu masih mengenakan seragam dinas diketahui sempat bertugas seperti biasa sebelum akhirnya kehilangan kontak dengan rekan-rekannya.
Sekitar pukul 03.00 WIB, Sumarna tidak lagi dapat dihubungi.
Rekan kerja yang merasa curiga kemudian melaporkan kondisi tersebut kepada kepala satuan pengamanan dan bersama-sama melakukan pencarian di sejumlah titik di kawasan waduk.
Pencarian berlangsung hingga Jumat pagi karena keberadaan korban belum diketahui.
Menjelang siang, tubuh Sumarna akhirnya ditemukan mengambang di perairan kawasan Tanggul Kayat.
Korban pertama kali ditemukan oleh petugas keamanan yang kemudian melaporkan kejadian itu kepada warga sekitar dan aparat kepolisian.
Saat dievakuasi, korban berada dalam posisi telungkup, masih mengenakan seragam satpam, serta kedua tangannya terborgol ke belakang.
Kasat Reskrim Polres Purwakarta AKP I Made Purwantara membenarkan kondisi korban saat ditemukan.
“Benar, saat ditemukan tangan korban dalam kondisi terborgol. Saat ini kami masih melakukan penyelidikan, mengumpulkan barang bukti, serta memeriksa sejumlah saksi untuk mengungkap penyebab pasti kematian korban,” kata Made, Jumat.
Setelah dievakuasi dari lokasi kejadian, jenazah dibawa ke RSUD Bayu Asih Purwakarta untuk pemeriksaan awal.
Selanjutnya, pada Jumat sekitar pukul 18.00 WIB, jenazah dirujuk ke Rumah Sakit Sartika Asih Bandung guna menjalani autopsi sebelum akhirnya diserahkan kepada pihak keluarga untuk dimakamkan.
Di sisi lain, penyidik turut menelusuri berbagai informasi mengenai aktivitas terakhir korban sebelum dinyatakan hilang kontak.
Salah satu informasi yang didalami berkaitan dengan dugaan bahwa Sumarna sempat menegur sekelompok orang yang melakukan aksi vandalisme di kawasan Waduk Jatiluhur.
Seorang warga bernama Warta mengatakan, Sumarna dikenal aktif menjaga kawasan tersebut dari tindakan perusakan fasilitas umum.
“Kabarnya dia melarang orang yang mau corat-coret. Memang itu tugas dia menjaga area waduk. Aksi corat-coret terjadi malam Rabu, lalu selang satu hari diduga kelompok itu datang lagi,” kata Warta, Sabtu (25/7/2026).
Meski demikian, kepolisian menegaskan informasi tersebut masih sebatas bahan penyelidikan dan belum dapat disimpulkan memiliki keterkaitan dengan kematian korban.
Baca juga: Fiktor Satpam Diintimidasi Sopir Alphard Ditawari Dedi Mulyadi Pekerjaan Baru, Dapat Uang Rp10 Juta
Di media sosial juga beredar video yang memperlihatkan aksi vandalisme di kawasan jalan tanggul.
Rekaman itu disebut-sebut sebagai status terakhir milik korban karena memperlihatkan sejumlah coretan di fasilitas umum disertai suara seorang pria yang mengecam aksi tersebut dan meminta lokasi dibersihkan.
Namun, polisi memastikan video yang beredar bukan berasal dari akun media sosial milik Sumarna.
“Itu bukan status korban, melainkan milik rekannya,” kata Made.
Sejauh ini, Polres Purwakarta telah melakukan olah tempat kejadian perkara, mengamankan sejumlah barang bukti, serta memeriksa saksi-saksi untuk mengungkap rangkaian peristiwa yang dialami korban.
Hingga Minggu (26/7/2026), sebanyak 12 orang telah dimintai keterangan, terdiri atas warga sekitar dan rekan kerja korban.
“Kami sudah memeriksa 12 orang saksi, baik dari warga maupun rekan kerja korban. Kasus ini masih dalam tahap penyelidikan dan penyidikan, serta kami terus melakukan pengembangan untuk mengungkap peristiwa tersebut,” kata Made.
Selain itu, telepon genggam milik korban telah diamankan sebagai barang bukti. Penyidik juga menganalisis rekaman kamera pengawas yang berada di kawasan Perum Jasa Tirta II, lokasi korban bertugas.
“HP korban sudah kami amankan. Rekaman CCTV juga sudah kami periksa, namun hingga saat ini masih dilakukan pendalaman,” ujar Made.
Mengenai dugaan keterlibatan kelompok tertentu yang ramai diperbincangkan di media sosial, kepolisian menyatakan belum menemukan bukti yang mengarah ke dugaan tersebut.
“Kami belum bisa memastikan untuk itu. Belum ada bukti pendukung keterkaitan dengan kelompok mana pun,” ujarnya.
Pihak keluarga menilai kondisi korban saat ditemukan menimbulkan banyak pertanyaan, terutama karena kedua tangan Sumarna dalam keadaan terborgol ke belakang.
Paman korban, Ocid, berharap proses hukum dapat mengungkap penyebab kematian Sumarna secara menyeluruh.
“Saya dapat info pas mau Jumat, bahwa korban terborgol di air. Karena korban meninggal di air dan ada hal yang janggal, posisinya tangan terborgol ke belakang. Tolong usut tuntas sesuai jalur hukum,” ujar Ocid.
Keluarga juga telah memberikan persetujuan kepada penyidik untuk melakukan autopsi guna mengetahui penyebab pasti kematian korban.
“Saya selaku paman korban, tadi sudah menghubungi kakak korban dan adik korban, kemudian istri korban sudah menyetujui proses autopsi. Agar bisa diketahui penyebab kematiannya, karena sampai saat ini kami tidak mengetahui apa penyebabnya,” katanya.
Baca juga: Batal Bela Febrie Adriansyah, Hotman Paris Utus Felicia Bantu Anak Terduga Pencuri Ayam di Bali
Kabid Humas Polda Jawa Barat Kombes Hendra Rochmawan mengatakan penyelidikan masih terus berjalan dengan mengedepankan pemeriksaan ilmiah dan pengumpulan alat bukti.
“Benar, peristiwa tersebut sedang ditangani oleh Polres Purwakarta. Penyidik masih melakukan serangkaian penyelidikan dengan memeriksa saksi-saksi, mengumpulkan barang bukti, menganalisis rekaman CCTV, serta menunggu hasil otopsi,” kata Hendra.
Ia juga mengimbau masyarakat agar tidak terburu-buru menarik kesimpulan mengenai penyebab kematian korban maupun pihak yang diduga terlibat sebelum seluruh proses penyelidikan rampung.
“Kami mengimbau masyarakat untuk tidak berspekulasi dan memberikan kepercayaan kepada penyidik untuk mengungkap fakta yang sebenarnya,” ujar Hendra.
Hingga kini, kepolisian belum menetapkan kesimpulan mengenai penyebab kematian Sumarna. Penyidik masih menunggu hasil autopsi dan pendalaman seluruh barang bukti untuk memastikan apakah terdapat unsur tindak pidana dalam kasus tersebut.