TRIBUNMATARAMAN.COM, BLITAR – Berawal dari hobi mengoleksi helm lawas, Arik Agung Prasetyo Budi (35), warga Desa Kalipucung, Kecamatan Sanankulon, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, berhasil mengubah kegemarannya menjadi peluang bisnis yang menguntungkan.
Pria yang merupakan ayah dua anak ini kini fokus menjalankan usaha restorasi helm jadul. Helm bekas yang semula dibeli dengan harga puluhan ribu rupiah disulap menjadi produk bernilai jual tinggi dan dipasarkan hingga berbagai daerah di Indonesia.
Arik mengaku mulai merintis usaha restorasi helm jadul sejak 2016. Awalnya, ia hanya mencoba menjual beberapa helm koleksi pribadinya melalui media sosial.
Tak disangka, helm tersebut langsung laku dibeli kolektor.
"Dulu jual helm milik pribadi, saya posting di medsos laku. Saya mulai berpikir usaha helm jadul ini ada pasarnya," kata Arik saat ditemui di rumahnya yang juga difungsikan sebagai showroom helm jadul, Senin (27/7/2026).
Baca juga: Kondisi Terkini Bayi yang Dibuang di Trenggalek Dirawat Intensif di RSUD dr Soedomo Berat Badan 3 Kg
Rumah orang tuanya kini menjadi tempat restorasi sekaligus showroom. Ratusan helm lawas berbagai merek dan model tertata rapi di rak ruang tamu. Sebagian lainnya memenuhi meja, sementara ruang tengah digunakan sebagai tempat memperbaiki dan mempercantik helm sebelum dipasarkan.
"Di belakang juga masih ada koleksi helm jadul. Selain untuk koleksi, helm itu juga saya jual," ujarnya.
Tinggalkan Pekerjaan Serabutan demi Fokus Bisnis Helm Jadul
Sebelum serius menekuni usaha restorasi helm, Arik bekerja serabutan sebagai tukang bangunan sekaligus fotografer acara pernikahan.
Namun, meningkatnya permintaan membuatnya mantap meninggalkan pekerjaan lama dan fokus mengembangkan bisnis helm jadul sejak 2018.
"Saya mulai fokus usaha ini pada 2018. Setelah pelanggan mulai ramai, saya melepas pekerjaan sebelumnya," katanya.
Beli Helm Bekas Rp 75 Ribu, Dijual Hingga Rp 300 Ribu
Dalam menjalankan usahanya, Arik memperoleh helm bekas dari komunitas pecinta barang lawas maupun pengepul barang loak.
Helm yang dibelinya dengan harga sekitar Rp 75.000 kemudian direstorasi, mulai dari pengecatan, perbaikan bagian yang rusak, hingga penambahan aksesori agar tampil lebih menarik.
Menurutnya, helm jadul dengan cat dan stiker orisinal memiliki nilai jual lebih tinggi, terutama jenis helm chips yang banyak diburu kolektor.
"Saya beli bahan helm jadul kisaran Rp 75.000 per biji. Saya restorasi lagi. Harga jualnya bisa mulai Rp 150.000 sampai Rp 300.000 per biji. Tergantung jenis dan kondisinya," jelas Arik.
Untuk helm chips yang masih dalam kondisi sangat baik, harga jualnya bahkan bisa mencapai Rp 350.000 per unit.
Pelanggan Datang dari Jakarta hingga Bali
Strategi pemasaran Arik dilakukan secara daring melalui berbagai grup media sosial komunitas pecinta sepeda motor dan barang antik.
Cara tersebut terbukti efektif. Sebagian besar pelanggannya justru berasal dari luar Jawa Timur, seperti Jakarta, Jawa Barat, hingga Bali.
"Di wilayah itu banyak komunitas motornya. Dalam sebulan, rata-rata saya bisa menjual sekitar 30 unit helm," katanya.
Kini Arik juga tidak lagi kesulitan mendapatkan bahan baku karena telah memiliki jaringan pengepul yang rutin memasok helm lawas untuk direstorasi.
Selain itu, ia aktif bergabung dalam komunitas pecinta barang jadul sehingga semakin mudah memperoleh helm-helm unik yang memiliki nilai koleksi.
"Saya juga masuk ke komunitas penggemar barang jadul. Dari situ, biasanya saya dapat bahan untuk direstorasi dan dijual kembali," ujarnya.
Bagi Arik, bisnis restorasi helm jadul bukan sekadar memperbaiki barang bekas, tetapi juga membutuhkan kreativitas agar setiap helm memiliki karakter dan nilai jual yang lebih tinggi.
Dengan sentuhan restorasi, helm yang semula dianggap barang usang kini berubah menjadi incaran para kolektor dan pecinta motor klasik dari berbagai daerah.
(Tribunmataraman.com)