Suhu Kota Batu Tembus 11°C, Dinkes Ingatkan Bahaya Fenomena Bediding: Waspada Alergi Kulit dan ISPA
Sudarma Adi July 27, 2026 06:14 PM

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Dya Ayu

TRIBUNJATIM.COM, BATU – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Jawa Timur mencatat Kota Batu sebagai daerah dengan suhu udara terdingin di wilayah Jawa Timur.

Pada Minggu (26/7/2026), suhu udara di kawasan Sumberbrantas, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, anjlok hingga menyentuh angka 11 derajat Celsius dengan tingkat kelembapan udara berada di kisaran 49 hingga 99 persen.

Fenomena penurunan suhu ekstrem yang rutin terjadi pada pertengahan tahun ini kerap disapa warga lokal sebagai musim bediding. Kondisi ini diprediksi masih akan menyelimuti kawasan dataran tinggi Kota Batu hingga bulan Agustus mendatang.

Namun, di balik keindahan dan kesegaran udaranya, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batu mewanti-wanti masyarakat akan potensi gangguan kesehatan yang intai kelompok rentan.

Dinkes Kota Batu: Suhu di Bawah 17°C Pemicu Reaksi Alergi dan Asma

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kota Batu, dr. Icang Sarrazin, menjelaskan bahwa penurunan suhu udara hingga di bawah 17 derajat Celsius dapat menjadi pemicu utama munculnya berbagai masalah kesehatan, khususnya bagi anak-anak, lansia, dan penderita penyakit kronis.

Baca juga: Dugaan Penyimpangan Dana Hibah KONI Kota Batu Mencuat, Kejari Temukan Indikasi SPJ Ganda Porprov

"Suhu di bawah 17 derajat Celsius menjadi pemicu timbulnya penyakit alergi. Salah satu yang paling sering muncul adalah urtikaria atau alergi kulit dingin yang ditandai dengan kulit tiba-tiba bentol-bentol dan terasa gatal," kata dr. Icang Sarrazin, Senin (27/7/2026).

Selain masalah kulit, dr. Icang juga menyoroti bahaya kambuhnya penyakit saluran pernapasan kronis seperti Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK), asma, bronkitis kronis, hingga emfisema. Udara dingin menyebabkan saluran pernapasan menjadi jauh lebih sensitif dari biasanya.

"Penurunan suhu membuat saluran pernapasan menguncup dan sensitif. Penderita asma atau PPOK akan jauh lebih mudah mengalami sesak napas serta batuk berkepanjangan," jelasnya.

Mewaspadai Risiko ISPA di Tengah Udara Kering

"Keadaan udara yang dingin disertai kelembapan yang kering menjadi pemicu utama meningkatnya keluhan batuk, pilek, dan gangguan tenggorokan di masyarakat," tambah dr. Icang.

Guna mengantisipasi dampak buruk fenomena bediding ini, Dinkes Kota Batu mengimbau warga maupun wisatawan untuk menerapkan beberapa langkah antisipasi sederhana:

  • Gunakan Pakaian Hangat: Selalu kenakan jaket, sweter, atau syal saat beraktivitas di luar ruangan, terutama pada jam-jam rawan dingin (pagi subuh dan malam hari).
  • Cukupi Cairan Tubuh: Banyak mengonsumsi air hangat agar tubuh terhidrasi dengan baik di tengah udara kering.
  • Konsumsi Nutrisi Seimbang: Menjaga daya tahan tubuh dengan asupan makanan bergizi dan vitamin.
  • Segera Berobat: Jika mengalami gejala sesak napas, batuk tidak kunjung sembuh, atau reaksi alergi berat, segera periksakan diri ke puskesmas atau fasilitas kesehatan terdekat.
© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.