Laporan Reporter SURYAMALANG.COM/Benni Indo/Luluul Isnainiyah/Dya Ayu
SURYAMALANG.COM, MALANG RAYA - Matahari terbenam dan panorama pegunungan selalu punya cara untuk melepas penat dari bisingnya perkotaan.
Di kawasan Malang Raya dan Kota Batu, tradisi "nyore" atau menikmati senja sambil menggelar tikar lesehan dan menyeruput kopi murah meriah kini kian digandrungi.
Berikut adalah tiga spot ngopi senja berlatar gunung dan sawah terasering yang patut dikunjungi.
Berjarak sekitar 10 km dari Stasiun Malang, jalan tanpa nama yang menghubungkan Morotanjek dan Ngatik di Kecamatan Singosari menyuguhkan panorama alam yang spektakuler.
Pengunjung disuguhi terasering sawah hijau dengan latar Gunung Arjuno di sisi utara dan Puncak Mahameru (Gunung Semeru) di sisi selatan.
Suasana semakin ramai menjelang sore mulai pukul 15.00 WIB. Banyak anak muda hingga wisatawan dari Pasuruan, Kota Batu, dan Kota Malang berkumpul beralaskan karpet di pinggir jalan selebar 4 meter tersebut.
Salah satu pedagang kopi yang berjualan di atas Vespa PX tahun 1978, Suprayitno atau akrab disapa Bokir, bercerita bahwa ia telah tiga tahun berjualan di sana dari pukul 15.00 hingga 20.00 WIB.
Baca juga: Dugaan SPJ Ganda Porprov Jatim 2025 di Batu Mencuat di Tengah Penyelidikan Dana Hibah KONI
Dengan harga dagangan mulai dari Rp5.000 untuk kopi saset hingga Rp6.000 untuk mi kuah kemasan, ia bisa menggaet 50 hingga 100 pengunjung per hari saat akhir pekan.
“Saya buka setiap pukul 15:00 WIB hingga 20:00 WIB. Saya jualan kopi saset, lalu ada mi kuah kemasan dan kacang goreng, yang datang ke sini sering pesan kopi” katanya kepada SURYAMALANG.COM, Minggu (26/7/2026).
Tantangan utama di tempat ini adalah saat musim hujan, di mana Bokir terpaksa libur berjualan.
“Jadi terpaksa libur kalau hujan. Saya pernah datang ke sini, lalu tiba-tiba hujan, ya akhirnya tidak jadi jualan,” terangnya.
Seorang pengunjung asal Kota Malang, Agus Prasetyo, mengaku sering datang sejak pukul 15.00 WIB untuk melepas penat dari riuhnya kota.
“Kota sudah terlalu sempit. Menikmati pemandangan senja untuk sedikit keluar dari beban hidup” katanya.
Agus pun berharap kawasan persawahan ini tetap lestari tanpa tergerus bangunan.
“Kalau ada pembangunan, bisa merusak pemandangan. Biarkan alami seperti ini,” terangnya.
Dahulu dikenal sebagai lokasi balap liar, jalanan sawah di Dusun Krajan, Desa Mangunrejo, Kepanjen kini bertransformasi menjadi spot nyore favorit anak muda hingga keluarga sejak 2021.
Lokasinya tepat berada di belakang Stadion Kanjuruhan dan dapat diakses dari perempatan Yon Zipur 5 ke selatan atau perempatan Desa Kedungpedaringan.
Kawasan ini menyuguhkan pemandangan sunset berlatar Gunung Kawi di utara dan Gunung Semeru di timur.
Buka mulai pukul 16.00 hingga 19.00 WIB, pengunjung bisa menikmati senja dengan duduk lesehan atau menggunakan kursi lipat yang disediakan pedagang.
Angga Kusuma (23), pengunjung asal Pakisaji, mengetahui tempat ini dari FYP TikTok dan datang untuk mencari ketenangan bersama temannya sembari menikmati es cokelat.
"Ya biasanya memang ke sini pas sore-sore gitu. Enak aja suasananya, adem karena anginnya. Terus kalau pas nggak mendung bisa lihat sunset di sini. Ya cukup bikin tenang aja di sini" kata Angga, Minggu (26/7/2026).
Baca juga: Pesona Bromo Benjor Pine, Hidden Gem di Tumpang Malang Cuma Rp10 Ribu: Tracking Seru Coban Srikandi
Penjual kopi keliling bermotor matic, Su'ud, mengungkapkan perubahan fungsi lokasi ini terjadi setelah adanya penertiban dari kepolisian.
"Iya, dulu sini ramenya itu karena buat balapan. Tapi ya sama pihak kepolisian sering ada razia, akhirnya sekarang berubah jadi tempat nongkrong anak-anak muda," imbuh Su'ud.
Tempat ini biasanya melayani pengunjung yang datang dari Kepanjen, Blitar, Kota Malang, hingga Pasuruan sebelum tutup menjelang malam karena ketiadaan lampu penerangan.
"Ya mungkin paling malem sampe jam 7 ya. Soalnya sini gelap nggak ada lampu sama sekali. Terus pemandangan juga udah nggak kelihatan," tutur warga Desa Gampingan, Kecamatan Pagak, Kabupaten Malang tersebut.
Bagi yang ingin menghindari polusi tengah kota, Puthuk Tritih di Jalan Indragiri, Desa Sumberejo, Kecamatan Batu adalah opsi terbaik. Kawasan ini dikelilingi oleh tiga gunung sekaligus, yaitu Gunung Arjuno, Gunung Panderman, dan Gunung Banyak.
Sore hari menjadi waktu terbaik karena puluhan pedagang kuliner berjejer dari pukul 16.00 hingga 21.00 WIB.
Pengunjung tak hanya bisa nongkrong dan berfoto, tetapi juga jogging atau jalan-jalan sore. Kuliner yang dijajakan sangat bervariasi, mulai dari kopi, sempol, pentol, telur gulung, pukis, bakso, hingga mi hangat.
Dena Novarina, pengunjung asal Singosari, mengaku menemukan tempat ini lewat Instagram dan merasa puas setelah mencobanya langsung.
Baca juga: 3 Spot Lari yang Lagi Hits di Malang Raya: Ekstremnya Gunung Batu hingga Kulineran di Kanjuruhan
“Sebenarnya pengen jalan-jalan kemudian dikasih tahu temen lewat Instagram tempat ngopi dipinggir jalan yang bisa buat nyore, kebetulan saya anak senja dan pas banget datang ke sini,” kata Dena Novarina, Minggu (26/7/2026).
“So far tempatnya bagus. Lalu kendaraanya juga tidak terlalu banyak jadi juga tidak terlalu mengganggu, dan yang terpenting itu viewnya" bebernya.
"Kalau di Malang kita tidak akan pernah dapat pemandangan seperti ini. Ada gunung dan persawahan. Jadi tempat ini bagus untuk yang bosan ngopi di tengah kota di sini rekomendasi banget,” jelasnya.
Seorang pedagang setempat, Suryati, membeberkan harga minuman dijual sangat terjangkau berkisar Rp5.000 hingga Rp6.000, serta mi cup seharga Rp8.000.
“Setiap harinya ramai. Dulu kami jualan pagi dan sore tapi sekarang sore saja,” ujar Suryati.
Akses menuju Puthuk Tritih sangat mudah, yakni hanya berjarak sekitar 5 menit dari Jalan Panglima Sudirman melalui Jalan Lesti, atau bisa juga diakses dari arah Cangar melalui Jalan Terusan Metro menuju Jalan Indragiri.