Bale-bale tak sekadar tempat untuk meluruskan kaki atau menyandarkan punggung, ia adalah manifestasi dari kehangatan, kebersamaan, dan ketahanan zaman. Ada sejarah panjang yang melingkupinya.
---
Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini
---
Intisari-Online.com -Sejarah Indonesia mencatat, kekuasaanBelanda di Indonesia secara resmi berakhir pada 8 Maret 1942 yang ditandai dengan penandatanganan Kapitulasi Kalijati. Ketika itu, Belanda menyerah tanpa syarat kepada tentara pendudukan Jepang.
Masa kolonial Hindia Belanda tidak hanya meninggalkan luka politik, tetapi juga melahirkan akulturasi gaya arsitektur dan interior yang sangat khas yang kita kenal sebagai Gaya Indis (Indische Empire Stijl) yang dalam perjalanannya berkembang menjadi Art Deco Tropis.
Ketika Belanda datang, mereka awalnya mencoba membangun gedung persis seperti di Eropa (tertutup dan sempit). Namun, karena iklim Indonesia yang panas dan lembab, mereka terpaksa beradaptasi dengan menggabungkan teknik Eropa dan kearifan lokal Nusantara.
Salah satu pengaruh Hindia Belanda yang masih bisa kita saksikan hingga saat ini adalah tempat duduk ala "Jawa" yang kita kenal sebagai bale-bale -- beberapa menyebutnya risban atau lincak kayu jati. Bale-bale adalah furnitur tradisional khas Jawa yang kaya akan nilai sejarah dan estetika.
Bale-bale, di bawah naungan atap pendapa kayu yang teduh, hadir sebuah bangku panjang berbahan kayu jati solid. Permukaannya yang halus memancarkan patina warna cokelat-keemasan khas kayu berusia tua.
Bagi masyarakat tradisional Jawa, furnitur ikonik ini bukan sekadar tempat untuk meluruskan kaki atau menyandarkan punggung. Ia adalah manifestasi filosofi kehangatan, kebersamaan, dan ketahanan zaman.
MenurutIr. Alex Pm, arsitek senior yang tinggal di Yogyakarta, dalam budaya hunian Jawa tradisional (seperti pada rumah Joglo atau Limasan), bale-bale diletakkan di area teras (emperan) atau pendopo. Ia berfungsi sebagai tempat bersantai, berkumpul dengan keluarga, menerima tamu secara informal, hingga tempat selonjoran atau tidur siang.
Desain bale-bale kayu jati seperti ini berkembang pesat pada era kolonial (abad ke-19 hingga awal abad ke-20). Ada perpaduan antara kearifan furnitur lokal Jawa dengan teknik pembuatan dan struktur ketahanan furnitur bergaya Indische/Belanda yang mengutamakan kekokohan dan ketahanan jangka panjang.
Jika diperhatikan detail desainnya, ada motif silang (X-Bracing). Sandaran terbagi menjadi beberapa panel bingkai dengan palangan kayu berbentuk "X". Pola ini selain memberikan nilai visual yang simetris, juga berfungsi memberikan penguatan struktur pada sandaran.
Di titik pusat persilangan tiap panel terdapat ukiran ceplok atau roset bunga sederhana yang menjadi aksen penyeimbang antara kesan maskulin kayu tebal dan kelembutan seni ukir Jawa.
Bale-bale bisanya memiliki lekukan melengkung membulat (curved armrest) di ujung depan. Bentuk ergonomis ini khas gaya furnitur Jawa klasik/kolonial yang memberikan kenyamanan saat menyandarkan tangan atau kepala ketika selonjoran.
Formasi dudukan menggunakan papan kayu jati tebal yang disambung rapi mampu menampung 3–4 orang dewasa sekaligus atau digunakan untuk berbaring.
Bale-bale awalnya dibuat dari kayu jati tua (solid teak wood) yang terkenal tahan cuaca, rayap, yang semakin lama dipakai justru akan memancarkan karakter warna kayu (patina) yang makin eksotis. Bale-bale ini sangat serasi dipadukan dengan latar belakang dinding kayu gebyok atau bangunan bernuansa rustic dan tradisional.
Saat ini,bale-bale masih banyak dijajakan dan mudah ditemukan di pasaran. Tempat duduk khas ini masih menjadi salah satu komoditas furnitur yang memiliki segmen pasar sangat hidup hingga hari ini.
Jika ingin mencari bale-bale yang antik dan berusia tua, kita bisa pergi ke pasar barang antik atau lawasan. Bagi pecinta nilai historis, risban kayu jati tua asli buatan puluhan tahun lalu yang diproduksi di era 1950 hingga 1980-an dijual oleh pedagang barang antik di pusat-pusat furnitur Jawa seperti Jepara, Solo, Yogyakarta, dan Pasuruan.
Karakteristik kayu tua yang sudah matang membuat harganya relatif tinggi, berkisar antara Rp3,5 juta hingga lebih dari Rp10 juta, tergantung pada tingkat keutuhan kayu dan ukurannya.
Bale-bale ini juga banyak dibuat dan dijual oleh pengrajin mebel reproduksi baru (replika). Karena kepopuleran desainnya, pengrajin mebel Jepara atau di beberapa daerah di Jawa Tengah dan toko furnitur etnik banyak memproduksi ulang (reproduksi) risban model ini menggunakan kayu jati perhutani/olah baru.
Model reproduksi baru ini banyak juga ditawarkan di marketplace e-commerce kesayangan Anda, juga media sosial, dengan kisaran harga yang lebih terjangkau, yaitu sekitar Rp1,5 juta hingga Rp4 juta.
Saat ini, penggunaan bale-bale tidak lagi terbatas pada rumah tradisional beratap Joglo semata. Menurut Alex, tren interior modern seperti konsep Japandi-Etnik, Rustic Industrial, hingga vila/kafe bernuansa tropis kerap menghadirkan risban jati sebagai titik fokus (statement piece).
Kehadiran bale-bale di teras apartemen, ruang tamu kontemporer, maupun area penerima tamu hotel berhasil memantik kehangatan nuansa nostalgia dan karakter lokal di tengah gempuran furnitur pabrikan modern. Bale-bale biasanya memiliki ukuran panjang standar berkisar antara 180 cm hingga lebih dari 200 cm. Semakin panjang dan tebal papan dudukannya, harganya akan semakin mahal. Selain itu Tingkat keutuhan kayu (tidak ada rapuh/makanan rayap) serta keaslian pasak kayu tradisional akan mendongkrak nilainya.