Batu Jadi Kota Terdingin di JatimTembus 11 Derajat Celsius, Waspada Penyakit Akibat Bediding
Wiwit Purwanto July 27, 2026 07:05 PM

 

SURYA.CO.ID BATU - Suhu udara Kota Batu kembali turun hingga mencapai 11 derajat Celsius dan menjadikannya sebagai wilayah dengan udara paling dingin di Jawa Timur. Warga diminta meningkatkan kewaspadaan karena kondisi bediding berpotensi memicu gangguan kesehatan, terutama bagi kelompok rentan.

Fenomena udara dingin yang melanda Kota Batu tidak hanya menghadirkan suasana sejuk khas kawasan pegunungan, tetapi juga membawa risiko kesehatan apabila tidak diantisipasi.

Suhu rendah yang disertai udara kering dapat memengaruhi daya tahan tubuh serta memicu kambuhnya sejumlah penyakit, khususnya gangguan pernapasan dan alergi.

Suhu 11 Derajat Celsius, Warga Batu Diminta Waspada

Berdasarkan catatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Jawa Timur, Kota Batu menjadi daerah dengan suhu terendah di Jawa Timur. Pada Minggu (26/7/2026), suhu di kawasan Sumberbrantas, Kota Batu, tercatat mencapai 11 derajat Celsius dengan tingkat kelembapan antara 49 hingga 99 persen.

Baca juga: Cuaca Surabaya Raya Hari Ini, Senin 27 Juli 2026: Cerah Berawan, Udara Dingin Masih Terasa

Kondisi tersebut berpotensi memicu berbagai gangguan kesehatan akibat udara dingin atau yang dikenal masyarakat sebagai fenomena bediding.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kota Batu, dr. Icang Sarrazin, mengatakan suhu udara di bawah 17 derajat Celsius dapat memicu reaksi tertentu pada tubuh, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta penderita penyakit kronis.

"Suhu dibawah 17 derajat Celsius dapat menjadi pemicu terjadi terutama penyakit-penyakit yang terkait dengan alergi. Seperti gatal-gatal di kulit atau urtikaria. Reaksinya berupa kulit tiba-tiba menjadi bentol-bentol," kata dr. Icang Sarrazin, Senin (27/7/2026).

Selain alergi pada kulit, udara dingin juga dapat menyebabkan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), asma, bronkitis kronis, hingga emfisema kembali kambuh.

Menurut dr. Icang, suhu dingin membuat saluran pernapasan menjadi lebih sensitif sehingga penderita penyakit tersebut lebih mudah mengalami gangguan seperti sesak napas maupun batuk berkepanjangan.

Baca juga: Apa Itu Bediding? Fenomena Udara Dingin Ekstrem yang Menyelimuti Malang Raya di Malam Hari

"Jadi memang penurunan suhu membuat saluran pernapasan menjadi lebih sensitif sehingga penderita penyakit tersebut lebih mudah mengalami sesak maupun batuk berkepanjangan," ujarnya.

Udara Kering Picu Risiko ISPA, Warga Diimbau Jaga Kondisi Tubuh

Selain suhu rendah, kondisi udara yang cenderung kering saat musim bediding juga menjadi perhatian. Debu yang mudah beterbangan dapat meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

"Udara yang kering disertai suhu yang lebih dingin menjadi salah satu faktor yang memicu meningkatnya keluhan batuk dan gangguan saluran pernapasan," jelasnya.

Dinas Kesehatan Kota Batu mengimbau masyarakat menjaga kondisi tubuh dengan mengenakan pakaian hangat, terutama saat beraktivitas di luar ruangan pada pagi dan malam hari ketika suhu udara lebih rendah.

Masyarakat juga diminta memenuhi kebutuhan cairan tubuh, mengonsumsi makanan bergizi, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami keluhan seperti sesak napas, batuk berkepanjangan, atau reaksi alergi yang tidak kunjung membaik.

"Tak kalah penting masyarakat harus memenuhi kebutuhan cairan tubuh, mengonsumsi makanan bergizi, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala seperti sesak napas, batuk berkepanjangan, maupun reaksi alergi yang tidak kunjung membaik," pungkasnya.

Fenomena udara dingin atau bediding diperkirakan masih berlangsung hingga Agustus mendatang. Warga Kota Batu dan wisatawan yang beraktivitas di kawasan dataran tinggi diimbau tetap menjaga kesehatan dan menyesuaikan kondisi tubuh dengan perubahan suhu.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.