TRIBUNNEWS.COM - Pasukan Israel kembali meningkatkan operasi militer di wilayah Tepi Barat yang diduduki dengan menyerbu sedikitnya 20 kota dan desa, sementara serangan para pemukim terhadap warga Palestina dan tempat ibadah dilaporkan semakin meluas.
Al Jazeera melaporkan, operasi militer pada Senin (27/7/2026) mencakup penggerebekan, penghancuran bangunan, penangkapan puluhan warga Palestina, hingga pengerahan buldoser militer di sejumlah wilayah, termasuk Beita di selatan Nablus, Nilin di barat Ramallah, dan Arrabeh di Jenin.
Penggerebekan juga terjadi di Deir al-Ghusun, Balata, Asira al-Shamaliya, Qalqilya, Beit Furik, Kafr Qaddum, Burqa, Tal, Jalbon, Deir Jarir, Anabta, Beit Ummar, Kamp Arroub, serta beberapa kota dan desa lainnya.
Dalam salah satu insiden, Quds News melaporkan tentara Israel menghentikan ambulans yang membawa seorang perempuan hamil dari Qaryut menuju rumah sakit di Nablus.
Akibat tertundanya penanganan medis, perempuan tersebut dilaporkan mengalami keguguran.
Di saat operasi militer berlangsung, kelompok pemukim Israel juga meningkatkan aksi kekerasan terhadap warga Palestina.
Baca juga: Palestina Laporkan Dua Masjid Dibakar Pemukim Israel di Tepi Barat
Middle East Eye melaporkan para pemukim membakar dua masjid di Qusra, Nablus, dan Desa Kur di Tulkarm, serta menyemprotkan slogan-slogan bernada kebencian di dinding bangunan.
Di Desa Qusra, sebagian besar Masjid Al-Rahma hangus terbakar.
Aktivis lokal Abdul-Azim Wadi mengatakan serangan terjadi sekitar pukul 02.30 dini hari dan menjadi bagian dari rangkaian serangan yang telah berulang selama bertahun-tahun terhadap desa tersebut.
Selain membakar masjid, para pemukim juga membakar kendaraan, rumah warga, alat berat di tambang batu Ain Samia dekat Ramallah, menyerang petugas keamanan, serta melempari kendaraan Palestina dengan batu di sejumlah ruas jalan.
Di wilayah timur Yerusalem, kelompok pemukim bersenjata juga dilaporkan menembakkan peluru tajam ke arah komunitas Badui dan membakar rumah serta kendaraan milik warga.
Reporter Al Jazeera, Nida Ibrahim, mengatakan banyak warga Palestina merasa tidak memiliki perlindungan ketika serangan pemukim terjadi.
Menurutnya, pasukan Israel lebih sering melakukan penangkapan terhadap warga Palestina dibanding menghentikan aksi para pemukim.
Ia menyebut kondisi tersebut membuat warga sipil hidup dalam ketakutan karena para pemukim dinilai bertindak dengan perlindungan aparat dan minim pertanggungjawaban hukum.
Presiden Palestina Mahmoud Abbas telah mengirim surat kepada sejumlah pemimpin dunia, Uni Eropa, Liga Arab, dan Dewan Keamanan PBB untuk mendesak langkah internasional menghentikan operasi militer Israel serta kekerasan pemukim.
Pelapor Khusus PBB untuk Wilayah Palestina yang Diduduki, Francesca Albanese, menyebut serangan para pemukim sebagai "pogrom terhadap warga sipil yang tidak berdaya".
Negara-negara Arab seperti Uni Emirat Arab, Yordania, Mesir, Arab Saudi, Qatar, Aljazair, Maroko, Tunisia, Oman, Kuwait, dan Bahrain juga mengeluarkan pernyataan bersama yang mengutuk pembakaran masjid serta meningkatnya kekerasan terhadap warga Palestina.
Liga Arab memperingatkan situasi di Tepi Barat semakin mendekati "titik ledak" dan mendesak komunitas internasional segera mengambil tindakan.
Pemerintah Spanyol turut menyerukan Israel menghentikan perluasan permukiman ilegal dan melindungi warga sipil Palestina dari serangan para pemukim.
Surat kabar Haaretz mengutip pejabat militer Israel yang menggambarkan kondisi keamanan di Tepi Barat sebagai "sangat berbahaya dan tidak stabil".
Baca juga: Tentara Zionis Israel Terus Berulah: Lukai Warga Palestina, Bongkar 10 Rumah di Tepi Barat
Editorial Haaretz menyebut sejumlah perwira militer memperingatkan bahwa pemerintah Israel dinilai memberikan ruang bagi meningkatnya kekerasan pemukim.
Menurut data Komisi Perlawanan Tembok dan Permukiman Palestina, lebih dari 11.000 serangan yang melibatkan tentara Israel maupun pemukim tercatat terjadi di Tepi Barat selama paruh pertama 2026.
Saat ini sekitar 750.000 pemukim Israel tinggal di 141 permukiman dan 224 pos terdepan di wilayah Tepi Barat yang diduduki, di tengah meningkatnya ketegangan dan kekerasan terhadap warga Palestina.
(Tribunnews.com)