- Amerika Serikat (AS) diklaim terlanjur terjebak perang lima bulan dengan Iran.
Bahkan, pihak Teheran menegaskan bahwa Donald Trump tak berhak menentukan antara waktu perang juga perdamaian.
Mengutip Tasnim pada (27/7), hal ini merupakan pernyataan dari Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baqaei selama konferensi pers mingguan di Teheran pada hari Senin.
Dia secara tegas menyatakan bahwa Amerika Serikat tidak akan diizinkan untuk menentukan waktu dimulainya perang maupun perdamaian.
Baqaei menyampaikan penegasan tersebut dalam konferensi pers mingguan di Teheran merespons inisiatif negosiasi dari Pakistan dan Qatar.
Baqaei menyoroti kegagalan total agresi militer Amerika Serikat yang sejatinya bertujuan untuk memaksa bangsa Iran menyerah tanpa syarat.
Alih-alih mencapai tujuannya, pasukan AS dan rezim Zionis justru terperangkap dalam rawa pertempuran yang berkepanjangan selama lima bulan terakhir.
“Saya tidak tahu bagaimana menurut Anda mereka akan mengelola perang ini, perang yang seharusnya memaksa Iran untuk menyerah, tetapi mereka telah terjebak dalam rawa selama 5 bulan,” katanya.
Pihak Teheran menilai Washington kini kesulitan keluar dari situasi krisis dan jebakan konflik yang mereka ciptakan sendiri di kawasan.
Pemerintah Iran menegaskan bahwa setiap keputusan strategis negara akan selalu berlandaskan pada perlindungan keamanan dan kepentingan nasional.
“Yang mendasar bagi kami adalah kepentingan nasional. Memutuskan masalah suatu negara bukanlah persamaan dengan beberapa hal yang tidak diketahui. Yang menentukan bagi kami adalah keamanan dan kepentingan nasional (Iran), dan keputusan mengenainya dibuat dalam proses tertentu.”
Proses pengambilan keputusan di Teheran dipastikan tidak akan terpengaruh oleh tekanan, klaim sepihak, maupun dikte dari pihak luar.
“Kami tidak akan membiarkan AS menentukan waktu perang dan damai, dan kami akan membela diri selama diperlukan.”
Iran berkomitmen penuh untuk terus mempertahankan kedaulatan wilayahnya selama ancaman dan agresi militer asing masih berlangsung.
Perlu diketahui saja, konflik ini bermula ketika Amerika Serikat dan rezim Israel melancarkan perang agresi ilegal terhadap wilayah Iran pada (28/2) lalu.
Akibat perlawanan gigih serta balasan mematikan dari militer Iran, pihak musuh terpaksa menerima gencatan senjata pada (8/4).
Upaya diplomasinya sempat berlanjut melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) mediasi Pakistan untuk mengakhiri permusuhan pada (17/6).
Namun, pihak Washington justru mengingkari dan melanggar seluruh poin kesepakatan MoU yang telah disetujui bersama tersebut.
Pelanggaran kesepakatan oleh AS ini memicu tanggapan tegas dari Iran yang menolak memberikan kendali perang maupun perdamaian kepada pemerintah Trump.