Akademisi Unand Soroti Mundurnya Gubernur BI Perry Warjiyo, Kepercayaan Investor Jadi Taruhan
Rezi Azwar July 27, 2026 08:46 PM

TRIBUNPADANG.COM, PADANG – Mundurnya Perry Warjiyo dari jabatan Gubernur Bank Indonesia (BI) di tengah pelemahan nilai tukar rupiah yang nyaris menyentuh Rp18 ribu per dolar AS dinilai menjadi sinyal yang dapat memengaruhi kepercayaan investor terhadap Indonesia.

Akademisi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Andalas (Unand), Prof Dr Harif Amali Rivai, mengatakan pengunduran diri Perry memang tidak serta-merta mengubah arah kebijakan Bank Indonesia karena lembaga tersebut menerapkan sistem Dewan Gubernur.

"Bank Indonesia menggunakan sistem Dewan Gubernur. Jadi keputusan di BI tidak ditentukan oleh satu orang saja, tetapi merupakan keputusan bersama dewan gubernur dan deputi gubernur senior," kata Harif kepada TribunPadang.com, Senin (27/7/2026).

Menurutnya, kebijakan moneter, stabilitas sistem keuangan, sistem pembayaran hingga pengelolaan cadangan devisa telah dirancang secara kelembagaan, sehingga gubernur baru akan melanjutkan desain kebijakan yang sudah berjalan.

Baca juga: Pameran Foto Prahara Pulau Emas Digelar di Istano Basa Pagaruyung, Tampilkan 68 Karya Bencana

"Ini bukan kebijakan perseorangan. Kalaupun nanti ada perubahan kebijakan, tentu ada proses dan tidak dilakukan secara tiba-tiba," ujarnya.

Meski demikian, Harif menilai pengunduran diri Perry tetap akan memunculkan pertanyaan di kalangan investor, terutama dalam jangka pendek.

"Investor akan bertanya, ada apa sehingga Gubernur Bank Sentral yang memiliki peran sangat penting sampai mengundurkan diri. Ini menjadi sinyal yang bisa menggoyang kepercayaan investor dalam jangka pendek," katanya.

Ia menambahkan, pelemahan rupiah sebenarnya sudah terjadi sebelum adanya pergantian pucuk pimpinan BI.

"Tanpa ada pergantian pun nilai tukar rupiah memang berada dalam tren melemah. Ini dipengaruhi kondisi fundamental ekonomi kita," ujarnya.

Harif menilai dampak langsung terhadap stabilitas moneter maupun sistem keuangan belum akan terasa dalam waktu dekat. 

Namun, pasar akan mencermati arah kebijakan yang diambil pimpinan baru BI.

Baca juga: Catat Tanggalnya! Tarif Trans Padang Cuma Rp1 Khusus 7 Agustus 2026

Penggantian Gubernur BI Belum Tentu Perkuat Rupiah

Harif juga menegaskan bahwa pergantian Gubernur BI bukan solusi instan untuk memperkuat nilai tukar rupiah.

Menurutnya, penguatan rupiah membutuhkan proses panjang dan dipengaruhi banyak faktor, bukan sekadar intervensi sesaat.

"Menjaga stabilitas nilai tukar itu tidak mudah. Banyak faktor yang memengaruhi, mulai dari fundamental ekonomi, kemampuan ekspor, situasi politik, hingga tingkat kepercayaan investor," katanya.

Ia menilai berbagai persoalan di dalam negeri, termasuk maraknya kasus korupsi yang menjadi sorotan media internasional, turut memengaruhi persepsi investor terhadap Indonesia.

"Kondisi politik dan ekonomi saling berkaitan. Kasus-kasus korupsi berskala besar juga dapat memengaruhi kepercayaan investor untuk menanamkan modal di Indonesia," ujarnya.

Prabowo Diminta Jaga Kepercayaan Investor

Harif mengatakan langkah penting yang perlu dilakukan pemerintah adalah menjaga kepercayaan investor dengan memastikan transisi kepemimpinan di BI berjalan baik.

Ia menilai penunjukan Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, sebagai Penjabat Gubernur BI menjadi langkah yang tepat karena telah memahami arah kebijakan moneter yang selama ini dijalankan.

"Beliau sudah mengikuti berbagai kebijakan BI dan mengetahui langkah-langkah yang diperlukan untuk menjaga stabilitas moneter," katanya.

Meski demikian, Harif menyebut pasar masih menerapkan sikap wait and see terhadap kepemimpinan baru BI.

"Pasar masih menunggu apakah Dewan Gubernur yang baru akan mengeluarkan kebijakan yang mampu memperkuat nilai tukar rupiah. Reaksi pasar belum terlihat karena komunikasi publik dari pimpinan baru juga belum disampaikan," ujarnya.

Baca juga: Jembatan di Nanggalo Padang Tak Kunjung Diperbaiki, Anak-Anak Terpaksa Seberangi Sungai ke Masjid

Ia memperkirakan penguatan rupiah belum akan terjadi secara signifikan dalam jangka pendek.

"Kalau kepercayaan pasar meningkat, orang tidak lagi memborong dolar dan akan kembali menggunakan rupiah. Itu yang nantinya bisa memperkuat nilai tukar, tentu melalui kebijakan-kebijakan yang tepat," tuturnya.

Diketahui, Perry Warjiyo mengundurkan diri sebagai Gubernur Bank Indonesia. Pengunduran dirinya diumumkan Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi dalam konferensi pers di Kantor BI, Jakarta Pusat, Senin (27/7/2026).

Posisi Gubernur BI untuk sementara dijabat Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, setelah Perry menyampaikan surat pengunduran diri kepada Presiden Prabowo Subianto pada 25 Juli 2026.

Pengunduran diri Perry terjadi di tengah pelemahan nilai tukar rupiah yang kembali mendekati level Rp18 ribu per dolar AS. 

Sebelumnya, Perry sempat menyatakan optimistis rupiah akan menguat pada semester II 2026 setelah pelemahan yang terjadi pada April hingga Juni disebut sebagai pola musiman akibat tingginya permintaan dolar AS.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.