TRIBUNKALTENG.COM, PALANGKA RAYA - Palangka Raya mulai diselimuti kabut asap, kondisi ini berpotensi meningkatkan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
Ya, karhutla di Palangka Raya dan sekitarnya telah terjadi selama lebih dari seminggu terakhir. Menyebabkan kabut asap mulai muncul, Senin (27/7/2026).
Masyarakat juga mulai menggunakan masker saat berkativitas di luar ruangan karena kabut asap.
Baca juga: NAM Air Hentikan Sementara Rute Sampit-Jakarta, Dishub Kotim Tunggu Penjelasan Resmi Maskapai
Baca juga: Update Jadwal Listrik Padam Palangka Raya Pukul 18.00-24.00 WIB, Jalan Kalibata-G Obos-Ir Soekarno
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P/P2) Dinkes Kalteng, dr Riza Syahputra mengatakan, kabut asap itu dapat menyebabkan ISPA.
Dinkes Kalteng mencatat, sejak 1 Januari hingga 23 Juli 2026, ISPA di Kalteng dilaporkan sebanyak 84.065 kasus.
Tiga daerah tertinggi kasus ISPA terbanyak yakni Palangka Raya 12.394 kasus, Kotawaringin Timur 12.023 kasus, dan Kapuas 9.602 kasus.
Adapun, tiga daerah kasus ISPA terendah di antaranya, Sukamara 1.594 kasus, Gunung Mas 2.234 kasus, dan Katingan 3.036 kasus.
Menurut dr Riza, melihat situasi yang mulai berkabut ini, masyarakat disarankan untuk menggunakan masker apabila berkativitas di luar ruangan.
Sementara itu, karhutla di Kalteng khususnya di Palangka Raya juga belum membaik.
Manajer Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalop-PB) BPBD Kota Palangka Raya, Balap Sipet mengungkapkan, saat ini petugas masih menangani karhutla.
"Saat ini karhutla terjadi di Kelurahan Kameloh Baru," ungkapnya.
Balap membeberkan, berdasarkan pantauan di lapangan terlihat asap tebal membumbung tinggi. Akan tetapi, pihaknya belum dapat memastikan luas lahan yang terbakar di lokasi tersebut.
"Lahan yang terbakar lahan gambut, luasnya belum terpantau," kata dia.
Sampai saat ini, petugas damkar, relawan, dan instansi terkait lainnya masih terus berupaya memadamkan kebakaran di beberapa titik di Palangka Raya.