Laporan Kontributor Tribunjabar.id, Dian Herdiansyah.
TRIBUNJABAR.ID, SUKABUMI – Tingginya minat generasi muda untuk bekerja di luar negeri terlihat dalam gelaran International Job Fair yang diselenggarakan PasimGo Migrant Center di Universitas Nasional PASIM, Kota Sukabumi, Jawa Barat, Senin (27/7/2026).
Jepang dan Korea Selatan menjadi dua negara tujuan yang paling diminati para pencari kerja.
Meski peluang kerja terbuka lebar, banyak peserta mengaku masih terkendala biaya awal untuk mengikuti kursus bahasa dan pelatihan keterampilan sebagai syarat keberangkatan.
Baca juga: Minat Kerja ke Luar Negeri Tinggi, Pemerintah Siapkan Skema Biaya agar Calon PMI Tak Terjerat Utang
Salah seorang pencari kerja asal Kabupaten Sukabumi, Randi (18), lulusan salah satu SMK di Sukabumi yang saat ini masih menunggu pengumuman kelulusan, mengaku sengaja datang ke job fair untuk mencari informasi mengenai peluang bekerja di Jepang.
"Saya memang sudah lama ingin kerja ke Jepang. Makanya pas ada job fair ini saya langsung datang buat cari informasi. Saya sekarang masih nunggu kelulusan sekolah, jadi sekalian mempersiapkan diri untuk daftar," ujarnya.
Sayangnya, keinginannya masih terbentur persoalan biaya. Ia mengaku belum memiliki modal.
"Kendalanya di biaya. Saya belum punya modal untuk ikut kursus bahasa Jepang sama pelatihan keahlian," katanya.
Padahal, kata Randi, kursus-kursus tersebut penting sebagai bekal sebelum berangkat. Ia berharap pemerintah bisa membuka pelatihan khusus ke luar negeri yang disediakan oleh pemerintah.
"Mudah-mudahan ada program yang bisa membantu atau pembiayaan yang meringankan, supaya saya tetap bisa mengejar kesempatan kerja di Jepang," katanya.
Hal senada disampaikan Adelia Pasa Umbara (17). Berbeda dengan Randi yang memilih Jepang, Adelia mengaku lebih tertarik bekerja di Korea Selatan.
Baca juga: Peduli Kesehatan Anak PMI di Malaysia, FK Unjani Gelar Aksi Medis Preventif dan Edukasi PHBS
Ia datang ke International Job Fair PASIM untuk mencari informasi mengenai peluang kerja, persyaratan, hingga proses seleksi bekerja di negeri tersebut.
"Saya memang lebih tertarik bekerja di Korea Selatan. Makanya saya datang ke sini buat cari informasi mengenai persyaratan, proses pendaftaran, sampai peluang kerja yang tersedia. Mudah-mudahan setelah lulus saya bisa mempersiapkan semuanya dari sekarang," ujar Adelia.
Menurutnya, tantangan terbesar yang dihadapi calon pekerja migran adalah keterbatasan biaya untuk mengikuti kursus bahasa dan pelatihan keterampilan sesuai negara tujuan.
"Kalau mau kerja di luar negeri kan harus punya kemampuan bahasa dan keahlian tertentu," katanya.
Sementara untuk ikut kursus dan pelatihannya butuh biaya yang tidak sedikit, kata Adelia.
"Saya berharap ada program bantuan atau pembiayaan yang bisa memudahkan kami agar kesempatan bekerja di luar negeri tidak hanya bisa dirasakan oleh orang yang punya modal besar," tutupnya.