TRIBUNJATENG.COM, WONOSOBO - Embun es, atau warga Dataran Tinggi Dieng menyebutnya bun upas, bagi sebagian orang merupakan fenomena alam yang memukau.
Hamparan kristal es atau frozen yang menyelimuti lahan pertanian di Dataran Tinggi Dieng, masuk wilayah Kabupaten Wonosobo dan Banjarnegara, setiap musim kemarau kerap menarik perhatian wisatawan.
Namun, bagi petani kentang dan sayuran di Dieng, bun upas merupakan fenomena yang sudah akrab sekaligus tantangan yang sulit ditaklukkan.
Hartanto, petani kentang di kawasan Dieng, mengaku sudah berkali-kali menghadapi bun upas selama puluhan tahun bertani.
Menurut Hartanto, fenomena tahun ini memang berdampak terhadap tanaman kentang, tetapi tidak separah yang pernah terjadi pada 2013.
"Suhu udara di Dieng pernah sampai minus 12 Celcius, pada tahun 2013. Parah sekali," ujar Hartanto kepada Tribun Jateng, beberapa waktu lalu.
Hartanto masih mengingat betul kondisi saat itu.
Suhu udara yang turun drastis membuat embun es muncul lebih cepat dari biasanya.
Bahkan, pada pukul 22.00 malam, lapisan es sudah mulai menyelimuti lahan pertanian.
"Jam sepuluh malam saja sudah keluar bun upas di lahan ini. Pokoknya sudah beku," katanya.
Fenomena tersebut tidak hanya membuat daun tanaman membeku, tetapi juga menyebabkan air di pipa paralon ikut membeku.
"Di paralon-paralon itu airnya beku persis seperti kaca," tuturnya.
Tahun 2026 ini, bun upas kembali muncul sejak Juni dan berlanjut hingga Juli.
Lahan kentang seluas sekitar 500 meter persegi milik Hartanto sudah beberapa kali diterjang bun upas, sejak Juni hingga Juli.
Di lahan Hartanto, suhu sempat mencapai sekitar minus 6 derajat Celsius.
Lapisan es yang menempel di atas mulsa plastik diperkirakan pernah mencapai ketebalan sekitar lima milimeter.
"Sudah dari Juni, Juni tanggal 9, 10, 11. Kemudian kembali lagi Juli tanggal 9, 10, 11. Malah Juli itu hampir tiap hari minus, tapi kadang ada yang minus 1, ada yang nol, bahkan minus 6 derajat Celsius," ujar Hartanto.
Menurut Hartanto, tanaman kentang idealnya dipanen setelah berumur sekitar 110 hari.
Namun, bun upas datang saat usia tanaman baru sekitar 80 hari sehingga mengganggu proses pertumbuhan kentangnya.
Meski demikian, Hartanto masih bersyukur.
"Alhamdulillah masih mending, usia 80 hari ini sudah bisa dipanen walaupun seharusnya masih bisa maksimal lagi," ujarnya.
Menurutnya, kondisi akan jauh lebih berat apabila bun upas menyerang tanaman yang baru berumur sekitar 40 hari.
"Kalau yang masa tanamnya satu bulan sampai 40 hari ke bawah, kerugiannya total pasti gagal panen," ucapnya.
Untuk mengolah lahan hingga proses tanam, Hartanto telah mengeluarkan modal sekitar Rp 4 juta.
Namun, ia belum bisa memastikan besarnya kerugian karena masih menunggu hasil panen sekaligus perkembangan harga kentang yang saat ini mencapai sekitar Rp 14 ribu per kilogram di tingkat petani.
Saat bun upas mulai turun, pada Juni lalu, Hartanto bersama petani lain sempat berupaya menyelamatkan tanaman dengan menyiram air agar lapisan es yang menempel di daun segera mencair.
"Pakai air itu bisa mengurangi, tapi karena es turunnya sering ya tetap kalah," ujarnya.
Menurutnya, suhu udara saat itu terus menurun, mulai minus 1 derajat Celsius pada 9 Juni, minus 2 derajat Celsius pada 10 Juni, hingga mencapai minus 4 derajat Celsius pada 11 Juni.
Memasuki Juli, suhu di lahannya bahkan sempat mencapai sekitar minus 6 derajat Celsius.
Akibatnya, daun-daun kentang perlahan mengering.
Meski demikian, akar tanaman masih dapat bertahan.
"Kalau sampai akar, itu embunnya sudah di bawah minus 7 derajat," jelasnya.
Pola tanam
Berbekal pengalaman bertani selama bertahun-tahun, Hartanto menilai, kondisi bibit menjadi faktor penting yang menentukan apakah tanaman masih dapat bertahan ketika bun upas datang.
Menurutnya, berbagai upaya perlindungan tidak selalu mampu menahan dampak embun beku apabila kondisi tanaman sudah rentan.
"Kalau bibitnya masih atos (keras--Red), insyaallah, masih bisa bertahan. Tapi kalau bibitnya sudah janggar atau tua, walaupun misalnya pakai jaring atau pelindung, tetap kena," katanya.
Selain memahami karakter bibit, kata Hartanto, petani juga mengatur pola tanam agar tetap memiliki hasil saat musim bun upas datang.
Hartanto mengatakan kentang, cabai, dan carica menjadi komoditas yang paling mudah terdampak suhu dingin ekstrem.
Sebaliknya, tanaman seperti daun bawang, seledri, dan wortel relatif lebih tahan sehingga banyak petani menjadikannya tanaman selingan.
"Kalau bun upas biasanya diselingi tanaman itu biar tetap menghasilkan walaupun tidak seberapa," ujarnya.
Dia menambahkan, mayoritas petani di Dieng membudidayakan kentang varietas granola.
Meski menjadi komoditas utama, varietas tersebut tetap rentan mengalami kerusakan apabila bun upas datang saat tanaman masih berada pada fase pertumbuhan.
Menurut Hartanto, bun upas tahun ini melanda hampir seluruh kawasan Dieng, baik yang berada di Kabupaten Wonosobo maupun Banjarnegara.
"Semuanya wilayah Dieng kena embun upas. Kecuali yang atas-atas (menunjuk area atas bukit--Red) itu nggak kena. Kemarin sampai Patakbanteng, Sikunir, sampai Karangtengah, semuanya kena," katanya.
Meski kerap menyebabkan tanaman rusak, Hartanto mengatakan, petani Dieng berkeyakinan bahwa musim tanam setelah bun upas justru dapat memberikan hasil yang lebih baik.
"Jadi kalau orang Jawa bilang itu masa tanam setelah bun upas itu enteban, artinya memberi hasil yang lebih, enteb atau berat," terangnya.
Menurutnya, suhu dingin ekstrem membuat banyak hama di lahan mati sehingga serangan hama pada musim berikutnya menjadi lebih sedikit.
Oleh karena itu, setelah embun upas berakhir, petani biasanya mengistirahatkan lahan selama sekitar satu bulan sebelum kembali menanam pada akhir Agustus atau awal September.
"Kalau situasi sudah tidak terlalu dingin, kita mulai tanam lagi," katanya.
Bagi Hartanto, petani di Dataran Tinggi Dieng berarti harus mampu berdamai dengan alam.
Di balik ancaman gagal panen, selalu ada harapan baru pada musim tanam berikutnya.
"Rezeki sudah ada yang mengatur," tandasnya.
Gagal panen
Tidak semua petani memiliki kondisi yang sama seperti Hartanto.
Di lahan lain, bun upas justru menyebabkan tanaman kentang gagal panen total.
Kondisi tersebut dialami Wastarmo, pekerja yang membantu menggarap lahan pertanian kentang di kawasan Dieng.
Menurut Wastarmo, embun upas yang turun selama beberapa hari berturut-turut menyebabkan tanaman kentang yang baru berumur sekitar 60 hari tidak mampu bertahan.
Ia menjelaskan, tanaman kentang yang berumur di bawah 60 hari hampir dipastikan tidak dapat diselamatkan apabila diterjang bun upas.
"Tapi kalau sudah 70 hari ke atas ya sudah lumayan," katanya.
Menurut Wastarmo, petani tidak memiliki banyak pilihan ketika tanaman sudah rusak akibat bun upas.
Tanaman yang mati biasanya dicabut, lahan diolah kembali, kemudian ditanami ulang setelah bun upas berakhir.
"Kalau sudah kena embun nggak bisa panen, ya dicabutin. Nunggu embun hilang, dipacul lagi, ditanami lagi," ujarnya.
Ia menambahkan, bun upas tahun ini cukup berdampak terhadap lahan pertanian kentang di kawasan Dieng.
Fenomena tersebut umumnya terjadi pada Juni hingga Agustus. (Imah Masitoh)