Wabah Siklospora Merebak di AS: Timbulkan Kekacauan, Warga BAB 20 Kali Sehari
Muhammad Fatoni July 28, 2026 07:14 AM

 

TRIBUNJOGJA.COM, WASHINGTON DC - Wabah siklospora terbesar dalam sejarah yang menyebar di seluruh Amerika Serikat (AS) menimbulkan kekacauan di sejumlah wilayah, terutama di Michigan yang menjadi negara bagian paling terdampak. 

Banyak orang pernah mengalami diare. Karena itulah, ketika gejala tersebut menyerang Nick Palmiter pada awal Juli, dia tidak terlalu mengkhawatirkannya. 

"Saya akan baik-baik saja," katanya dalam hati.

Namun, gejala tak kunjung mereda. Hari berganti minggu, dan kram perut yang dialaminya menjadi semakin tak tertahankan.     
    
"Saya benar-benar kesakitan," ujar Palmiter. 

"Sampai pada titik saya harus ke kamar mandi sekitar 15 hingga 20 kali sehari." 

Pria berusia 29 tahun itu menggambarkan sensasi yang dirasakannya sebagai tekanan dan gelembung gas yang terus-menerus muncul, "hampir seperti ada balon di dalam perut." 

Atas dorongan seorang rekan kerja, Palmiter akhirnya mendatangi fasilitas layanan kesehatan darurat. 

Setibanya di sana, dia diberi tahu bahwa dirinya harus segera dibawa ke unit gawat darurat rumah sakit. 

Di rumah sakit itulah Palmiter mengetahui bahwa dirinya mengidap siklosporiasis, penyakit usus yang terus menyebar di seluruh AS dan telah menginfeksi ribuan orang di 41 negara bagian.

Wabah ini menjadi yang terbesar yang pernah tercatat dalam sejarah AS. 

Michigan mencatat jumlah kasus terbanyak secara nasional, yakni lebih dari 7.000 kasus. 

Di Monroe County, wilayah pedesaan yang berada di perbatasan timur negara bagian tersebut dan tempat Palmiter tinggal, jumlah kasus yang tercatat juga termasuk yang tertinggi. 

"Penyakit ini benar-benar membuat Anda merasa sangat sakit," kata Palmiter mengenai pengalamannya. "Rasanya seperti Anda sudah tidak memiliki tenaga sedikit pun lagi." 

Baca juga: Tak Ada Toleransi Praktik Diskriminatif Ruang Belajar Agama di Sekolah

Timbulkan kekacauan 

Monroe County memiliki sekitar 154.000 penduduk. Menurut data pemerintah negara bagian, 286 orang di wilayah itu telah terinfeksi siklosporiasis, penyakit yang disebabkan oleh tertelannya parasit Cyclospora dan dapat menimbulkan gejala seperti "diare eksplosif". 

Besarnya dampak wabah di komunitas kecil ini memicu efek berantai yang luas. "Cemas" dan "takut" adalah dua kata yang digunakan Palmiter untuk menggambarkan suasana di masyarakat setempat. 

Ibunya, Michelle Palmiter, mengungkapkan hal serupa. 

"Saya melihat banyak orang yang panik karena ini," katanya. 

Salah satunya adalah keponakannya yang mengosongkan seluruh isi lemari pendingin yang berisi produk segar dan membuang semuanya ke tempat sampah, termasuk semangka yang menurut Michelle masih sangat layak dikonsumsi.

"Alih-alih mencucinya hingga bersih lalu memotongnya, dia langsung membuangnya," kata Michelle. 

Infeksi pertama kali terdeteksi pada 13 Mei, menurut Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA). 

Sejak saat itu, jumlah kasus terus meningkat. Bersamaan dengan itu, misteri mengenai sumber wabah juga semakin besar. 

Restoran dan peritel besar di seluruh AS, termasuk Walmart, Jack in the Box, dan Taco Bell, mengumumkan penarikan sejumlah produk makanan dari peredaran. 

Pesan yang mereka sampaikan hampir seragam: "sebagai langkah kehati-hatian ekstra". 
Target utama penarikan adalah selada iceberg. Namun, berbulan-bulan setelah wabah muncul, sumber resmi penyebaran parasit Cyclospora masih belum diketahui. 

Francisco Diez-Gonzalez, Direktur Center for Food Safety di College of Agricultural and Environmental Sciences, University of Georgia, mengatakan parasit tersebut bisa "sangat sulit dideteksi". 

Menurut dia, salah satu kendalanya berkaitan dengan teknologi pengurutan genetik (gene sequencing). 

Tantangan lainnya adalah gejala akibat infeksi parasit ini bisa baru muncul beberapa minggu setelah seseorang terpapar. 

Akibatnya, penyelidik kesulitan menelusuri secara akurat seluruh makanan yang dikonsumsi pasien guna menemukan faktor penyebab yang sama. 

Penyelidikan FDA mengarah pada kemungkinan bahwa Taylor Farms menjadi sumber wabah. 

Perusahaan pemasok bahan pangan besar di AS itu kemudian secara sukarela menarik seluruh produk selada iceberg yang dipasok dari Meksiko bagian tengah. 

Lagi-lagi, langkah itu disebut dilakukan "sebagai bentuk kehati-hatian ekstra". 

Penyelidikan tampak mendekati titik terang pada Sabtu lalu ketika FDA mengumumkan bahwa sampel selada iceberg dari Taylor Farms menunjukkan hasil positif mengandung Cyclospora. 

Namun, kurang dari 24 jam kemudian, pemerintah menarik kembali pernyataan tersebut. 

Pada Minggu, FDA menyatakan hasil itu merupakan positif palsu (false positive). 

"Kita sedang berhadapan dengan patogen yang memang sangat sulit diteliti di laboratorium," kata Diez-Gonzalez. "Dalam kasus ini, menemukan beberapa kista Cyclospora dalam sampel selada benar-benar seperti mencari jarum di tumpukan jerami," lanjutnya. (kpc)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.