Iran: Tidak Ada Pembicaraan Langsung atau Gencatan Senjata 10 Hari dengan AS
Khairisa Ferida July 28, 2026 11:00 AM

Liputan6.com, Teheran - Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baqaei membantah laporan media yang menyebut Iran telah mengusulkan perundingan langsung dengan Amerika Serikat (AS).

Dalam konferensi pers di Teheran, Senin (27/7/2026), Baqaei, seperti dilaporkan kantor berita IRNA menegaskan bahwa Iran tidak pernah meminta pembicaraan langsung dengan AS. Ia menyebut klaim tersebut sebagai rekayasa.

Menurut Baqaei, pemerintah Iran saat ini memusatkan perhatian pada pertahanan, bukan perundingan.

Terkait nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) antara kedua negara, ia mengatakan Washington telah melanggar seluruh isi kesepakatan itu kurang dari 23 hari setelah penandatanganan. Pelanggaran tersebut kemudian mendorong Teheran menangguhkan pelaksanaan komitmennya.

Baqaei menegaskan bahwa negaranya tidak akan berkompromi dalam hal prinsip dan keamanan nasional.

Mengacu pada paragraf kelima MoU tersebut, ia menjelaskan bahwa AS memulai serangan besar-besaran terhadap Iran pada hari ke-22 setelah kesepakatan ditandatangani. Padahal, tenggat 30 hari bagi Teheran untuk memenuhi komitmennya saat itu belum berakhir.

Baqaei juga menuduh AS bekerja sama dengan sejumlah negara di kawasan untuk sengaja mengalihkan kapal-kapal dari jalur utara Selat Hormuz yang aman ke jalur selatan yang dinilai tidak aman.

Ia menyoroti tiga kapal asal Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab yang mematikan sistem pelacakan pada hari yang sama. Menurutnya, tindakan tersebut bertentangan dengan MoU dan menunjukkan adanya koordinasi dengan AS.

Kapal-kapal komersial itu, lanjut dia, digunakan untuk mengangkut perlengkapan militer.

Menanggapi berkurangnya intensitas serangan AS dan munculnya spekulasi mengenai kemungkinan gencatan senjata, Baqaei kembali menegaskan bahwa tidak ada perundingan antara Teheran dan Washington.

Ia menyebut pembicaraan yang berlangsung saat ini hanya berupa dialog bilateral dengan Oman mengenai Selat Hormuz.

Dalam kesempatan yang sama, Baqaei menyamakan perilaku AS dengan kelompok mafia. Menurutnya, selama pendekatan semacam itu terus dipertahankan, sulit mengharapkan terbentuknya proses yang rasional.

Ia mengatakan situasi yang relatif lebih tenang dalam beberapa hari terakhir tercipta berkat kehati-hatian Angkatan Bersenjata Iran. Namun, ia memperingatkan bahwa setiap tindakan AS akan segera dibalas secara tegas.

Baqaei menolak pula anggapan bahwa Iran harus bertanggung jawab atas keadaan saat ini. Menurutnya, seluruh tanggung jawab berada di tangan AS.

Ia kemudian menyebut serangan terbaru terhadap jalur menuju Mashhad dan Shalamcheh sebagai bukti permusuhan AS terhadap nilai-nilai yang dianggap suci oleh rakyat Iran. Serangan-serangan itu dinilainya sebagai contoh nyata kejahatan perang.

Baqaei turut membantah laporan tentang kesepakatan gencatan senjata selama 10 hari. Ia menyebut kabar itu hanya sebagai spekulasi media.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.