TRIBUNBATAM.id - Tangan Nurhanisa gemetar memegang luka. Ia berusaha keras menceritakan detik-detik mencekam saat ia lolos dari maut di Kelurahan Duyu, Kecamatan Tatanga, Kota Palu.
Nurhalisa mengalami kenyataan pahit. Suami dan anak yang baru berusia dua tahun tewas dibunuh.
Ia juga mengalami luka tusukan.
Setelah melewati masa kritis dan menjalani perawatan intensif di RS Bhayangkara Palu, kondisi fisik satu-satunya korban selamat dalam tragedi pembunuhan satu keluarga ini kini berangsur membaik.
Dengan sisa keberanian yang ada, ia mulai memecah keheningan dan membuka tabir teror malam yang telah merenggut nyawa suami serta anak balitanya.
Malam yang semula tenang berbalik menjadi mimpi buruk saat Nurhanisa terbangun untuk buang air kecil.
Ketika melangkah keluar dari kamar mandi, pandangannya menangkap gerakan mencurigakan di area penggilingan ayam.
Di balik kegelapan, sosok yang tak asing baginya berdiri tegak. Pria itu adalah AK yang malam itu menggenggam dua bilah pisau jagal di kedua tangannya.
Terkejut melihat senjata tajam tersebut, Nurhanisa berteriak menanyakan maksud kedatangannya, namun Aan justru membalas dengan gertakan dingin agar ia diam.
Panik luar biasa membakar dada Nurhanisa.
Ia berbalik dan berlari sekuat tenaga menuju kamar untuk membarikade diri.
Namun nasib berkata lain, langkah pelaku jauh lebih cepat.
Pelaku menerobos masuk, memegang tangan Nurhanisa, lalu menghujamkan pisau ke tubuhnya tanpa belas kasihan.
Meski tubuhnya bersimbah darah dan digerogoti rasa sakit yang luar biasa, naluri bertahan hidup Nurhanisa tidak padam.
Begitu pelaku menjauh, dengan sisa-sisa tenaga ia berusaha bangkit dan merayap mencari telepon genggam untuk menghubungi keluarga.
Sayang, ponsel itu tak kunjung ditemukan.
Dalam kondisi kritis dan tak sanggup lagi berdiri, Nurhanisa mengumpulkan napasnya yang tersisa berteriak meminta pertolongan.
Rintihan pilu itu akhirnya memecah malam dan terdengar oleh seorang tetangga.
Ketika tetangganya bertanya dari luar, Nurhanisa membalas dengan jeritan merinding, meminta tolong karena telah ditusuk dan tak bisa lagi bangun.
Warga yang panik segera mendobrak gembok pintu rumah dan mendapati Nurhanisa terkulai tak berdaya sebelum akhirnya melarikannya ke rumah sakit.
Secara medis, nyawa Nurhanisa berhasil diselamatkan oleh tim dokter.
Namun duka teramat dalam telah menunggunya saat terbangun, ketika mengetahui sang suami, Jamil, dan buah hati mereka yang baru berusia dua tahun meninggal dunia di lokasi kejadian akibat aksi keji pelaku.
Kesaksian langsung dari Nurhanisa kini menjadi petunjuk paling terang bagi Satreskrim Polresta Palu untuk terus memburu AK yang kini berstatus buron, demi menuntaskan perburuan dan memberikan keadilan bagi keluarga yang koyak tersebut.
Dugaan motif di balik pembantaian satu keluarga di Jl PDAM, Kelurahan Duyu, Kecamatan Palu Barat, Kota Palu, mulai terungkap dari keterangan tetangga korban.
Tetangga korban, Bahtiar, menduga peristiwa yang menewaskan seorang pria dan anaknya yang masih balita itu dipicu persoalan dendam antara korban dan terduga pelaku yang sama-sama bekerja di lokasi usaha pemotongan ayam.
"Kalau penyebabnya saya dengar sih masalah dendam, karena terduga pelaku dan korban ini sama-sama pekerja di lokasi ini," kata Bahtiar kepada TribunPalu.com, Senin (27/7/2026).
Menurut Bahtiar, dugaan dendam itu diduga berawal dari persoalan pribadi yang berkembang di lingkungan kerja.
"Tidak tahu juga dendamnya apa, mungkin dia pernah dengar bicara yang tidak enak," ujarnya.
Bahtiar mengaku memperoleh informasi dari pemilik usaha pemotongan ayam tempat korban dan terduga pelaku bekerja.
Ia mengatakan, korban dan terduga pelaku disebut kerap saling melaporkan keburukan masing-masing kepada pemilik usaha.
"Karena dari pengakuannya bos yang punya tempat potong ayam ini, korban dan pelaku biasanya saling lapor ke bosnya," katanya.
Selain itu, Bahtiar juga menyebut terduga pelaku diduga masih memiliki hubungan keluarga dengan korban.
Menurut informasi yang diterimanya, pekerja di lokasi pemotongan ayam tersebut merupakan keluarga dari pemilik usaha.
"Tapi saya dengar-dengar dari ceritanya haji yang juga bosnya mereka, yang diduga pelaku ini masih ada hubungan keluarga dengan korban. Karena di lokasi pemotongan ayam ini rata-rata yang kerja cuma keluarganya pemilik tempat," ujarnya.
Sementara itu, Kasat Reskrim Polresta Palu AKP Ismailboby mengatakan pihaknya masih melakukan pengejaran terhadap terduga pelaku sehingga belum dapat memberikan keterangan lebih lanjut mengenai motif maupun identitas pelaku.
Ia juga menegaskan foto maupun video yang beredar di media sosial dan dikaitkan dengan kasus tersebut masih sebatas dugaan.
"Masih dalam pengejaran tersangka jadi belum bisa memberikan keterangan. Video yang beredar di media sosial masih diduga pelakunya tersebut," katanya.
Saat ini, Satreskrim Polresta Palu masih melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP), memeriksa saksi-saksi, serta mengumpulkan barang bukti.
Dalam peristiwa itu, dua orang meninggal dunia, yakni seorang pria dan anaknya yang masih balita.
Sementara istri korban mengalami luka-luka dan masih menjalani perawatan di RS Bhayangkara Palu.
Polisi mengimbau masyarakat tidak berspekulasi mengenai motif maupun identitas pelaku hingga proses penyelidikan selesai dan keterangan resmi disampaikan. (*)