TRIBUNNEWS.COM - Setiawan (32) tewas setelah dikeroyok massa di Morowali, Sulawesi Tengah, Sabtu (25/7/2026) malam.
Sebelum meregang nyawa, ia sempat berlindung di dalam sebuah minimarket, namun amukan warga tak terbendung hingga berujung tragis.
Kasus ini berdekatan dengan peristiwa tewasnya KD (38), terduga pencuri ayam di Bali, yang diduga dikeroyok massa di Banjar Juwuk Legi, Desa Batunya, Kecamatan Baturiti, Tabanan, Jumat (24/7/2026) dini hari.
KD sebelumnya kepergok mencuri ayam aduan milik warga, lalu menjadi sasaran pengeroyokan hingga meninggal di lokasi.
Massa juga membakar sepeda motor yang diduga miliknya.
Baca juga: Teguran kepada Siswa Picu Pengeroyokan Guru SD di Balikpapan, Tiga Orang Jadi Tersangka
Sosok Setiawan (33), warga Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, menjadi sorotan setelah meninggal dunia usai diduga dikeroyok massa di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah.
Peristiwa tersebut terjadi di Desa Bahomakmur, Kecamatan Bahodopi, Kabupaten Morowali, Sabtu (25/7/2026) sekitar pukul 23.05 Wita.
Setiawan merupakan warga Desa Kompang, Kecamatan Sinjai Tengah. Pria kelahiran Sinjai, 24 Januari 1993 itu dikenal sebagai pribadi yang baik oleh warga di kampung halamannya dan meninggalkan seorang istri.
Kepala Desa Kompang, Ansar, mengatakan Setiawan merupakan anak kedua dari lima bersaudara dan menjadi tulang punggung keluarga.
“Beliau (Setiawan) tulang punggung keluarga kasian,” kata Ansar kepada Tribun-Timur.com saat dihubungi melalui WhatsApp, Senin (27/7/2026).
Menurut Ansar, Setiawan selama ini turut membiayai kebutuhan adik-adiknya setelah kedua orang tuanya meninggal dunia.
“Ibunya meninggal pada 2011, sedangkan ayahnya meninggal pada Januari 2026,” ujarnya.
Ansar menuturkan, Setiawan dikenal sebagai sosok yang sabar dan tidak pernah memiliki riwayat melakukan tindak pencurian selama tinggal di Desa Kompang.
Ia juga dikenal rajin beribadah dan kerap melaksanakan salat berjamaah di masjid.
“Setiawan itu orangnya sabar. Sepanjang yang kami tahu, tidak pernah ada riwayatnya mencuri,” ujarnya.
“Dia juga sering ke masjid untuk salat berjamaah. Bukan kami membela, tetapi sejak kecil memang tidak ada riwayatnya mencuri,” lanjutnya.
Jenazah Setiawan dimakamkan di samping kuburan ayahnya di Desa Kompang.
“Sudah tadi setelah shalat duhur dimakamkan di samping kuburan ayahnya,” katanya.
Ketua Umum Himpunan Masyarakat Sinjai (Himas) DPC Morowali, Abdul Rahman Masruhim, menjelaskan kronologi pengeroyokan tersebut.
Menurut Abdul Rahman, peristiwa bermula ketika korban datang ke sebuah Indomaret untuk membeli kanebo. Setelah berbelanja, korban sempat duduk di depan Indomaret.
“Pada saat itu ada seorang ibu yang hendak berbelanja dan meninggalkan sepeda motornya dalam kondisi kunci masih tergantung,” katanya saat dihubungi Tribun-Timur.com melalui WhatsApp, Senin (27/7/2026).
“Korban kemudian menaiki motor tersebut, mendorong dan memutarnya serta mencoba menyalakan mesin, tetapi motor itu tidak bisa menyala,” lanjutnya.
Korban kemudian mendorong sepeda motor tersebut.
Tak lama berselang, pemilik kendaraan keluar dari dalam Indomaret dan berteriak histeris sehingga mengundang perhatian warga.
“Awalnya hanya sekitar empat orang yang datang, tetapi karena lokasi Indomaret berada di pertigaan jalan, semakin banyak orang yang berkumpul,” katanya.
Melihat situasi tersebut, korban berlari masuk ke dalam Indomaret untuk menyelamatkan diri dan berlindung di area kasir.
“Di dalam Indomaret korban sudah dipiting lehernya sambil dipukul. Setelah itu korban dibawa keluar dan kembali dipukuli. Massa sudah sangat banyak hingga memenuhi area depan Indomaret dan badan jalan,” ujarnya.
Usai kejadian, korban sempat diamankan dan dibawa ke Klinik IMIP. Namun karena kondisinya tidak dapat ditangani, korban kemudian dirujuk ke RSUD.
“Korban akhirnya meninggal dunia pada malam itu,” katanya.
Abdul Rahman meminta aparat kepolisian mengusut tuntas kasus dugaan penganiayaan yang menyebabkan korban meninggal dunia.
“Kami berharap pihak kepolisian mengusut tuntas kasus penganiayaan ini. Pelaku harus diproses sesuai hukum yang berlaku karena tindakan tersebut telah menghilangkan nyawa seseorang dan tidak mencerminkan rasa kemanusiaan,” ujarnya.
Baca juga: Polisi Ekshumasi Jenazah Terduga Pencuri Ayam di Bali, 5 Tersangka Dijerat Pasal Pengeroyokan
Anggota DPRD Sulawesi Selatan Heriwawan turut menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya Setiawan.
“Turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas kejadian ini,” kata Heriwawan, Selasa (28/7/2026).
Ia berharap peristiwa tersebut menjadi pelajaran bagi seluruh masyarakat agar tidak mudah mengambil tindakan sendiri dalam menyelesaikan persoalan.
“Semoga ini menjadi pelajaran bagi kita semua untuk tetap bijak bersikap dan mengedepankan asas praduga tak bersalah,” ujarnya.
Heriwawan menegaskan bahwa dugaan tindak pidana, termasuk pencurian, harus diserahkan sepenuhnya kepada aparat penegak hukum untuk diproses sesuai ketentuan yang berlaku.
“Kita tidak membenarkan tindakan pencurian, tetapi main hakim sendiri juga bukan solusi. Semoga kejadian seperti ini tidak terulang lagi,” katanya.
Ia juga mendesak kepolisian mengusut kasus tersebut secara tuntas dan menindak seluruh pihak yang terbukti terlibat sesuai hukum yang berlaku.
“Saya mendesak Polres mengusut kejadian ini sampai tuntas. Pelaku harus dihukum sebagaimana aturan yang berlaku,” tegasnya.
Keluarga berharap penanganan profesional
Paman korban, Ansar, berharap aparat kepolisian menangani kasus tersebut secara profesional, transparan, dan menyeluruh.
“Keluarga sangat terpukul atas kematian keponakan kami akibat dikeroyok,” ujar Ansar.
Ia mengaku tidak mengetahui secara pasti kronologi maupun siapa yang bersalah dalam peristiwa tersebut.
Menurutnya, penentuan kesalahan sepenuhnya menjadi kewenangan aparat penegak hukum melalui proses penyelidikan dan penyidikan.
Ansar mendesak polisi segera menangkap seluruh pihak yang diduga terlibat dalam aksi pengeroyokan hingga menyebabkan Setiawan meninggal dunia.
“Saya harapkan polisi mengusut tuntas kasus ini dan menangkap semua pelaku yang menyebabkan keponakan saya meninggal dunia,” pungkasnya.