Dampak Kekeringan Meluas, DPRD Bantul Dorong Solusi Penanganan Jangka Panjang
Hari Susmayanti July 28, 2026 01:14 PM

 

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Permintaan droping air bersih di Bantul terus bertambah, seiring berjalannya musim kemarau 2026. 

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bantul, pada periode 20 Juni sampai 27 Juli 2026, sudah ada 62 tangki atau 312.000 liter air bersih yang didistribusikan kepada masyarakat yang mengalami kesulitan air bersih.

Sekretaris Komisi A DPRD Kabupaten Bantul, Dhony Kristanto mengatakan pihaknya bersama pemerintah daerah terus berkolaborasi untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat.

Untuk penanganan jangka pendek, pemerintah daerah melalui BPBD Bantul terus melakukan dropping air bersih.

Namun demikian, menurut politisi Partai Gerindra ini, diperlukan solusi jangka panjang dengan membangun sumur bor di wilayah-wilayah yang menjadi langganan kekeringan.

"Terkait dengan menghadapi kekeringan ini, teman-teman kami di BPBD Bantul siap memberikan droping air bersih bagi masyarakat yang membutuhkan. Tapi, untuk ke depan kita harus tetap mencari solusi jangka panjang yakni dengan pembuatan sumur bor. Pengadaan sumur bor akan dilakukan sesuai permintaan masyarakat," ucap dia.

Langkah pembuatan sumur bor menjadi strategi penting agar wilayah-wilayah rawan kekeringan tidak terus-menerus bergantung pada bantuan droping air.

Namun, pengadaan itu tidak bisa dilakukan asal-asalan, sehingga perlu pemetaan titik lokasi yang krusial.

"Jadi, kami, DPRD Bantul akan memfasilitasi kebutuhan air bersih masyarakat saat musim kemarau baik permohonan droping air maupun sumur bor. Dan saya juga melakukan pemantauan bersama teman-teman BPBD Bantul maupun Tim Reaksi Cepat terhadap sejumlah wilayah, termasuk Kapanewon Imogiri, Pleret, dan Dlingo," tandas dia.

Baca juga: Mengenal Kimpul, Umbi Tradisional yang Kembali Viral di Media Sosial

Sementara itu Kepala Bidang Kedaruratan Logistik dan Peralatan BPBD Kabupaten Bantul, Antoni Hutagaol, mengatakan, dari 62 tangki air bersih yang sudah didistribusikan, sebanyak 16 tangki berasal dari BPBD Bantul, 19 tangki dari Palang Merah Indonesia, 13 tangki dari Tagana, dan 14 tangki dari donasi.

Adapun wilayah yang paling banyak mendapatkan dropping air bersih berada di wilayah Dlingo.

"Droping air bersih tertinggi berada di Kapanewon Dlingo dengan jumlah 22 tangki atau 110.000 liter air bersih. Kemudian, Kapanewon Pajangan dengan jumlah 19 tangki atau 97.000 liter air bersih. Selanjutnya, Kapanewon Imogiri, Piyungan, dan Pundong masing-masing 7 tangki atau 35.000 liter air bersih," katanya, Selasa (28/7/2026).

Disampaikannya, total sudah ada 650 KK atau 2.619 jiwa yang menerima droping air bersih. Jumlah itu terbagi atas 354 KK atau 1.062 jiwa di Kapanewon Imogiri, 276 KK atau 1.158 jiwa di Kapanewon Dlingo, 320 jiwa di Kapanewon Pajangan, dan sisanya di Kapanewon Pundong.

Adapun, total wilayah yang terdampak kekeringan kini berada di delapan kalurahan meliputi Kalurahan Guwosari dan Triwidadi (Kapanewon Pajangan), Kalurahan Jatimulyo, Terong, dan Temuwuh (Kapanewon Dlingo), Kalurahan Karangtengah (Kapanewon Imogiri), Kalurahan Seloharjo (Kapanewon Pundong), serta Kalurahan Srimulyo (Kapanewon Piyungan).

Sementara Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Bantul, Mujahid Amrudin, berujar bahwa pihaknya sudah menyiapkan skenario antisipasi musim kemarau seperti tahun 2023.

Kala itu potensi kekeringan di Bantul terjadi di 11 kapanewon. Itu dilakukan mengingat potensi musim kemarau tahun ini diperkirakan sama seperti tahun 2023.

"Kami mengimbau masyarakat untuk tetap mengedepankan sikap hemat dalam menggunakan air. Begitu juga dengan bantuan dropping air bersih yang diberikan oleh BPBD Bantul dan lainnya, diharapkan dapat memenuhi kebutuhan primer atau minum dan memasak untuk masyarakat yang membutuhkan," harap dia. (*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.