TRIBUNBANTEN.COM - Asap dari tungku dapur Supriyati tak pernah benar-benar padam selama lebih dari tiga dekade.
Dari tangan perempuan asal Yogyakarta itu, seporsi gudeg bukan hanya menjadi hidangan khas yang dirindukan pelanggan, tetapi juga menjadi penopang ekonomi keluarganya di Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Provinsi Banten.
Selama 32 tahun berjualan, Supriyati berhasil membesarkan sekaligus menyekolahkan lima anaknya dari hasil berjualan gudeg.
Di tengah menjamurnya kuliner modern dan menurunnya jumlah pelanggan, ia memilih tetap mempertahankan resep warisan keluarga yang telah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.
Usaha yang dirintis sejak 1994 itu bukan sekadar warung yang menjual makanan khas Yogyakarta.
Dari warung di Jalan Kompas, Ciputat Timur, gudeg menjadi sumber penghidupan keluarga yang dibangun bersama sang suami setelah merantau ke Tangsel.
Supriyati bercerita, keputusannya membuka usaha gudeg berawal dari keinginan membantu perekonomian keluarga. Saat itu, suaminya bekerja sebagai sopir dan penghasilannya dinilai belum cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah.
"Saya ngikut suami. Suami saya sopir. Saya punya ide, saya buka gudeg. Ternyata dari situ bisa membesarkan anak-anak saya," ucap Supriyati kepada TribunTangerang.com, Ciputat Timur, Selasa (28/7/2026).
Baca juga: Sosok AKP Pardiman, Kasat Narkoba Polres Tangsel Ditangkap Terkait Kasus Narkoba
Kemampuan memasak gudeg bukan didapat secara instan. Sejak kecil, Supriyati tumbuh di lingkungan keluarga pembuat gudeg di Yogyakarta sehingga resep yang digunakan saat ini merupakan warisan turun-temurun.
"Orang tua saya semua pembuat gudeg. Saya belajar dari keluarga. Sampai sekarang resepnya tidak saya ubah," ucapnya.
Ia mengaku tetap mempertahankan resep asli yang diwariskan keluarganya meski selera masyarakat terus berubah. Baginya, menjaga cita rasa jauh lebih penting daripada mengikuti tren.
"Semua orang bisa bikin gudeg, tapi resepnya beda-beda. Kalau saya tetap pakai resep dari nenek saya. Jadi rasanya tetap rasa Jogja," katanya.
Perjalanan usahanya tidak selalu berjalan mulus. Pada masa awal berjualan, Supriyati harus membangun pelanggan sedikit demi sedikit hingga akhirnya warungnya dikenal masyarakat sekitar.
Seiring waktu, gudeg buatannya mulai memiliki pelanggan tetap. Warga sekitar, pekerja, hingga pelanggan dari luar daerah datang silih berganti untuk menikmati gudeg yang dimasaknya setiap pagi.
Masa paling sibuk ia rasakan sebelum pandemi Covid-19. Saat itu, pesanan datang hampir tanpa henti, baik dari pelanggan yang makan langsung maupun melalui layanan pesan antar.
"Itu lagi rame-ramenya. Sebelum Covid, sehari bisa 35 sampai 45 pesanan," ujarnya.
Pandemi sempat mengubah pola penjualan. Meski pembeli yang datang langsung berkurang, pesanan secara daring masih mampu menopang usahanya hingga beberapa waktu setelah pandemi mereda.
Namun kondisi itu tidak bertahan lama. Kini, menurut Supriyati, jumlah pelanggan terus menurun seiring banyaknya pilihan kuliner baru yang bermunculan.
"Sekarang memang sepi. Paling sehari tujuh sampai sepuluh pesanan. Tapi masih bertahan saja sudah alhamdulillah," ucapnya.
Meski pendapatan tidak lagi sebesar dulu, Supriyati memilih tetap membuka warung setiap hari. Baginya, usaha tersebut telah menjadi bagian dari perjalanan hidup yang sulit dipisahkan.
"Yang penting hari tua saya enggak nganggur. Masih bisa jualan, saya syukuri," tuturnya.
Dari hasil berjualan gudeg itulah, ia berhasil membiayai pendidikan kelima anaknya hingga dewasa. Sebagian telah lulus kuliah, bekerja, berumah tangga, bahkan memberinya cucu.
"Saya bisa menyekolahkan lima anak. Ada yang sudah selesai kuliah, sudah kerja, sudah berkeluarga. Semua dari hasil jualan gudeg," ujarnya.
Selain melayani pembeli harian, Supriyati menerima pesanan dalam jumlah besar untuk berbagai acara seperti hajatan, syukuran, hingga kenduri.
"Kalau ada yang pesan buat acara bisa. Biasanya pesan tiga hari sebelumnya. Pernah sampai ratusan porsi," ucapnya.
Di usianya yang hampir menginjak 60 tahun, semangat Supriyati menjaga usaha keluarga belum surut.
Ia berharap gudeg yang telah menemaninya lebih dari tiga dekade tetap mendapat tempat di hati masyarakat, sekaligus menjadi pengingat sebuah usaha sederhana mampu menghidupi keluarga selama puluhan tahun.
"Saya berharap masih ada yang suka gudeg. Kalau masih ada yang minat, silakan datang. Mudah-mudahan usaha ini tetap bisa bertahan," ucapnya.
Gudeg Jogja Bu Supriyati berlokasi di Jalan Kompas Nomor 7, Cempaka Putih, Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan, Banten, tepat di depan Alfamart Menjangan 1.
Bagi masyarakat yang ingin menikmati cita rasa gudeg khas Yogyakarta, menu Gudeg Jogja Bu Supriyati tersedia melalui berbagai aplikasi layanan pesan-antar makanan.
Selain itu, pelanggan dapat melakukan pemesanan langsung melalui WhatsApp di nomor 0858-1019-0648, termasuk untuk kebutuhan acara atau pemesanan dalam jumlah besar.