Laporan Wartawan TribunSolo.com, Ahmad Syarifudin
TRIBUNSOLOM.COM, SOLO - Meski harus mengeluarkan biaya sewa lapak hingga Rp 4,5 juta per kavling, para pedagang tetap optimistis Pasar Malam Sekaten Solo 2026 akan ramai pengunjung.
Mereka berharap tingginya antusiasme masyarakat selama perayaan tahunan tersebut mampu meningkatkan penjualan dan menutup biaya operasional.
Salah seorang pedagang dawet, Wawan, mengaku tetap memilih membuka lapak di Pasar Malam Sekaten yang digelar di Alun-Alun Utara Solo, Jawa Tengah pada 2-30 Agustus 2026.
Ia yakin momen Sekaten masih menjadi kesempatan yang baik untuk mencari rezeki.
“Bismillah aja. Kita bismillah dibilang ramai mendahului yang kuasa. Alhamdulillah cukup. Kalau Sabtu-Minggu ramai. Gamelannya turun ramai lagi. Ya kalau pas Sabtu-Minggu ada (100 porsi),” jelasnya saat ditemui di lapaknya, Selasa (28/7/2026).
Optimisme tersebut tetap muncul meski biaya sewa lapak yang harus dibayarkan tidak sedikit.
Wawan mengungkapkan dirinya dikenai biaya sewa sebesar Rp 4,5 juta untuk satu kavling selama Pasar Malam Sekaten berlangsung.
“Macam-macam. Kalau saya kena Rp 4,5 juta,” ungkapnya.
Menurut Wawan, pembayaran biaya sewa tidak harus dilakukan sekaligus.
Pengelola memberikan skema pembayaran bertahap sehingga pedagang dapat mencicil sebagian biaya selama acara berlangsung.
“Bayarnya nggak langsung. Bayarnya setengah sisanya sambil berjalan,” terangnya.
Biaya tersebut sudah mencakup satu kavling berukuran 3 x 3 meter yang dilengkapi fasilitas lampu.
Baca juga: Pedagang Lama Tak Lagi Dapat Diskon Sewa Lapak Sekaten Solo 2026, Kini Bayar Tarif Penuh
Wawan menilai keramaian pengunjung biasanya meningkat saat akhir pekan.
Selain itu, prosesi turunnya gamelan Sekaten juga selalu menjadi daya tarik yang mampu mendongkrak jumlah pembeli.
Pada momen ramai tersebut, ia mengaku dapat menjual sekitar 100 porsi dagangannya dalam sehari.
Selama Pasar Malam Sekaten berlangsung, Wawan juga memperpanjang jam operasional usahanya.
Jika pada hari biasa ia berjualan hingga waktu Asar, saat Sekaten ia tetap melayani pembeli hingga malam.
“Kita di sini bukanya dari pagi jam 9 sampai ashar. Ada event saya sampai malam. Mudah-mudahan ramai,” terangnya.
Wawan mengaku dirinya merupakan pedagang yang setiap tahun mengikuti Pasar Malam Sekaten.
Sehari-hari ia juga berjualan di depan Masjid Agung Keraton Surakarta.
“Saya setiap sekaten di sini. Saya hariannya di depan masjid,” jelasnya.
Meski begitu, ia tetap dikenai tarif sewa yang sama dengan pedagang lain.
Bahkan, potongan harga yang sempat diberikan kepada pedagang lama pada Sekaten tahun lalu kini sudah tidak lagi berlaku.
“Harganya sama cuma dulu dapat potongan untuk pedagang. Alhamdulillah saya ambil saya nggak pindah-pindah,” tuturnya.
Baca juga: Biaya Sewa Lapak Pasar Malam Sekaten Solo Tembus Rp 4,5 Juta per Kavling, Bisa Dicicil
Menjelang pelaksanaan Sekaten, dualisme di Keraton Kasunanan Surakarta kembali memunculkan perdebatan mengenai pihak yang berhak mengelola aset Keraton, termasuk Alun-Alun Utara dan Alun-Alun Selatan.
Namun, Wawan memilih tidak ikut mencampuri polemik tersebut. Baginya, yang terpenting adalah tetap dapat berjualan dan mencari nafkah.
“Kalau saya pedagang kita nggak ngurusi. Kita nggak mau tahu yang di dalam. Kita mencari rejeki di area sini. Mau siapa saja monggo. Berapa pun kita nikmati,” jelasnya.
Pasar Malam Sekaten Solo 2026 dijadwalkan berlangsung mulai 2 hingga 30 Agustus di Alun-Alun Utara.
Meski harus mengeluarkan biaya sewa lapak hingga Rp 4,5 juta per kavling, para pedagang tetap berharap keramaian Sekaten mampu membawa keuntungan dan menjadi sumber penghasilan yang lebih baik dibanding hari-hari biasa.
(*)