Kadang Tiga Malam Belum Dapat Penumpang, Cerita Sopir Bus Manado-Kawangkoan Bertahan Mencari Nafkah
Gryfid Talumedun July 28, 2026 06:38 PM

 

TRIBUNMANADO.CO.ID, MANADO – Asap rokok tipis mengepul dari tangan Rico siang itu.

Pria asal Kawangkoan tersebut duduk santai di kursi sopir bus yang terparkir di Terminal Karombasan, Kota Manado, Sulawesi Utara pada Selasa (28/7/2026) siang. 

Sesekali pandangannya mengarah ke pintu terminal, berharap ada penumpang yang datang.

Di sekelilingnya, suasana terminal berjalan seperti biasa. 

Baca juga: Warga Bitung Korban Pencurian, Kerugian Capai Rp 75 Juga, Tak Sampai 24 Jam Polisi Tangkap Pelaku

Beberapa bus berjejer, menunggu giliran masuk jalur. 

Beberapa penumpang sudah memilih tempat duduk di dalam bus.

Sementara sopir lainnya bercengkerama untuk mengisi waktu.

Rico pun masih menunggu. Belum saatnya berangkat.

Ketika disapa Tribun Manado, ia menyambut dengan ramah. 

Tak ada kesan canggung. Obrolan mengalir begitu saja.

Sesekali ia mengisap rokoknya, lalu tertawa kecil saat mengenang masa-masa terminal yang menurutnya jauh lebih ramai dibanding sekarang.

"Dulu rame sekali," katanya singkat saat ditanya.

Tangannya kemudian menunjuk deretan bus yang sedang terparkir.

"Itu yang ada sekarang, tinggal delapan bus yang jalan ke Kawangkoan," ujarnya.

Nada bicaranya tetap santai.

Namun, raut wajahnya perlahan berubah ketika mulai menceritakan kondisi yang mereka hadapi sejak pandemi Covid-19.

Menurut Rico, sebelum pandemi, jumlah bus jurusan Manado-Kawangkoan mencapai sekitar 15 unit, bahkan lebih.

Penumpang hampir selalu memenuhi kursi.

Kini situasinya berbeda.

Pandemi Covid-19 menjadi titik awal perubahan besar bagi para sopir angkutan.

Pembatasan aktivitas saat itu membuat jumlah penumpang turun drastis.

Kemudian muncul lagi para taksi gelap, seperti menutup jalan mereka.

"Belum kembali seperti dulu, sekarang memang sudah susah," katanya pelan.

Saat ini, tarif bus jurusan Manado-Kawangkoan dipatok Rp 20 ribu per penumpang.

Begitu juga kalau mau mengirim barang, tarifnya seharga satu tiket penumpang.

Kata dia, jika dulu mereka menunggu bus terisi penuh sebelum berangkat, sekarang keadaan sudah tidak memungkinkan.

"Kalau sudah sekitar 15 orang, torang so jalan. Kalau tunggu penuh susah," ujarnya sambil tersenyum tipis.

Bus yang dikemudikannya sebenarnya mampu mengangkut sekitar 20 penumpang.

Namun, menunggu hingga semua kursi terisi hanya akan membuat waktu semakin lama.

Bagi Rico, tantangan menjadi sopir bukan hanya soal menyetir.

Yang paling berat justru menunggu.

Ada hari-hari ketika penumpang sangat sedikit.

Bahkan, ia mengaku pernah bertahan berhari-hari di terminal.

Sambil tertawa, Rico membagikan istilah yang hanya dipahami sesama sopir.

"Kalau so tiga malam di terminal, biasanya torang bilang somo makan cucur," katanya, lalu terkekeh.

Candaan itu lahir dari kenyataan.

"Tiga malam" menjadi istilah ketika sopir terlalu lama menunggu penumpang hingga belum juga bisa pulang.

Di balik tawanya, tersimpan beban yang tidak ringan.

Sebagai kepala keluarga, Rico harus terus mencari nafkah di tengah kondisi yang belum sepenuhnya pulih.

Biaya hidup terus berjalan.

"Kadang dihitung-hitung, pengeluaran lebih besar daripada pemasukan," ucapnya.

Meski demikian, ia tidak memilih menyerah.

Baginya, pekerjaan ini sudah menjadi bagian dari hidupnya.

Ia percaya, selama terus berusaha, selalu ada jalan yang Tuhan siapkan.

"Yang penting tetap bersyukur. Tuhan pasti buka jalan dan kasih berkat," katanya dengan senyum yang kembali mengembang.

Agar penghasilan tetap ada, Rico bersama rekan-rekannya kini juga menerima jasa charter dan penyewaan bus.

Rombongan keluarga, wisatawan, hingga masyarakat yang membutuhkan kendaraan bisa menggunakan layanan tersebut.

Bagi Rico, setiap telepon yang masuk adalah harapan baru. 

Itu seperti penyelamat yang datang saat dibutuhkan. (Pet)

-

WhatsApp Tribun Manado: Klik di Sini

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.