BANGKAPOS.COM -- Dipercaya memimpin Bank Indonesia selama dua periode, Perry Warjiyo resmi menyatakan mundur dari jabatannya sebagai Gubernur BI per Senin (27/7/2026).
Sebelum menyatakan mundur, ternyata Perry Warjiyo sudah tidak masuk kantor selama dua hari.
Perry Warjiyo diketahui sudah tidak lagi berkantor di Bank Indonesia (BI) setelah mengikuti Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 21-22 Juli 2026.
Berdasarkan informasi yang dihimpun Tribunnews, Perry masih mengikuti konferensi pers hasil RDG secara hybrid dari Gedung Bank Indonesia.
Dalam rapat tersebut, BI memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate di level 5,75 persen.
Seorang sumber di lingkungan Bank Indonesia mengatakan, Perry terakhir berada di kantor saat pelaksanaan RDG bersama para deputi gubernur yang berlangsung di lantai 3 Gedung BI.
Baca juga: Dedi Mulyadi Diminta Jangan Main Hakim Sendiri soal Sayembara Begal, Pigai Singgung HAM
"Iya lantai 3 semua (termasuk deputi gubernur BI)," ujar sumber kepada Tribunnews, Selasa (28/7/2026).
Setelah RDG selesai, Perry disebut menjalani perjalanan dinas.
Namun, sumber tersebut mengaku tidak mengetahui tujuan maupun agenda perjalanan dinas yang dilakukan Perry.
"Iya cuman dinas ke mana kurang paham," tuturnya.
Sumber itu juga menyebut aktivitas di lingkungan BI masih berjalan normal hingga menjelang pengumuman pengunduran diri Perry.
Menurut dia, para pegawai BI juga tidak mengetahui lebih awal terkait rencana pengunduran diri Perry. Informasi tersebut baru diketahui saat pengumuman resmi disampaikan pada Senin.
"Kita enggak tahu. Kita nyiapin Konferensi Pers normal. Kita siapin dari dini hari. Sebenarnya kita enggak tau juga informasi apa yang mau disampaikan," katanya.
Saat ditanya mengenai kondisi ruang kerja Perry di lantai 3, sumber tersebut mengaku belum mengetahui apakah seluruh barang pribadi maupun dokumen telah dipindahkan.
"Oh enggak tahu, itu kan sudah diterima pengunduran dirinya. Kalau apakah barang atau apa mungkin masih ada karena kan dokumen-dokumen banyak," jelas dia.
Ia juga mengatakan belum ada perpindahan ruang kerja secara langsung kepada Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti yang kini ditunjuk sebagai Pejabat Gubernur Sementara Bank Indonesia.
"Iya Bu Destry juga masih di ruangannya," ungkapnya.
Ekonom dari Universitas Sebelas Maret (UNS), Lukman Hakim, menilai mundurnya Perry Warjiyo dari Gubernur Bank Indonesia (BI) cukup berpengaruh pada nilai tukar rupiah.
Namun, kata Lukman, sebenarnya nilai tukar rupiah sekarang ini anjlok karena kebijakan pemerintah juga, termasuk soal pergantian Gubernur BI.
Adapun, pengunduran diri Perry sebelumnya diumumkan oleh Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg), Prasetyo Hadi. Dia mengatakan bahwa Perry mengajukan surat pengunduran diri kepada Presiden Prabowo Subianto pada Sabtu (25/7/2026).
Sepanjang sejarah, diketahui baru kali ini Gubernur BI mengundurkan diri secara sukarela. Perry sendiri menjabat sebagai Gubernur BI pertama kali periode 2018-2023, kemudian kembali ditetapkan menjadi Gubernur BI untuk periode 2023-2028.
Selama 7 tahun masa kepemimpinan Perry di BI, mata uang RI sempat menguat ke kisaran Rp13.600–Rp13.750 per dolar AS pada awal 2020, mencatat kinerja terbaik selama dipimpin Perry.
Baca juga: Siapa Endang Yustika, Viral Sebut Warga Threads Toxic Tak Punya Kehidupan, Kini Minta Maaf
Hanya saja, hal tersebut tidak berlangsung lama karena bencana Covid-19 melanda pada Maret 2020 lalu, sehingga memicu gejolak pasar keuangan global dan mendorong arus modal keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia.
Akibatkan, rupiah pun terdepresiasi hingga kisaran Rp16.500–Rp16.650 per dolar AS dan tekanan terhadap rupiah masih terus meningkat setelahnya.
Pada 2026 ini, tekanan rupiah masih belum mereda dan rupiah melemah hingga menyentuh Rp18.000–Rp18.030 per dolar AS, level terendah sepanjang masa kepemimpinan Perry.
Kemudian, muncul kabar Perry mengundurkan diri. Sehari setelah Perry mundur, rupiah pun anjlok di atas Rp18.070 per dolar AS.
Pada Selasa (28/7/2026) pagi, nilai tukar rupiah bergerak turun hingga ditutup pada kisaran Rp18.083–Rp18.088 per dolar AS, bahkan hingga siang ini berada di level kisaran Rp18.100.
Menurut Lukman, melemahnya nilai tukar rupiah terjadi akibat sentimen pasar terhadap pemerintah saat ini. Ditambah lagi, ada pergantian Gubernur BI tersebut.
"Artinya, upaya-upaya yang dilakukan oleh Bank Indonesia, misalkan dengan melakukan intervensi, kemudian juga moral suasion, macam-macam kan ya tidak bisa, tidak efektif gitu. Nah, apalagi kemudian penggantian (Gubernur BI) ini," katanya saat dikonfirmasi Tribunnews.com Solo yang berkantor di Karanganyar, Jawa Tengah, Selasa (28/7/2026).
Untuk diketahui, sesuai ketentuan dalam Undang-Undang Bank Indonesia, posisi Gubernur BI untuk sementara akan dijalankan oleh Deputi Gubernur Senior.
Sehingga, Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti ditunjuk sebagai Pejabat Gubernur Sementara hingga mekanisme pengisian jabatan gubernur definitif dilakukan.
Lukman lantas mengatakan, pelemahan nilai tukar rupiah pada dasarnya mencerminkan kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang memang masih lemah.
"Diakui saja bahwa kita ini bukan negara yang kuat, ngitungnya sederhana saja, ekspor kita itu kan hanya sekitar Rp270 miliar dolar," ungkapnya.
Lukman pun membandingkan nilai ekspor Indonesia dengan sejumlah negara di kawasan, seperti ekspor Vietnam yang telah mencapai sekitar US$440 miliar, Singapura di atas US$500 miliar, sementara Malaysia diperkirakan mendekati US$400 miliar atau hampir setara dengan Vietnam.
Di sisi lain, Lukman mengatakan bahwa nilai ekspor Indonesia yang hanya sekitar US$270 miliar membuat neraca perdagangan masih mencatatkan surplus.
"Impornya kira-kira 240 miliar dolar, sehingga kita surplus perdagangan kita hanya 30 miliar US dolar," paparnya.
Namun, Lukman juga mengingatkan, meski neraca perdagangan mencatat surplus, neraca jasa Indonesia justru mengalami defisit sekitar US$35 miliar.
Akibatnya, setelah digabungkan, transaksi berjalan (current account) Indonesia tetap mengalami defisit sekitar US$5 miliar setiap tahun.
Menurut Lukman, kondisi tersebut menunjukkan bahwa defisit transaksi berjalan telah berlangsung selama bertahun-tahun.
"Artinya, secara struktural ekspor kita emang nggak kokoh, sehingga begitu diterpak isu, kemudian pasar bereaksi langsung melemah, pasti. Jadi kalau mau diperbaiki ya mestinya ekspor kita diperbaiki, harus naik dua kali lipat," tegasnya.
"Seperti halnya Malaysia, Malaysia paling bagus, Malaysia-Vietnam ya, Vietnam paling bagus. Vietnam kan baru kemarin lah kira-kira tampil ya, kira-kira 15 tahun terakhir ini kan, tapi ekspornya menyalip kita hari ini," papar Lukman.
(Bangkapos.com/TribunBisnis/Tribunnews.com)