BANGKAPOS.COM--Sejumlah nama yang pernah menduduki posisi strategis di pemerintahan, lembaga negara, hingga sektor keuangan nasional tercatat mengundurkan diri dari jabatannya sepanjang 2026.
Mereka datang dari latar belakang yang beragam. Ada yang dikenal sebagai ekonom senior, bankir investasi, pejabat pemerintahan, pengawas pasar modal, hingga mantan jurnalis yang kemudian masuk ke lingkar kekuasaan.
Beberapa nama yang menjadi sorotan antara lain mantan Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar, mantan Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK Mirza Adityaswara, mantan Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman, Inarno Djajadi, Aditya Jayaantara, serta mantan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nanik S Deyang.
Di sisi lain, terdapat pula nama Perry Warjiyo yang masih menjabat sebagai Gubernur Bank Indonesia hingga periode 2028.
Berikut profil dan rekam jejak sejumlah tokoh tersebut.
1. Hasan Nasbi, dari Wartawan hingga Dunia Politik
Hasan Nasbi memiliki perjalanan karier yang cukup panjang sebelum dikenal sebagai salah satu figur yang aktif dalam komunikasi politik nasional.
Ia sempat menjadi wartawan Kompas pada 2005-2006.
Kariernya kemudian berlanjut ketika bergabung dengan Pusat Kajian Politik Universitas Indonesia sebagai peneliti pada 2006 hingga 2008.
Nama Hasan Nasbi semakin dikenal publik setelah ia menjadi salah satu pendukung pasangan Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok dalam Pilkada DKI Jakarta 2012.
Dalam perjalanan kariernya, Hasan juga dikenal sebagai sosok yang kerap menyampaikan kritik terhadap Anies Baswedan.
Pengalamannya sebagai jurnalis, peneliti, dan pengamat politik kemudian membawanya masuk lebih jauh ke dalam lingkar pemerintahan.
2. Iman Rachman, Bankir Investasi yang Pernah Memimpin BEI
Iman Rachman merupakan salah satu profesional yang memiliki pengalaman panjang di industri pasar modal, keuangan korporasi, hingga perusahaan milik negara.
Ia resmi menjabat sebagai Direktur Utama Bursa Efek Indonesia berdasarkan hasil Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada 29 Juni 2022.
Namun, pada Jumat (30/1/2026), Iman mengumumkan pengunduran dirinya dari posisi tersebut.
Keputusan itu disampaikan setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan selama dua hari berturut-turut yang kemudian berujung pada penerapan trading halt atau penghentian sementara perdagangan saham sebanyak dua kali.
"Teman-teman sudah mengikuti dua hari terakhir bagaimana kondisi market kita dua hari terakhir, walaupun kondisi kita hari ini membaik, saya ingin menyampaikan statement dan ini tidak ada tanya jawab," kata Iman kepada wartawan di Gedung BEI, Jakarta.
"Saya sebagai Direktur Utama Bursa Efek Indonesia, sebagai bentuk tanggung jawab saya terhadap apa yang terjadi dua hari kemarin, menyatakan mengundurkan diri sebagai Direktur Utama Bursa Efek Indonesia," lanjutnya.
Sebelum memimpin BEI, Iman mengawali karier di industri pasar modal sebagai Manager PT Danareksa Sekuritas pada 1998-2003.
Ia kemudian bergabung dengan PT Mandiri Sekuritas sebagai Direktur Investment Banking selama lebih dari satu dekade, yakni pada 2003-2016.
Pengalaman tersebut membuat Iman dikenal memiliki pemahaman yang kuat mengenai transaksi korporasi, pasar modal, dan strategi bisnis.
Ia pernah menjabat Direktur Keuangan PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) pada 2016-2018 dan Direktur Keuangan PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) pada 2018-2019.
Pada 2019-2020, Iman dipercaya menjadi Direktur Utama PT Perusahaan Pengelola Aset (Persero).
Sebelum memimpin BEI, ia menjabat Direktur Strategi, Portofolio dan Pengembangan Usaha PT Pertamina (Persero) pada 2020-2022.
Iman meraih gelar Sarjana Ekonomi dari Universitas Padjadjaran pada 1995 dan gelar Master of Business Administration (MBA) Finance dari Leeds University Business School pada 1997.
3. Mahendra Siregar, Ekonom dan Diplomat yang Berpengalaman
Mahendra Siregar merupakan salah satu ekonom senior yang memiliki pengalaman panjang di pemerintahan, diplomasi, dan sektor keuangan.
Ia menjabat sebagai Ketua Dewan Komisioner OJK sejak 20 Juli 2022 hingga 30 Januari 2026.
Pada Jumat (30/1/2026), Mahendra resmi mengundurkan diri dari jabatan tersebut.
Pengunduran diri Mahendra dilakukan bersamaan dengan sejumlah pejabat OJK lainnya, yakni Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK (KE PMDK) Inarno Djajadi, Deputi Komisioner Pengawas Emiten, Transaksi Efek, Pemeriksaan Khusus, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK (DKTK) Aditya Jayaantara, serta Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK Mirza Adityaswara.
"OJK menyampaikan bahwa Ketua Dewan Komisioner OJK, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK (KE PMDK), dan Deputi Komisioner Pengawas Emiten, Transaksi Efek, Pemeriksaan Khusus, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK (DKTK) telah menyampaikan pengunduran diri dari jabatannya," tulis keterangan pers OJK yang diterima Tribunnews.
Mahendra menyatakan pengunduran dirinya bersama pejabat lainnya merupakan bentuk tanggung jawab moral untuk mendukung proses pemulihan.
"OJK menegaskan bahwa proses pengunduran diri ini tidak mempengaruhi pelaksanaan tugas, fungsi, dan kewenangan OJK dalam mengatur, mengawasi, serta menjaga stabilitas sektor jasa keuangan secara nasional," tulis OJK.
Mahendra sebelumnya pernah menduduki sejumlah posisi penting di pemerintahan.
Ia pernah menjadi Wakil Menteri Luar Negeri pada 2019-2022 dan Duta Besar Republik Indonesia untuk Amerika Serikat pada 2019.
Sebelumnya, ia menjabat Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal pada 2013-2014, Wakil Menteri Keuangan pada 2011-2013, serta Wakil Menteri Perdagangan pada 2009-2011.
Mahendra memperoleh gelar Sarjana Ekonomi dari Universitas Indonesia pada 1986 dan Master of Economics dari Monash University, Melbourne pada 1991.
4. Mirza Adityaswara, Ekonom Senior di Sektor Keuangan
Mirza Adityaswara juga menjadi salah satu nama yang mengundurkan diri dari OJK pada 30 Januari 2026.
Ia menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK sejak 2022 hingga 2026.
"OJK menegaskan bahwa proses pengunduran diri ini tidak mempengaruhi pelaksanaan tugas, fungsi, dan kewenangan OJK dalam mengatur, mengawasi, serta menjaga stabilitas sektor jasa keuangan secara nasional," tulis OJK dalam siaran pers, Jumat (30/1/2026).
Mirza lahir di Surabaya pada 1965 dan dikenal sebagai ekonom senior.
Ia merupakan lulusan Sarjana Ekonomi Universitas Indonesia pada 1992 dan meraih gelar Master of Applied Finance dari Macquarie University, Sydney, Australia.
Karier profesionalnya dimulai sebagai Dealer di Bank Sumitomo Niaga pada 1989.
Ia kemudian menjadi Head of Securities Trading & Research di Bahana Sekuritas pada 2002-2005.
Mirza selanjutnya menempati berbagai posisi strategis di industri pasar modal dan perbankan.
Ia juga pernah menjabat Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia hingga 2019 di bawah kepemimpinan Gubernur BI Agus Martowardojo.
5. Inarno Djajadi, Pernah Memimpin Bursa Efek Indonesia
Inarno Djajadi merupakan salah satu tokoh yang memiliki pengalaman panjang di industri pasar modal Indonesia.
Ia menjabat sebagai Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK pada 2022 hingga 2026.
Inarno juga pernah dipercaya menjadi Direktur Utama Bursa Efek Indonesia.
Selain itu, ia pernah menjabat sebagai Komisaris BEI pada Juni 2017-2018.
Inarno lahir di Yogyakarta pada 31 Desember 1962 dan merupakan lulusan Sarjana Ekonomi Universitas Gadjah Mada.
Sama seperti Mahendra Siregar dan Mirza Adityaswara, Inarno mengundurkan diri dari jabatannya di OJK pada 30 Januari 2026.
6. Aditya Jayaantara, Pejabat Pengawas Emiten dan Transaksi Efek
Aditya Jayaantara merupakan mantan Deputi Komisioner Pengawas Emiten, Transaksi Efek, Pemeriksaan Khusus, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK.
Ia dilantik untuk menduduki jabatan tersebut pada 6 Januari 2026.
Sebelum bergabung dengan OJK, Aditya pernah menjabat sebagai Direktur Penilaian Direktorat Jenderal Kekayaan Negara Kementerian Keuangan pada 2011.
Aditya juga tercatat sebagai salah satu pejabat OJK yang mengundurkan diri pada 30 Januari 2026 bersama Mahendra Siregar, Mirza Adityaswara, dan Inarno Djajadi.
7. Nanik S Deyang, Mantan Jurnalis yang Masuk Lingkar Pemerintahan
Nanik S Deyang memiliki perjalanan karier yang berbeda dibandingkan sejumlah tokoh lainnya.
Perempuan bernama lengkap Nanik Sudaryati Deyang itu lahir di Madiun, Jawa Timur, pada 3 Januari 1968.
Ia mengawali karier sebagai jurnalis Tabloid Bangkit.
Selama menjadi wartawan, Nanik dikenal kritis terhadap berbagai isu sosial, politik, dan ekonomi.
Namanya mulai semakin dikenal dalam dunia politik pada Pilpres 2019.
Saat itu, ia menjabat Wakil Ketua Badan Kemenangan Nasional Koalisi Indonesia Adil Makmur yang merupakan tim pemenangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.
Kedekatan Nanik dengan Prabowo kemudian berlanjut setelah ia dilantik menjadi Wakil I Badan Pengentasan Kemiskinan periode 2024-2029 pada Oktober 2024.
Pada 12 Juni 2025, Nanik juga resmi diangkat sebagai Komisaris Independen PT Pertamina (Persero).
Pengangkatan tersebut berdasarkan Keputusan Menteri BUMN selaku Pemegang Saham Seri A Dwiwarna Perusahaan Perseroan PT Pertamina (Persero) Nomor SK-150/MBU/06/2025 / Nomor SK.012/DI-DAM/DO/2025.
Bergabungnya Nanik dengan Pertamina diumumkan dalam RUPS Tahunan Pertamina yang digelar pada 12 Juni 2025.
Kemudian pada 17 September 2025, Nanik dilantik menjadi Wakil Kepala Badan Gizi Nasional dan melepas jabatan Wakil I Badan Pengentasan Kemiskinan.
Nanik mendampingi Dadan Hindayana yang saat itu menjabat sebagai Kepala BGN.
Pada 8 Juni 2026, Nanik kemudian dipercaya menjadi Kepala BGN.
Namun, jabatan tersebut hanya diembannya selama sekitar satu setengah bulan.
Nanik mengundurkan diri sebagai Kepala BGN pada Rabu (22/7/2026).
Ia mengatakan pengunduran dirinya telah disetujui oleh Presiden Prabowo Subianto.
"Saya sampaikan ke presiden juga dengan beribu maaf sepertinya saya harus mundur sebagai Kepala BGN, demi kesehatan saya," tulis Nanik.
"Karena presiden prihatin dan kasihan dengan saya, presiden menyetujui, namun saya diminta tetap ikut mengawasi BGN," ujarnya.
Nanik mengaku berat hati meninggalkan posisi Kepala BGN.
Ia mengatakan harus berangkat ke luar negeri untuk menjalani pengobatan.
"Ini bukan karena tidak percaya dokter yang hebat di Indonesia, tapi untuk second opinion dan kebetulan ada kawan yang merekomendasikan di tempat yang mau saya tuju," katanya.
8. Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia hingga 2028
Perry Warjiyo merupakan salah satu tokoh yang masih memegang posisi strategis di sektor keuangan nasional.
Ia lahir di Sukoharjo, Jawa Tengah, pada 25 Februari 1959.
Perry ditetapkan sebagai Gubernur Bank Indonesia untuk periode kedua berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 38/P Tahun 2023 tanggal 5 Mei 2023.
Ia mengucapkan sumpah jabatan pada 24 Mei 2023.
Perry menjabat Gubernur Bank Indonesia periode 2018-2023 dan kembali dipercaya untuk periode 2023-2028.
Sebelum menjadi gubernur, Perry pernah menjabat Deputi Gubernur BI pada 2013-2018.
Dalam periode 2009-2013, ia juga pernah menjabat sebagai Asisten Gubernur untuk kebijakan moneter, makroprudensial, dan internasional.
Selain itu, Perry pernah dipercaya sebagai Direktur Eksekutif Departemen Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter Bank Indonesia.
Karier Perry di Bank Indonesia telah dimulai sejak 1984.
Dengan pengalaman lebih dari tiga dekade di bank sentral, Perry menjadi salah satu figur yang memiliki pengalaman panjang dalam kebijakan moneter dan stabilitas sistem keuangan Indonesia.
Perjalanan karier para tokoh tersebut menunjukkan bagaimana posisi strategis di Indonesia diisi oleh figur dengan latar belakang yang beragam.
Iman Rachman dan Inarno Djajadi memiliki pengalaman panjang di pasar modal. Mahendra Siregar dan Mirza Adityaswara dikenal sebagai ekonom senior dengan pengalaman di sektor keuangan dan pemerintahan.
Sementara itu, Nanik S Deyang menempuh perjalanan dari dunia jurnalistik hingga masuk ke pemerintahan dan dipercaya memimpin BGN.
Aditya Jayaantara memiliki pengalaman di lingkungan Kementerian Keuangan sebelum dipercaya menduduki posisi strategis di OJK.
Di sisi lain, Perry Warjiyo masih menjadi salah satu figur utama dalam perekonomian nasional melalui posisinya sebagai Gubernur Bank Indonesia.
Berbagai perjalanan tersebut memperlihatkan bahwa pengalaman profesional, birokrasi, politik, dan sektor keuangan menjadi modal penting bagi seseorang untuk dipercaya mengisi jabatan strategis di tingkat nasional.
(Tribunnews.com/Rakli/Febri/Taufik Ismail)