TRIBUNWOW.COM – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat terus mengalami pelemahan hingga menembus level kisaran Rp18.100 pada Selasa (28/7/2026) siang.
Anjloknya mata uang Garuda tersebut terjadi seiring dinamika pengunduran diri Perry Warjiyo dari jabatannya sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI).
Menanggapi situasi perekonomian tersebut, Ekonom dari Universitas Sebelas Maret (UNS), Lukman Hakim, meminta pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto untuk segera membuat kebijakan ekonomi yang lebih rasional guna menenangkan pasar.
Lukman menyoroti alokasi anggaran program unggulan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang mencapai Rp300 triliun karena dinilai mempersempit ruang fiskal negara dan belum berjalan optimal di lapangan.
"Membuat aman dulu caranya adalah membuat kebijakan yang memang rasional. Ini saya rasa sejak zaman Pak Prabowo kan tidak rasional, misalnya MBG Rp300 triliun, betul waktu kampanye itu kan hanya untuk yang stunting kan. Ini kan enggak common sense, itulah maksud saya," ujar Lukman pada Selasa (28/7/2026).
Ia turut membandingkan pemanfaatan anggaran jumbo tersebut dengan era kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang lebih berfokus pada subsidi BBM serta pembangunan infrastruktur yang manfaatnya langsung dirasakan masyarakat.
Selain mengkritik program MBG, Lukman juga menduga adanya tekanan atau intervensi politik di balik mundurnya Perry Warjiyo sebelum masa jabatannya berakhir pada 2028 mendatang, yang pada akhirnya memberikan sentimen negatif bagi kepastian pasar keuangan nasional. (*)