TRIBUNNEWSSULTRA.COM, KENDARI – Pemilihan Rektor (Pilrek) Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari periode 2026–2030 memasuki tahapan akhir dengan menetapkan tiga kandidat yang akan bersaing memperebutkan kursi pimpinan kampus terbesar di Sulawesi Tenggara (Sultra).
Ketiga calon tersebut adalah Wakil Rektor II Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Umum UHO, Prof Ida Usman, yang memperoleh 15 suara anggota senat, Wakil Rektor IV Bidang Kerja Sama, Sistem Informasi, dan Hubungan Masyarakat UHO, Prof Takdir Saili, dengan 11 suara, serta mantan Pelaksana Tugas (Plt) Rektor UHO, Dr Herman, yang meraih 10 suara.
Ketiganya selanjutnya mengikuti tahapan wawancara dan verifikasi dokumen oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) sebelum memasuki pemungutan suara gabungan yang melibatkan 65 persen suara senat dan 35 persen suara kementerian.
Meski begitu, hingga saat ini jadwal wawancara belum ditentukan Kemdiktisaintek. Pihak UHO pun menunggu untuk pelaksanaan wawancara tersebut.
Selain itu, UHO Kendari juga telah mengirimkan surat kepada Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi sebagai undangan untuk menghadiri rapat pemilihan rektor yang diusulkan berlangsung pada 10 Agustus 2026.
Baca juga: 3 Calon Rektor UHO Kendari Tunggu Wawancara Kemendikti Saintek, Jadwal Pemilihan Belum Ditetapkan
"Selanjutnya kami tinggal menunggu kesiapan dari Pak Menteri. Dari pihak kampus semuanya sudah siap," ujar Prof Jamili kepada TribunnewsSultra.com, Selasa (28/7/2026).
Ia menjelaskan, hingga saat ini ketiga calon rektor juga masih menantikan jadwal wawancara dari Kemendiktisaintek sebagai bagian dari tahapan seleksi.
Simak ulasan profil hingga rekam jejak ketiga calon Rektor UHO Kendari, yang dihimpun TribunnewsSultra.com:
Prof Takdir Saili bukan sosok baru dalam kontestasi Pilrek UHO.
Pada pemilihan rektor sebelumnya, ia hanya terpaut satu suara dari rektor terpilih saat itu, almarhum Prof Armid.
Pengalaman tersebut menjadi modal untuk kembali maju pada Pilrek 2026.
Calon rektor nomor urut 9 itu mengaku optimistis dapat memenangkan Pilrek berbekal pengalaman memimpin di berbagai jabatan strategis di lingkungan UHO.
Menurutnya, keberhasilan maupun kekurangan para rektor sebelumnya menjadi bahan evaluasi untuk membawa kampus menjadi lebih maju.
Prof Takdir mengusung visi menjadikan UHO sebagai pusat unggulan pendidikan, riset, dan inovasi berbasis kearifan serta sumber daya lokal yang berdaya saing global guna mendukung pembangunan berkelanjutan di wilayah pesisir, kelautan, dan pedesaan.
Visi tersebut diwujudkan melalui lima misi, yakni peningkatan kualitas pendidikan, penguatan riset dan inovasi, pengembangan karakter mahasiswa, peningkatan tata kelola perguruan tinggi, serta penguatan pengabdian kepada masyarakat.
Lahir di Baubau pada 12 Februari 1969, Prof Takdir merupakan lulusan Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin.
Ia kemudian meraih gelar magister dan doktor di Institut Pertanian Bogor (IPB), serta sempat mengikuti program akademik di Jepang.
Kariernya di UHO dimulai sebagai dosen Fakultas Peternakan pada 1994. Ia pernah menjabat Kepala Laboratorium Peternakan, Ketua Jurusan Peternakan, Dekan Fakultas Peternakan, Ketua Senat Akademik UHO, Direktur Pascasarjana, hingga kini menjabat Wakil Rektor IV Bidang Kerja Sama, Sistem Informasi, dan Hubungan Masyarakat.
Di luar kampus, Prof Takdir juga pernah menjadi anggota Satuan Tugas International Fund for Agricultural Development (IFAD).
Dr Herman maju dalam Pilrek UHO dengan semangat pengabdian.
Menurutnya, UHO merupakan rumah besar intelektual masyarakat Sultra yang memiliki potensi besar untuk berkembang menjadi perguruan tinggi berkelas dunia.
Ia mengusung visi menjadikan UHO sebagai perguruan tinggi kelas dunia yang inklusif, adaptif, unggul, berintegritas, dan berdampak bagi pengembangan wilayah pesisir, kelautan, kepulauan, serta perdesaan, sekaligus mencetak sumber daya manusia unggul menuju Indonesia Emas 2045.
Visi tersebut didukung dengan misi meningkatkan mutu pendidikan, memperkuat riset dan inovasi, memperluas pengabdian kepada masyarakat, membangun tata kelola profesional, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, memperluas kemitraan global, serta memperkuat peran UHO sebagai motor pembangunan daerah.
Dr Herman lahir di Kabupaten Buton Tengah pada 6 Maret 1976. Ia menyelesaikan pendidikan sarjana di Universitas Muslim Indonesia (UMI), magister di Universitas Gadjah Mada (UGM), dan doktor di Universitas Airlangga (Unair).
Karier akademiknya dimulai sebagai dosen hukum UHO pada 2002.
Selama mengabdi, ia pernah menjabat Kepala Laboratorium Hukum dan Kriminologi, Ketua Program Studi Ilmu Hukum, Wakil Dekan, Dekan Fakultas Hukum, hingga dipercaya menjadi Ketua Tim Bantuan Hukum UHO.
Selain itu, ia juga aktif di berbagai organisasi, di antaranya Ketua Badan Pembina Olahraga Mahasiswa Indonesia (BAPOMI) Sultra, Ketua Badan Pembina Seni Mahasiswa Indonesia (BPSMI) Sultra, Ketua Dewan Sengketa Indonesia (DSI) Sultra, serta anggota Majelis Pengawas Notaris Sultra.
Prof Ida Usman menjadi kandidat dengan perolehan suara terbanyak pada tahap penjaringan senat.
Ia mengaku telah mempersiapkan diri mengikuti Pilrek sejak beberapa tahun terakhir.
Bahkan, kesempatan maju pada Pilrek sebelumnya sengaja dilepas untuk memberikan dukungan kepada almarhum Prof Armid yang memiliki visi serupa dalam membangun UHO.
Dalam Pilrek 2026, Prof Ida mengusung visi menjadikan UHO sebagai Socio-Techno University yang unggul, inovatif, dan berdaya saing global, sekaligus menjadi penggerak pengembangan wilayah pesisir, kelautan, dan perdesaan.
Visi tersebut diterjemahkan ke dalam tujuh misi, meliputi pendidikan unggul berbasis Socio-Techno, riset inovatif yang berdampak, pengabdian kepada masyarakat berbasis solusi, kemitraan strategis multilevel, pelestarian kearifan lokal, tata kelola profesional dan inovatif, serta lingkungan akademik yang berintegritas dan inklusif.
Lahir di Tongkuno, Kabupaten Muna, pada 18 April 1972, Prof Ida merupakan alumnus Jurusan Fisika Universitas Hasanuddin. Ia kemudian melanjutkan pendidikan magister dan doktor di Institut Teknologi Bandung (ITB).
Selama berkarier di UHO, Prof Ida pernah menjabat Ketua Jurusan Fisika, Wakil Dekan Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian, Dekan FITK, Dekan FMIPA, dan kini menjabat Wakil Rektor II Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Umum UHO.
Di bidang akademik, ia telah menghasilkan 23 publikasi ilmiah dalam 15 tahun terakhir serta memiliki hak paten di bidang sel surya organik.
Sejumlah penghargaan juga diraihnya, di antaranya Dosen Berprestasi I UHO dan Satyalancana Karya Satya.
Dengan latar belakang, pengalaman, dan visi yang berbeda, ketiga kandidat kini bersaing dalam tahapan akhir Pilrek UHO 2026.
Hasil proses seleksi selanjutnya akan menentukan siapa yang akan memimpin Universitas Halu Oleo untuk periode 2026–2030.
(*)
(TribunnewsSultra.com/Desi Triana/Dewi Lestari)