TRIBUNMATARAMAN.COM, KEDIRI - Harga sejumlah komoditas cabai di Kabupaten Kediri mulai mengalami kenaikan dalam beberapa pekan terakhir. Cuaca panas yang berkepanjangan berdampak pada menurunnya kualitas hasil panen sekaligus mengurangi pasokan cabai dari sentra produksi ke Pasar Induk Pare.
Kondisi tersebut terutama terjadi pada cabai rawit merah dan cabai merah keriting yang mulai mengalami kenaikan harga akibat berkurangnya pasokan dari petani. Sementara itu, harga cabai merah besar masih terpantau relatif stabil.
Pantauan di Pasar Induk Pare, cabai rawit jenis Ori dijual sekitar rp 42 ribu per kilogram. Harga tersebut naik dibanding sebelumnya yang berada di kisaran rp 38 ribu per kilogram.
Tidak hanya harga yang berubah, jumlah pasokan cabai yang masuk ke pasar juga mengalami penurunan cukup signifikan. Jika pada kondisi normal pasokan dapat mencapai sekitar tiga kuintal per hari, kini hanya berkisar satu setengah kuintal.
"Kalau hari ini cabai yang masuk sekitar satu setengah kuintal, biasanya bisa mencapai tiga kuintal. Jadi memang pasokannya berkurang dari petani," kata Siti Muzdalifah salah satu pedagang cabai rawit di Pasar Induk Pare, Selasa (28/7/2026).
Baca juga: Ada Vaksin HPV Gratis di Kota Kediri, Dinas Kesehatan Minta Ortu Manfaatkan Baik Kesempatan
Siti menjelaskan berkurangnya pasokan dipengaruhi kondisi cuaca panas yang membuat produksi petani menurun. Akibatnya, pedagang harus menyesuaikan sumber pasokan agar kebutuhan pasar tetap terpenuhi.
Dia menambahkan, pasokan cabai yang diterimanya juga berubah. Jika sebelumnya banyak didatangkan dari petani di Kabupaten Jombang, kini sebagian besar berasal dari petani di wilayah Kediri.
Sementara itu, pedagang cabai merah dan cabai keriting Ilham Annur mengatakan harga cabai merah besar hingga saat ini masih bertahan di kisaran rp 22 ribu per kilogram.
Adapun harga cabai merah keriting dijual antara rp 24 ribu hingga rp 25 ribu per kilogram. Menurutnya, stok cabai dari wilayah Kediri mulai menipis sehingga pedagang harus mencari pasokan dari luar daerah.
"Ini kita ngambilnya dari petani Jawa Tengah, karena pasokan di Kediri juga sudah habis. Kadang kita memang ambilnya dari sana biar masih ada cabai yang dijual," katanya.
Terpisah, Ketua Asosiasi Petani Cabai Indonesia (APCI) Kabupaten Kediri, Suyono membenarkan adanya kenaikan harga pada beberapa jenis cabai. Menurutnya, kenaikan terutama terjadi pada cabai rawit merah (CRM) dan cabai merah keriting (CMK) karena pasokan dari petani sedikit berkurang.
Sebaliknya, untuk cabai merah besar (CMB), kondisi pasokan dinilai masih mencukupi sehingga harga di tingkat pasar belum mengalami perubahan yang berarti.
Suyono menjelaskan, cuaca panas menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi produksi cabai di sejumlah sentra pertanian. Apabila kondisi cuaca masih berlangsung dalam beberapa waktu ke depan dan pasokan belum kembali normal, harga cabai berpotensi mengalami fluktuasi mengikuti ketersediaan barang di pasaran.
Berdasarkan data APCI Kabupaten Kediri per 27 Juli 2026, penurunan pasokan terjadi pada seluruh jenis cabai. Pasokan cabai merah besar hanya mencapai 4 ton atau turun 77,8 persen dari kondisi normal 18 ton, cabai merah keriting sebanyak 1,5 ton atau turun 85 persen dari normal 10 ton, sedangkan cabai rawit merah hanya 10 ton atau turun 71,4 persen dibanding pasokan normal 35 ton.
"Kondisi tersebut menyebabkan harga cabai merah keriting mengalami kenaikan sekitar rp 2.000 per kilogram pada sejumlah varietas, sementara cabai rawit merah naik antara rp 4.000 hingga rp 10.000 per kilogram. Adapun harga cabai merah besar relatif stabil meski pasokannya menurun," ungkap Suyono.
(Isya Anshori/Tribunmataraman.com)