Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, BI Perkuat Kebijakan Moneter, Jaga Stabilitas Nilai Tukar
Listusista Anggeng Rasmi July 29, 2026 11:07 AM

TRIBUNNEWSMAKER.COM - Bank Indonesia (BI) menegaskan tidak akan tinggal diam menghadapi gejolak ekonomi global yang terus menekan pasar keuangan nasional.

Di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah, BI memastikan berbagai langkah strategis terus diperkuat demi menjaga stabilitas ekonomi Indonesia.

Komitmen tersebut disampaikan Direktur Eksekutif Senior sekaligus Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia, Erwin Gunawan Hutapea.

Sebelumnya, rupiah sempat menyentuh level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat sebelum akhirnya ditutup melemah 26 poin di posisi Rp17.962 per dolar AS.

Meski tekanan masih tinggi, BI menegaskan fokus utamanya tetap menjaga inflasi agar terkendali sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

"Optimalisasi bauran kebijakan moneter dalam menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah ditingkatkan. Tidak hanya mengandalkan suku bunga kebijakan, instrumen moneter lain juga dipertajam," ujar Erwin dalam keterangannya, Rabu (29/7/2026).

Untuk memperkuat pertahanan rupiah, BI terus mengoptimalkan strategi triple intervention di pasar valuta asing.

Ilustrasi uang rupiah.
Ilustrasi uang rupiah. (Freepik)

Langkah tersebut dilakukan melalui transaksi Spot, Non-Deliverable Forward (NDF), dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF).

Selain itu, instrumen moneter seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) juga terus dimaksimalkan dengan dukungan fasilitas swap dan lindung nilai atau hedging DNDF.

Melalui berbagai kebijakan tersebut, Bank Indonesia berharap stabilitas nilai tukar rupiah tetap terjaga sekaligus mampu menarik aliran modal asing di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Baca juga: Rupiah Tembus Rp18.023 per Dolar AS, Menkeu Purbaya Sebut Faktor Domestik & Global yang jadi Pemicu

Perkuat Strategi

BI juga memperkuat strategi untuk menjaga kecukupan likuiditas di pasar uang dan sektor perbankan.

Saat ini, posisi SRBI disebut berada dalam tren yang lebih terkendali.

"Ke depan, penerbitan SRBI terus diarahkan agar selaras dengan kebutuhan pengelolaan likuiditas dan mendukung masuknya aliran modal asing guna memperkuat stabilitas nilai tukar Rupiah," ujarnya.

NILAI DOLLAR RUPIAH: Ilustrasi dollar yang ramai diberitakan 8170 rupiah
NILAI DOLLAR RUPIAH: Ilustrasi dollar yang ramai diberitakan 8170 rupiah (Freepik/@wirestock)

Baca juga: Efek Rupiah Anjlok Mulai Terasa, Harga Bahan Bangunan di Nunukan Melonjak Tajam, Cat Naik 70 Persen

Di sisi lain, Bank Indonesia terus mengoptimalkan berbagai kebijakan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.

Salah satunya melalui penguatan implementasi Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) untuk mendorong penyaluran pembiayaan ke sektor-sektor prioritas, termasuk penguatan mekanisme redistribusi likuiditas di sektor keuangan agar transmisi pembiayaan menjadi semakin efektif. 

"Selain itu, kebijakan digitalisasi sistem pembayaran juga terus diakselerasi sehingga makin mendorong pertumbuhan ekonomi," jelasnya.

(Tribunnewsmaker.com/ Tribunnews/ Nitis Hawaroh)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.