Penulis:
dr. Hariatmoko, Sp.B, FINACS.
Dosen FK UKDW Yogyakarta, Dokter Bedah RS. Bethesda Yogyakarta
Hemoroid atau ambeien menjadi salah satu masalah kesehatan yang cukup sering dialami masyarakat.
Keluhan ini bisa ditandai dengan munculnya benjolan di sekitar anus, nyeri, rasa tidak nyaman saat duduk, hingga perdarahan ketika buang air besar.
Meski sering dianggap sepele, hemoroid yang tidak mendapatkan penanganan tepat dapat mengganggu aktivitas sehari-hari dan menurunkan kualitas hidup penderitanya.
Kabar baiknya, perkembangan teknologi kedokteran kini menghadirkan beragam pilihan terapi untuk menangani hemoroid.
Salah satunya adalah Laser Hemorrhoidoplasty (LHP), prosedur minimal invasif yang menggunakan energi laser untuk membantu mengecilkan jaringan hemoroid.
Berbeda dengan operasi konvensional yang dilakukan dengan memotong jaringan hemoroid, LHP bekerja dengan memasukkan serat laser berukuran kecil ke dalam jaringan hemoroid.
Energi panas dari laser kemudian diarahkan ke jaringan dan pembuluh darah yang mengalami pembengkakan.
Proses tersebut diharapkan dapat membantu mengecilkan jaringan hemoroid dengan trauma jaringan yang lebih minimal.
Salah satu keunggulan LHP adalah pendekatannya yang minimal invasif.
Karena tidak dilakukan pemotongan jaringan secara luas, rasa nyeri setelah tindakan pada umumnya dapat lebih ringan dibandingkan dengan sejumlah metode operasi konvensional.
Selain itu, energi laser juga dapat membantu proses koagulasi atau pengendalian pembuluh darah selama tindakan. Hal ini dapat membantu mengurangi risiko perdarahan.
Keunggulan lainnya adalah masa pemulihan yang relatif lebih singkat.
Sebagian pasien dapat kembali melakukan aktivitas sehari-hari dalam waktu yang lebih cepat, meski lama pemulihan tetap bergantung pada kondisi masing-masing pasien dan tingkat keparahan hemoroid.
Pendekatan minimal invasif tersebut juga diharapkan dapat meminimalkan trauma pada jaringan di sekitar area tindakan dan menurunkan risiko komplikasi tertentu.
Namun, perlu dipahami bahwa setiap prosedur medis tetap memiliki risiko. Karena itu, tindakan LHP harus dilakukan oleh dokter yang kompeten dan terlatih di fasilitas kesehatan yang memadai.
Baca juga: Profil Anom Widiyantoro, Bupati Pemalang yang Digulung KPK
Meski menawarkan sejumlah keunggulan, LHP bukan berarti menjadi pilihan terapi untuk semua penderita hemoroid.
Pada hemoroid tahap awal, keluhan sering kali dapat ditangani dengan perubahan pola hidup. Masyarakat dapat meningkatkan konsumsi makanan berserat, mencukupi kebutuhan cairan, menjaga aktivitas fisik, serta menghindari kebiasaan mengejan terlalu kuat saat buang air besar.
Namun, apabila keluhan semakin sering muncul, hemoroid mengalami kekambuhan, atau kondisi tersebut mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, pasien perlu mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut.
Dalam kondisi tertentu, dokter dapat mempertimbangkan tindakan medis, termasuk LHP, sebagai salah satu pilihan terapi.
Penentuan metode pengobatan tidak dapat dilakukan hanya berdasarkan gejala. Dokter perlu melakukan pemeriksaan untuk mengetahui kondisi dan tingkat keparahan hemoroid sebelum menentukan terapi yang paling sesuai.
Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah munculnya darah saat buang air besar. Masyarakat sering menganggap perdarahan sebagai gejala biasa akibat ambeien.
Padahal, perdarahan dari anus tidak selalu disebabkan oleh hemoroid.
Karena itu, pemeriksaan medis diperlukan untuk memastikan penyebabnya, terutama jika perdarahan terjadi berulang, semakin banyak, atau disertai keluhan lain.
Sayangnya, rasa malu dan anggapan bahwa hemoroid merupakan penyakit yang tidak perlu diperiksakan masih menjadi salah satu alasan pasien menunda konsultasi ke dokter.
Akibatnya, sebagian pasien baru mencari pertolongan ketika keluhan sudah semakin berat dan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari.
Padahal, deteksi dan penanganan sejak dini dapat membantu menentukan pilihan terapi yang lebih tepat sesuai kondisi pasien.
Terapi hemoroid dengan laser atau LHP menjadi salah satu perkembangan dalam bidang bedah yang menawarkan pendekatan minimal invasif.
Metode ini memiliki sejumlah keunggulan, seperti potensi nyeri pascatindakan yang lebih ringan dan masa pemulihan yang relatif lebih cepat dibandingkan beberapa teknik konvensional.
Meski demikian, LHP bukan satu-satunya pilihan untuk menangani hemoroid. Tidak semua pasien membutuhkan tindakan laser, bahkan sebagian kasus dapat ditangani dengan perubahan pola makan dan gaya hidup.
Karena itu, masyarakat disarankan tidak menunda pemeriksaan jika mengalami gejala hemoroid yang berulang atau mengganggu aktivitas.
Konsultasi dengan dokter menjadi langkah penting untuk memastikan diagnosis sekaligus menentukan pilihan terapi yang paling sesuai.
Dengan pemahaman yang lebih baik mengenai hemoroid dan pilihan pengobatannya, masyarakat diharapkan tidak lagi merasa malu atau ragu untuk mencari pertolongan medis.
Penanganan yang tepat sejak dini dapat membantu mengendalikan keluhan dan menjaga kualitas hidup. (*)