Ikatan Keluarga Manggarai Jabodetabek (IKAMADA) akan menggelar Festival Budaya Manggarai di Anjungan Nusa Tenggara Timur (NTT), Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Minggu (2/8). Acara ini menampilkan beragam pertunjukan tradisional, antara lain Tarian Caci, Sanda, Mbata, Danding, Rangkuk Alu dan joged ria dengan iringan lagu-lagu timur.
Ketua IKAMADA, Rikard Bagun mengatakan pergelaran ini menampilkan kekayaan budaya Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT).
"Pentas menampilkan berbagai tarian dan musik tradisional dengan tujuan melestarikan serta mempromosikan warisan budaya Manggarai," ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa (28/7/2026).
Rikard mengatakan pihaknya akan rutin menggelar Pentas Budaya Manggarai sebagai paguyuban warga asal Manggarai, Flores NTT, yang tinggal di kawasan Jabodetabek. Organisasi ini nantinya akan lebih aktif mengadakan acara budaya, seperti Misa Raya dan pentas seni, untuk mempererat silaturahmi perantau.
![]() |
Penanggung jawab Festival Budaya Pentas Caci 2026, Gaudens Wodar mengatakan Caci menjadi simbol kebanggaan masyarakat Manggarai. Caci tidak sekadar tontonan, melainkan pertarungan satu lawan satu.
Kebudayaan Caci menonjolkan ketangkasan (pukul dan tangkis), seni (lomes) tari (kelong) - suara (lagu & pekikan), sportivitas dan rasa hormat, hingga keberanian serta rasa syukur.
Gaudens mengatakan Festival Caci Diaspora Manggarai tahun ini mengusung tema "REKO B'EO TANAH KUNI AGU KALO", yang bermakna mencintai dan merawat nilai-nilai budaya. Menurutnya, mencintai budaya berarti mencintai nilai-nilai spiritual yang menjadi dasar kehidupan, sedangkan merawat budaya adalah merawat nilai dasar kehidupan agar tetap hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
"Kita wajib menjaga, membangun, merawat nilai budaya Manggarai sebagai tanah kelahiran tempat kita berasal. Ungkapan ini mengingatkan setiap orang Manggarai agar tidak lupa ( neka hemong tanah Kuni agu kalo - tanah Manggarai) sebagai identitas dan asal-usulnya, meski sedang merantau jauh," katanya.
![]() |
Gaudens menambahkan, meski sekilas tampak seperti pertarungan yang saling pukul dan menangkis, Caci dijalankan berdasarkan norma dan etika yang berlandaskan nilai-nilai luhur budaya Manggarai.
Menurutnya, Caci bukan sekadar atraksi, melainkan warisan budaya sekaligus tradisi spiritual yang perlu terus dilestarikan. Karena itu, ia berharap pemerintah turut memberikan dukungan agar tradisi tersebut dapat terus berkembang dan diwariskan kepada generasi mendatang.
Sementara itu, Ketua panitia Festival Budaya Pentas Caci 2026, Libertus Jehani menjelaskan festival ini akan berlangsung mulai pukul 08.00 WIB hingga sore hari. Acara diselenggarakan bekerja sama dengan beberapa Komunitas Diaspora Manggarai se-Jabodetabek.
Selain pentas Caci dan Danding, kegiatan akan diisi kirab budaya dan tarian khas Manggarai, termasuk Ndundudake. Tarian ini akan dibawakan oleh kelompok diaspora muda Manggarai yang sebagian besar adalah mahasiswa mahasiswi. Rangkaian pentas budaya ini pun akan diakhiri dengan goyang massal terpimpin dengan lagu-lagu seperti "Sini Senang" dan "Kokor Gola."







