Catatan Prof. Dr. APRIDAR, S.E., M.Si., Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis USK serta Ketua Dewan Pakar ICMI Orwil Aceh
Kabar duka menyelimuti dunia diplomasi dan politik Indonesia. Prof Dr Bachtiar Aly MA, mantan duta besar RI untuk Mesir, meninggal dunia pada Minggu, 26 Juli 2026. Tokoh Aceh ini mengembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Fatmawati, Jakarta, pukul 20.45 WIB dalam usia 76 tahun.
Kepergiannya meninggalkan duka mendalam. Saya pernah beberapa kali bertemu beliau, baik di Jakarta maupun saat berkunjung ke Aceh. Beliau selalu mengingatkan untuk senantiasa berbuat yang terbaik dalam melaksanakan berbagai aktivitas.
Beliau dengan senyuman khas
mengatakan, “Kampus di Aceh harus mampu menunjukkan keunggulan serta keunikan agar kita dapat berkiprah lebih luas. Kita mampu untuk tampil di kancah nasional maupun internasional, dengan catatan kerja keras dan berdoa.”
Pakar komunikasi Universitas Indonesia (UI) ini juga menambahkan bahwa komunikasi yang baik merupakan modal utama dalam menggapai kesuksesan.
Bachtiar Aly bukan sekadar diplomat. Ia adalah akademisi, pakar komunikasi politik, dan politisi yang mengabdikan hidupnya bagi bangsa. Tiga jalur karier ia tempuh secara simultan: kampus, diplomasi, dan parlemen.
Ia membuktikan bahwa seorang intelektual bisa berkontribusi di berbagai ranah.
Ke panggung dunia
Bachtiar Aly lahir di Banda Aceh 21 Desember 1949. Ia adalah anak dari pasangan
Moehammad Aly bin Tengku Syaikh Aly dan Nyak Gade binti Tengku Nyak Baek.
Masa kecil, TK hingga SMP ia habiskan di Banda Aceh. Lulus dari SMP 1 Banda Aceh, Bachtiar hijrah ke Bandung. Di Bandung, ia menyelesaikan SMA di SMA YPU. Ia kemudian meraih gelar sarjana muda di Fakultas Publisistik Universitas Padjadjaran.
Langkah berikutnya membawanya ke Jerman. Di Universitas Muenster, Bachtiar menyelesaikan program strata 2 dan 3. Ia meraih gelar doktor dengan predikat ‘cum laude’ pada tahun 1983. Pendidikan di Jerman membentuk cara berpikirnya yang analitis dan sistematis. Ia tidak hanya menguasai teori komunikasi, tetapi juga memahami dinamika politik
global dari perspektif Eropa.
Akademisi yang konsisten
Sebagai akademisi, Bachtiar Aly menjadi guru besar komunikasi di UI. Ia menjabat sebagai Ketua Dewan Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UI. Ia juga menjadi pengajar di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian.
Karya-karyanya dalam bidang komunikasi, media massa, diplomasi, dan politik mulai diterbitkan sejak 1984. Pada tahun 2024, ia menjadi editor buku Diplomasi Indonesia: Mozaik Dinamika Diplomasi. Ia juga menjadi Ketua Komite Profesor untuk Perpustakaan UI. Pengabdiannya di dunia akademik tidak berhenti di ruang kelas. Ia menjadi pembimbing berbagai penelitian di UI.
Pada 7 September 2005, Bachtiar Aly menyampaikan pidato pengukuhan sebagai guru besar tetap dalam ilmu komunikasi di FISIP UI. Dalam pidato itu, ia mengingatkan peran media dalam menerjemahkan isi Nota Kesepahaman RI-GAM. Ia konsisten menyuarakan pentingnya
komunikasi yang damai dan bertanggung jawab.
Menjadi duta besar
Jalur diplomasi membawanya ke panggung internasional. Bachtiar Aly diangkat sebagai Duta Besar Indonesia untuk Mesir pada tahun 2002 hingga 2005. Ia tak hanya bertanggung jawab atas Mesir, tetapi juga merangkap sebagai duta besar untuk Djibouti dan Somalia. Penunjukan ini terjadi pada masa pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri. Ia menggantikan Quraish Shihab dan digantikan oleh A.M. Fachir.
Selama bertugas, Bachtiar Aly aktif memperkuat hubungan bilateral Indonesia dengan negara-negara di kawasan Timur Tengah dan Afrika Timur. Salah satu prestasi konkretnya adalah membangun Rumah Indonesia di Mesir. Fasilitas ini menjadi pusat kegiatan dan pembinaan bagi masyarakat Indonesia di sana. Ia memberikan pembinaan terhadap 4.488 orang warga Indonesia di Mesir. Angka ini menunjukkan perhatiannya terhadap perlindungan warga negara.
Ia tidak sekadar menjalankan tugas seremonial, tetapi bekerja untuk kepentingan konkret rakyat Indonesia di perantauan.
Pengalamannya sebagai diplomat juga membawanya menjadi Penasihat Ahli Kapolri. Ia memberikan masukan strategis terkait isu sosial, politik, dan keamanan nasional. Ia juga menjadi penasihat di Kadin.
Selalu kritis
Jalur politik praktis ia tempuh sejak 1998. Bachtiar Aly mengucapkan sumpah sebagai Anggota DPR/MPR RI pada 24 Juli 1998. Awalnya ia bergabung dengan Partai Golkar. Pada periode 1998-
1999, ia menjabat sebagai anggota DPR/MPR RI dari partai tersebut.
Kemudian ia pindah ke Partai NasDem dan dipercaya menjadi Ketua Fraksi NasDem di MPR. Pada Pemilu 2014, Partai NasDem menempatkannya di Komisi I DPR. Ia memenangkan suara di Dapil Aceh I. Ia menjabat sebagai anggota DPR RI dari 2014 hingga 2019.
Pada 2022, Bachtiar Aly bergabung dengan Partai Hanura. Ia duduk di Dewan Penasihat Hanura pada periode kepengurusan 2024-2029. Ia menjadi salah satu Wakil Ketua Dewan Penasihat
DPP Partai Hanura. Perpindahan partai ini menunjukkan fleksibilitas politiknya. Namun, di balik itu, konsistensinya sebagai intelektual publik tetap terjaga.
Ia juga menilai pemerintah masih menyepelekan budaya literasi di Indonesia. Ia menyoroti etika pejabat publik dan menyatakan bahwa etika, etiket, dan moralitas pejabat publik dari pusat hingga daerah sudah memprihatinkan. Ia mengingatkan pentingnya keteladanan dan integritas dalam kepemimpinan.
Penghargaan dan pengakuan
Bachtiar Aly menerima berbagai penghargaan. Di antaranya Satyalencana Karya Satya dari Presiden RI pada 2010. Ia juga menerima penghargaan Jurnalis Asia-Afrika dari Perhimpunan Jurnalis Mesir pada 2005.
Pada 1996, ia menerima Satyalancana Dwidyasistha dari Panglima ABRI. Ia juga menjadi Ketua Dewan Penasihat dan Wakil Ketua Dewan Kehormatan di Perhimpunan Alumni Jerman. Prof Bakhtiar juga tercatat sebagai Pengurus Forum Duta Besar RI di Jakarta.
Warisan untuk bangsa
Kepergian Bachtiar Aly menutup satu babak panjang pengabdian. Ia meninggalkan warisan berupa pemikiran, karya, dan teladan. Ia membuktikan bahwa seorang intelektual bisa berkontribusi di berbagai ranah: kampus, diplomasi, dan parlemen. Ia tidak sekadar menjadi
Pengamat, tetapi juga terlibat langsung dalam proses pengambilan keputusan. Ia menyuarakan
kepentingan rakyat Aceh di tingkat nasional dan membawa nama Indonesia di panggung internasional.
Refleksi atas perjalanan Bachtiar Aly mengajarkan kita tentang pentingnya konsistensi dalam pengabdian. Ia tidak pernah berhenti belajar dan berkontribusi. Dari Banda Aceh ke Bandung, dari Bandung ke Jerman, dari Jerman ke Mesir, dan kembali ke Indonesia. Setiap langkahnya diisi dengan karya dan dedikasi. Ia adalah produk dari sistem pendidikan yang menghargai keilmuan. Ia juga menjadi bukti bahwa investasi di bidang pendidikan menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas.
Kini, Bachtiar Aly telah tiada. Namun, jejaknya tetap hidup. Karya tulisnya masih dibaca oleh mahasiswa komunikasi. Pengalaman diplomatiknya menjadi bahan pelajaran bagi calon-calon diplomat. Suara kritisnya di parlemen masih relevan untuk didengar. Ia adalah salah satu dari sedikit intelektual Indonesia yang berhasil menyeimbangkan peran sebagai akademisi,
diplomat, dan politisi. Kepergiannya adalah kehilangan besar bagi bangsa. Namun, warisan pemikirannya akan terus menginspirasi generasi mendatang.
Selamat jalan, Profesor Bachtiar Aly. Dedikasi dan pengabdianmu akan selalu dikenang. (*)