Oleh: Randi Syafutra - Dosen Konservasi Sumber Daya Alam Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung, Kandidat Doktor Ilmu Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan IPB University, dan Pendiri TERRA Indonesia
GAME Palworld berhasil meledak di pasaran dan memancing perhatian global. Publik menjulukinya sebagai "Pokémon dengan senjata". Namun, publik harus menyadari bahwa mekanik di dalam game ini menyimpan kritik sosial yang sangat tajam. Game ini memberikan refleksi mendalam mengenai hubungan manusia dengan satwa liar. Palworld secara jujur bertindak sebagai simulasi sisi gelap manusia saat dihadapkan pada pilihan moral tanpa hukum konkret.
Di dalam sistem ekosistem Palworld, pemain memiliki kebebasan mutlak. Pemain dapat menangkap makhluk hidup bernama Pals untuk dijadikan hewan peliharaan, teman bertarung, bahan makanan, hingga pekerja pabrik. Pemain bisa memilih untuk menjadi pelindung yang menyediakan fasilitas mewah seperti kolam air panas dan makanan bergizi. Sebaliknya, pemain juga bisa menjadi eksploitator yang memaksa satwa bekerja tanpa istirahat hingga mengalami depresi dan sakit.
Banyak pemain memilih mengeksploitasi satwa demi keuntungan pribadi melalui industrialisasi. Hal ini sangat identik dengan bagaimana sejarah manusia merusak alam demi revolusi industri. Kondisi eksploitasi dalam game ini beresonansi kuat dengan konsep kesejahteraan hewan di dunia nyata.
Menurut World Organisation for Animal Health (WOAH), kesejahteraan hewan mencakup kondisi fisik dan mental hewan tersebut. Praktik eksploitasi hewan yang berlebihan untuk industri di dunia nyata mendapatkan kecaman keras karena melanggar moral publik. Contoh nyata dari pelanggaran ini tertuang jelas dalam praktik sirkus topeng monyet atau peternakan intensif yang tidak layak.
Kompleksitas interaksi manusia dan alam di Palworld makin nyata lewat kehadiran tujuh faksi yang menguasai Kepulauan Palpagos. Setiap faksi memotret berbagai wajah keegoisan dan ideologi manusia terkait alam.
Rayne Syndicate di bawah pimpinan Zoe Rayne menjadi representasi organisasi kriminal bersenjata yang melakukan perburuan liar, perdagangan ilegal, dan eksploitasi demi keuntungan finansial. Realitas kejahatan ini sejalan dengan ancaman nyata di lapangan. Perburuan dan perdagangan ilegal satwa liar adalah salah satu penyebab utama kepunahan spesies. Berdasarkan data dari badan hukum dan lembaga lingkungan, ratusan kasus kejahatan terhadap satwa terjadi setiap tahun, mulai dari penyelundupan, pengambilan dari habitat asli, hingga konsumsi ilegal.
Faksi lainnya turut merepresentasikan kerusakan dengan cara berbeda. Terdapat PAL Genetic Research Unit (PGRU) pimpinan Victor Ashford. Faksi ilmuwan gila ini berfokus pada riset teknologi tingkat tinggi dan eksperimen manipulasi genetik ekstrem pada satwa.
Di sisi ekstrem yang berseberangan, muncul Brothers of the Eternal Pyre pimpinan Axel Travers. Kelompok kultus religius penyembah elemen api ini justru menganggap teknologi dan modifikasi genetik sebagai penodaan alam.
Sementara itu, ruang hidup satwa juga diklaim secara sepihak oleh kelompok militer berorientasi bertahan hidup bernama Feybreak Warriors pimpinan Bjorn Seligsson, serta klan ninja tradisional Moonflower Clan pimpinan Saya Kurosaki yang sangat tertutup menjaga Pulau Sakurajima dari orang luar.
Kritik game ini menjadi paling tajam ketika menyoroti Free Pal Alliance pimpinan Lily Everhart. Secara narasi, fraksi ini berkedok sebagai aktivis konservasi dan pembebasan satwa yang sangat mirip dengan aktivis People for the Ethical Treatment of Animals (PETA) di dunia nyata. Namun, kelompok ini bersikap munafik. Fraksi tersebut tetap menyerang manusia secara brutal dan bahkan kedapatan mengurung satwa di kamp mereka sendiri.
Kontras antara sindikat pemburu liar dan faksi aktivis ini merupakan tamparan keras bagi realitas kita. Kampanye perlindungan satwa terkadang hanya menjadi kedok politik atau komoditas media sosial semata, sementara satwa di lapangan tetap menderita.
Untuk menghadapi seluruh ancaman eksploitasi tersebut, Palworld menawarkan solusi tegas melalui area khusus bernama Wildlife Sanctuary. Area ini merupakan zona konservasi yang dilindungi oleh hukum secara mutlak. Memasuki area ini langsung dianggap sebagai tindakan kriminal.
Penegakan hukum ini dijalankan oleh faksi ketujuh, yakni Palpagos Islands Defense Force (PIDF) pimpinan Marcus Dryden. PIDF bertindak sebagai polisi pulau berupa pasukan keamanan bersenjata yang disewa untuk menjaga ketertiban. Pasukan ini berpatroli menjaga area suaka margasatwa dan akan mengejar siapa pun yang memburu satwa langka dengan dukungan drone patroli tingkat tinggi.
Mekanik perlindungan berlapis ini seharusnya menjadi cetak biru bagi penegakan hukum kita. Area konservasi di dunia nyata memiliki fungsi yang amat krusial. Suaka margasatwa berfungsi menjaga keseimbangan genetik dan mencegah kepunahan spesies secara masif.
Perlindungan habitat menjadi urat nadi kelestarian alam karena satwa liar membutuhkan ruang jelajah yang cukup. Ekosistem yang sehat mutlak dibutuhkan agar satwa dapat bertahan hidup tanpa harus berkonflik dengan manusia.
Suaka margasatwa di dunia nyata mendesak untuk segera mendapatkan investasi teknologi dan penegakan hukum yang tanpa kompromi agar para pemburu liar jera. Pemerintah harus mengadopsi ketegasan serupa dengan PIDF dalam menjaga perlindungan wilayah.
Perlindungan satwa tidak bisa lagi hanya mengandalkan aktivisme artifisial atau kampanye di media sosial. Kita harus memastikan zona konservasi di dunia nyata benar-benar aman dan dikawal oleh sistem hukum yang tidak pandang bulu. (*)