BREAKING NEWS Tim Siber Polda Jatim Bekuk Hacker Peretas 1.800 Ribu Website Kampus-Sekolah
Titis Jati Permata July 30, 2026 01:04 PM

 

 

SURYA.co.id, SURABAYA – Direktorat Reserse Siber (Ditressiber) Polda Jawa Timur membongkar praktik peretasan ribuan website yang dijadikan sarana promosi judi online.

Seorang pria berinisial AAK, warga Kabupaten Demak, Jawa Tengah, ditangkap setelah diduga meretas 1.830 website milik sekolah, perguruan tinggi, instansi pemerintah, hingga situs luar negeri.

Dalam aksinya, tersangka diduga tidak hanya mengambil alih website, tetapi juga menjual akses hasil retasan kepada pihak ketiga yang kemudian menyisipkan tautan promosi judi online.

Baca juga: UKWMS dan BSSN Kolaborasi Perkuat Keamanan Siber Nasional

Direktur Ditressiber Polda Jatim, Kombes Pol Bimo Ariyanto, mengatakan praktik tersebut telah berlangsung selama beberapa tahun dan memberikan keuntungan ratusan juta rupiah kepada pelaku.

"Website yang berhasil dikuasai kemudian dijual melalui forum di Telegram. Dari hasil penyelidikan sementara, keuntungan yang diperoleh tersangka diperkirakan berkisar Rp300 juta hingga Rp500 juta," ujar Bimo dalam konferensi pers di Mapolda Jatim, Kamis (30/7/2026).

Gunakan Celah Keamanan Website

Bimo menjelaskan, tersangka memilih target menggunakan metode dorking, yakni teknik untuk mencari celah keamanan pada website yang rentan diretas.

Setelah menemukan kelemahan sistem, pelaku menyisipkan file kecil (patch) untuk mengubah isi website dan mengambil alih kendali. Selanjutnya, ia memasang webshell, yakni skrip yang memungkinkan akses jarak jauh sekaligus mengganggu lalu lintas data pada website korban.

"Setelah menguasai website, tersangka mendata seluruh domain yang berhasil diretas untuk kemudian ditawarkan kepada pembeli melalui forum Telegram bernama S-X Market," jelasnya.

Menurut penyidik, forum tersebut menjadi tempat transaksi website hasil peretasan yang kemudian dimanfaatkan untuk kepentingan promosi judi online.

Sasar Website dengan Pengunjung Tinggi

Website yang menjadi sasaran umumnya memiliki jumlah pengunjung besar, seperti portal perguruan tinggi, sekolah, maupun instansi pemerintah.

Tujuannya agar tautan judi online yang disisipkan memiliki peluang lebih besar dikunjungi pengguna internet.

"Targetnya adalah website dengan trafik tinggi sehingga dapat dimanfaatkan sebagai media promosi judi online," kata Bimo.

Meski sejauh ini pelaku diduga beraksi seorang diri, penyidik masih mendalami kemungkinan adanya jaringan lain yang terlibat dalam praktik tersebut.

Polisi Dalami Dugaan Jaringan Hacker

Dalam penyelidikan, polisi menemukan tersangka tergabung dalam sedikitnya delapan grup Facebook yang membahas aktivitas peretasan dan jual beli webshell sejak 2023.

Beberapa grup tersebut di antaranya bertema Show of Defacer, Black Hat, Indonesia Defacer, Web Shell, Indonesia SEO Black Hat, hingga Jual Beli Webshell.

Namun, Bimo menegaskan keahlian tersangka diperoleh secara autodidak dan bukan berasal dari latar belakang pendidikan maupun pekerjaan di bidang keamanan siber.

"Yang bersangkutan merupakan karyawan swasta dan mempelajari teknologi informasi secara otodidak. Bukan berasal dari institusi atau kedinasan tertentu," ujarnya.

Korban Tersebar di Berbagai Provinsi

Berdasarkan hasil penyidikan, sejak 2023 tersangka telah meretas 1.830 website, terdiri atas 1.570 website luar negeri dan 260 website dalam negeri.

Di Indonesia, korban tersebar di sejumlah provinsi, antara lain Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Banten, Daerah Istimewa Yogyakarta, Kepulauan Riau, Lampung, Kalimantan, Sulawesi Selatan, hingga Papua Barat.

Di Jawa Timur, beberapa website yang berhasil diidentifikasi sebagai korban antara lain milik MA Babussalam Jombang, SMKN 1 Ngawi, dan Universitas PGRI Madiun.

Kampus Akui Aktivitas Akademik Terganggu

Biro Hukum Universitas PGRI Madiun, Bambang Eko Nugroho, mengatakan peretasan tersebut sempat mengganggu aktivitas akademik, terutama akses terhadap data penelitian dosen dan mahasiswa.

Menurutnya, website kampus menyimpan berbagai data penelitian dan jurnal yang menjadi bagian penting dalam kegiatan akademik.

"Kerugian material masih kami koordinasikan lebih lanjut. Namun yang paling terdampak adalah akses dosen terhadap data penelitian dan jurnal yang tersimpan di dalam sistem," ujarnya.

Ia juga mengapresiasi langkah cepat Ditressiber Polda Jatim dalam mengungkap kasus tersebut sehingga dampak yang lebih besar dapat dicegah.

Penyidik masih terus mengembangkan perkara ini untuk menelusuri kemungkinan adanya jaringan lain yang terlibat dalam perdagangan website hasil peretasan maupun promosi judi online.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.