Waspada Godzilla El Nino, Semarang Disebut Rentan Alami Krisis Air Tanah dan Penurunan Muka Tanah
muh radlis July 30, 2026 02:57 PM

 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Fenomena El Niño berkekuatan sangat ekstrem atau yang populer disebut Godzilla El Niño mulai menjadi perhatian serius para ahli.

Selain berpotensi memicu musim kemarau lebih panjang, fenomena ini juga dinilai dapat memperburuk krisis air tanah di kawasan pesisir, termasuk Kota Semarang, apabila pengambilan air tanah tidak dikendalikan.

Di tengah menurunnya curah hujan dan debit sungai, kebutuhan air masyarakat maupun sektor industri diperkirakan tetap tinggi.

Kondisi tersebut dikhawatirkan mendorong peningkatan eksploitasi air tanah, bahkan memunculkan praktik pengambilan air tanah tanpa izin yang berpotensi mempercepat penurunan muka tanah.

Isu tersebut mengemuka dalam The 8th Annual Scientific Meeting of the Indonesian Groundwater Experts Association (PAAI) yang digelar bersamaan dengan 11th International Conference on Energy, Environment, and Information Systems (ICENIS) 2026 di Gumaya Tower Hotel, Semarang.

Baca juga: Lansia Penjaga Kompleks Perumahan di Banyumas Babak Belur Dihajar Pakai Pipa Rokok

 

El Niño Ekstrem Dinilai Memperbesar Tekanan terhadap Air Tanah

Ketua Perhimpunan Ahli Airtanah Indonesia (PAAI), Irwan Iskandar, menjelaskan bahwa fenomena El Niño ekstrem menyebabkan sumber air permukaan semakin terbatas akibat minimnya curah hujan.

Sementara itu, kebutuhan air bersih masyarakat dan dunia usaha tidak mengalami penurunan.

"Apalagi sekarang kita lagi menghadapi yang katanya El Nino Godzilla. Sekarang kita menghadapi kekeringan yang cukup panjang.

Dalam kondisi seperti ini kerentanan sumber daya air menjadi jauh lebih rentan, jadi lebih bermasalah," kata Irwan di sela The 8th Annual Scientific Meeting of the Indonesian Groundwater Experts Association (PAAI) yang digelar bersamaan dengan 11th International Conference on Energy, Environment, and Information Systems (ICENIS) 2026 di Gumaya Tower Hotel, Semarang, Rabu (28/7/2026).

Menurutnya, ketika pasokan air permukaan semakin terbatas, masyarakat maupun pelaku industri cenderung beralih memanfaatkan air tanah sebagai sumber utama.

Apabila pengambilan air tanah dilakukan secara berlebihan tanpa pengawasan, muka air tanah dapat terus menurun dan memicu proses kompaksi tanah yang berkontribusi terhadap penurunan permukaan tanah.

"Nah, air tanah ini kalau tidak terkontrol pengambilannya, akhirnya terjadi penurunan muka air tanah.

Ketika muka air tanah turun, ruang antar pori yang tadinya terisi air menjadi kosong sehingga mengalami kompaksi atau konsolidasi," imbuh pria yang juga pakar hidrogeologi tersebut.

 

Semarang Timur Termasuk Kawasan yang Perlu Diwaspadai

Irwan menjelaskan kawasan Pantai Utara Jawa memiliki karakteristik tanah aluvial muda yang secara alami masih mengalami proses penurunan.

Menurutnya, wilayah seperti Semarang, Jakarta, Surabaya, Pekalongan, hingga Demak memiliki tingkat kerentanan yang lebih tinggi terhadap penurunan muka tanah apabila eksploitasi air tanah terus meningkat.

Ia menyebut kawasan Semarang bagian timur menjadi salah satu wilayah yang mengalami penurunan muka tanah relatif lebih cepat dibandingkan sejumlah kawasan lainnya.

Dugaan Pengambilan Air Tanah Ilegal Jadi Sorotan
Selain mendorong pengelolaan air tanah yang lebih baik, PAAI juga menilai pengawasan terhadap penggunaan air tanah perlu diperkuat.

Irwan mengungkapkan masih terdapat dugaan praktik pengeboran sumur tanpa izin yang dilakukan secara tersembunyi sehingga sulit terdeteksi.

"Nah, dalam kondisi ini mereka mencuri. Mencuri air tanah itu enggak kelihatan.

Saat membangun, orang bisa sekalian mengebor sumur 50 sampai 60 meter, memasang pompa, lalu ditutup kembali sehingga tidak ketahuan," katanya.

Menurutnya, diperlukan pendekatan lintas disiplin, termasuk aspek hukum, agar pengawasan terhadap pemanfaatan air tanah menjadi lebih efektif.

Salah satu usulan yang disampaikan adalah penerapan mekanisme pembuktian terbalik terhadap pelaku usaha yang diduga menggunakan air tanah tanpa izin sesuai ketentuan yang berlaku.

 

Ahli Undip: Air Tanah Harus Diisi Kembali

Dalam forum yang sama, Dekan Sekolah Pascasarjana Universitas Diponegoro, Prof. Ir. Mochamad Agung Wibowo, menjelaskan bahwa penurunan muka tanah berkaitan erat dengan berkurangnya cadangan air tanah akibat pengambilan yang berlebihan.

Ia menerangkan bahwa ketika air tanah terus disedot, ruang pori di dalam tanah menjadi kosong sehingga struktur tanah kehilangan penyangga dan perlahan mengalami penurunan.

"Secara teori, pori-pori tanah itu terisi udara dan air. Ketika airnya disedot, pori-porinya menjadi kosong sehingga posisi tanah akan turun dengan sendirinya. Itulah yang menyebabkan penurunan tanah. Karena itu sebenarnya kita harus mengisi kembali air tanah," ujarnya.

Menurut Agung, upaya memperbesar resapan air hujan menjadi salah satu langkah penting untuk menjaga keseimbangan cadangan air tanah.

Ia juga menyoroti penggunaan paving dan beton yang terlalu luas di kawasan permukiman karena dapat menghambat air hujan meresap ke dalam tanah.

"Kalau semua halaman dipaving dan disemen, yang terjadi hanya aliran permukaan. Padahal seharusnya semakin banyak air yang masuk ke tanah menjadi aliran bawah tanah. Aliran inilah yang akan mengisi kembali cadangan air tanah. Sebenarnya seperti itulah siklusnya," jelasnya.

 

Konferensi Bahas Solusi Pengelolaan Air Tanah Berkelanjutan

Isu ketahanan air tanah menjadi salah satu agenda utama dalam pertemuan ilmiah PAAI dan ICENIS 2026 yang mengusung tema "Sustainable Tomorrow: Redefining a Holistic Environmental, Social, and Governance (ESG) Approach to Energy, Groundwater, and Information Systems."

Lebih dari 400 peserta dari berbagai negara mengikuti rangkaian kegiatan yang meliputi kuliah utama, diskusi panel, presentasi ilmiah, kompetisi ilmiah, hingga kunjungan lapangan ke sejumlah lokasi strategis air tanah di Semarang.

Dalam kesempatan tersebut juga diluncurkan Basis Data Air Tanah Nasional "Artesis" yang diharapkan mampu memperkuat pengelolaan air tanah berbasis data serta mendukung penyusunan kebijakan yang lebih efektif dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan menjaga keberlanjutan sumber daya air di Indonesia. (idy)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.