TRIBUNAMBON.COM - Peneliti Pusat Riset Ekonomi Perilaku dan Sirkuler Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Andrian Ramadhan menggagas penerapan konsep ekonomi sirkular biru guna menghadirkan nilai tambah yang inovatif di kawasan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP).
Dalam pemaparannya pada diskusi di Jakarta, Kamis, Andrian menjelaskan bahwa wilayah pesisir dan sentra perikanan saat ini menghadapi krisis lingkungan akibat penumpukan berbagai jenis limbah yang tidak tertangani dengan baik.
"Bagaimana kita bisa menciptakan sistem yang bisa kita turunkan, yang bisa berputar terus untuk meminimumkan limbah yang selama ini menjadi masalah yang nggak ada nilai ekonominya menjadi bernilai ekonomi," katanya.
Andrian menyebut tumpukan limbah di pesisir tersebut sangat beragam, mulai dari sampah plastik, sisa limbah organik perikanan yang membusuk, bubu yang rusak, hingga alat tangkap jaring yang tertinggal atau ditinggalkan begitu saja di laut.
Ia menilai esensi modernisasi dalam Program KNMP harus diarahkan untuk mengubah masalah sampah lingkungan tersebut menjadi sebuah peluang industri baru yang menguntungkan nelayan.
Baca juga: Tingkatkan Kualitas Nelayan di Ambon, BMKG Gandeng Pemkot Gelar SLCN 2026, Diikuti 40 Warga
Andrian mencontohkan beberapa perwujudan dari ekonomi sirkular yang sangat potensial untuk dikembangkan sebagai komoditas utama di KNMP, seperti pengolahan cangkang rajungan menjadi produk turunan bernilai tinggi layaknya chitosan.
Selain itu sisa limbah ikan perikanan yang tidak memenuhi standar mutu jual dapat diolah secara terpadu melalui fasilitas KNMP menjadi produk pakan ternak mandiri yang bisa menggerakkan roda ekonomi masyarakat setempat.
Bahkan persoalan sampah plastik yang banyak mencemari pelabuhan dan pesisir juga berpeluang untuk dikonversi menjadi sumber energi atau bahan bakar alternatif perahu nelayan melalui pemanfaatan teknologi pirolisis.
Menurut Andrian, strategi diversifikasi pendapatan melalui penciptaan sektor industri pengolahan limbah ini jauh lebih rasional untuk diterapkan dibandingkan memaksa nelayan untuk terus memacu jumlah hasil tangkapan di tengah kondisi laut yang kian kritis.
"Sehingga fokusnya menciptakan hal-hal yang baru yang tadinya nggak ada, daripada kita sesak di permainan yang sudah ada. Misalkan kita fokus menambah hasil perikanan, padahal memang kadang-kadang kita di beberapa tempat sumber daya perikanannya sudah susah," ujar Andrian Ramadhan.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menekankan penguatan sektor kelautan menjadi bagian dari upaya besar pemerintah membangun kemandirian nasional.
Ia mengatakan potensi laut Indonesia merupakan karunia besar yang harus dikelola untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir dan memperkuat kedaulatan ekonomi nasional.
"Kita sangat dihormati karena kita sekarang sudah swasembada pangan, sudah swasembada beras, swasembada jagung, swasembada banyak sekali kita. Kita sekarang tidak perlu impor lagi pangan dari luar dan para nelayan yang punya jasa besar, dan kita ingin memperkuat peran para nelayan kita," kata Presiden Prabowo. (*)
Antara/ Sean Filo Muhamad/ Kamis, 30 Juli 2026