Ekonom sekaligus saksi ahli di Mahkamah Konstitusi, Bhima Yudhistira Adhinegara, menyoroti pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Direktur Eksekutif CELIOS itu mengkritik persoalan pelaksanaan MBG terkait besarnya jumlah makanan yang terbuang.
Berdasarkan perhitungannya, jika dikonversikan ke nilai rupiah, potensi sisa makanan itu bisa mencapai sekitar Rp1,2 triliun.
Bhima menilai, apabila sisa makanan terus terjadi dalam jumlah besar, maka tujuan program untuk meningkatkan gizi masyarakat tidak akan tercapai secara optimal.
Bahkan ia menyebut, kondisi itu membuat program MBG lebih mirip subsidi makanan ternak daripada program gizi.
Hal itu disampaikan Bima pada Selasa (28/7/2026).
Yakni, dalam sidang uji materi Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2022 tentang Hubungan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah di Mahkamah Konstitusi.
Sebagai informasi, hasil survei terbaru Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) menunjukkan, 61,6 persen responden mengaku kurang puas atau tidak puas sama sekali dengan program MBG.
Survei itu dirilis Youtube SMRC TV pada Selasa (28/7).
Menurut Direktur Eksekutif SMRC, Deni Irvani, 33,8 persen responden menyatakan puas atau sangat puas.
Deni menyebut, salah satu penyebab turunnya tingkat kepuasan publik ialah kasus dugaan korupsi yang menyeret sejumlah pimpinan BGN.
Lalu, pelaksanaan program, seperti kasus keracunan makanan dan tata kelola yang dinilai belum optimal, turut memengaruhi survei tersebut.