Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Pendidikan inklusif bukan sekadar memberikan kesempatan belajar bagi anak berkebutuhan khusus (ABK), tetapi juga membangun budaya sekolah yang menghargai keberagaman.
Baca juga: 14 Anak Berkebutuhan Khusus Diberdayakan Jadi Pekerja Kafe di Bandar Lampung
Prinsip itulah yang dipegang teguh oleh Putri Jonesti, Kepala Sekolah sekaligus pengajar di TKIT Fitrah Insani 2 Bandar Lampung, dalam mendampingi peserta didik di kelas inklusif.
Menurut Putri, setiap anak memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang layak dan kesempatan berkembang sesuai dengan potensi masing-masing.
Karena itu, proses pembelajaran di kelas inklusif dilakukan dengan pendekatan yang mengedepankan kasih sayang, penghormatan terhadap perbedaan, serta penguatan rasa percaya diri peserta didik.
"Setiap anak memiliki keunikan dan kebutuhan yang berbeda. Tugas guru adalah mendampingi mereka dengan penuh kesabaran dan kasih sayang agar dapat tumbuh bersama dalam lingkungan yang saling menghargai," ujar Putri, Kamis (30/7/2026).
Ia menjelaskan bahwa pendidikan inklusif tidak hanya memberikan manfaat bagi anak berkebutuhan khusus, tetapi juga bagi seluruh warga sekolah.
Melalui pembelajaran bersama, peserta didik belajar memahami keberagaman, menghormati perbedaan, serta menumbuhkan sikap empati sejak usia dini.
Bagi para guru, penerapan pendidikan inklusif juga menjadi tantangan yang mendorong peningkatan kompetensi.
Guru dituntut lebih kreatif dalam merancang pembelajaran, mampu melakukan diferensiasi, serta melaksanakan asesmen yang berpusat pada kebutuhan setiap murid.
Putri mengaku memperoleh banyak pengalaman berharga melalui pelatihan pendidikan inklusif yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
Menurutnya, pelatihan tersebut membuka wawasan bahwa pembelajaran inklusif dapat diterapkan dengan baik apabila guru memiliki kemauan untuk terus belajar, berkolaborasi, dan mengembangkan diri.
Ia juga mengapresiasi komitmen pemerintah dalam memperkuat pendidikan inklusif melalui penyusunan regulasi, penyediaan panduan pelaksanaan, serta berbagai program peningkatan kompetensi guru.
Lebih jauh, Putri menilai pendidikan inklusif merupakan upaya membangun budaya sekolah yang terbuka, ramah, dan menghargai setiap individu sebagai bagian penting dari komunitas belajar.
Ketika seluruh anak memperoleh kesempatan belajar yang sama serta difasilitasi sesuai kebutuhannya, pendidikan akan menjadi sarana membangun peradaban yang adil dan berkeadilan.
Di balik keberhasilan seorang anak berkebutuhan khusus mengenyam pendidikan, Putri mengatakan terdapat perjuangan panjang yang dijalani orang tua.
Tidak sedikit keluarga yang harus mendatangi berbagai sekolah sebelum menemukan lembaga pendidikan yang bersedia menerima anak mereka.
"Sebagian orang tua pernah ditolak karena sekolah merasa belum memiliki kemampuan menangani anak berkebutuhan khusus.
Mereka hanya ingin anaknya mendapatkan kesempatan belajar, diterima, dan dihargai sebagaimana anak-anak lainnya," ungkapnya.
Sebagai pendidik di sekolah inklusif, Putri mengaku sering menyaksikan rasa haru dan kebahagiaan orang tua ketika akhirnya menemukan sekolah yang menerima anak mereka dengan tangan terbuka.
Menurutnya, kalimat sederhana bahwa sekolah siap belajar bersama mendampingi anak mampu menghadirkan harapan baru bagi keluarga.
Putri meyakini perubahan besar dalam pendidikan selalu berawal dari perubahan cara pandang guru terhadap peserta didik.
Ketika guru percaya bahwa setiap anak memiliki fitrah dan kelebihan masing-masing, ruang kelas akan menjadi tempat tumbuhnya harapan, persaudaraan, serta masa depan yang lebih baik.
Melalui komitmen tersebut, TKIT Fitrah Insani 2 Bandar Lampung terus berupaya menjadi sekolah yang ramah, inklusif, dan memberikan kesempatan belajar yang setara bagi seluruh anak tanpa memandang perbedaan kemampuan maupun latar belakang.
( Tribunlampung.co.id / Bayu Saputra )