TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Pada Juli 2026, sudah banyak warga yang mulai terdampak kekeringan imbas kemarau yang melanda.
Terpantau, ini juga terjadi di wilayah Kota Bogor dan Kabupaten Bogor.
Sumur-sumur yang biasanya menjadi sumber air warga kini mengering.
Bahkan sebagian warga Bogor sampai ada yang terpaksa mandi dan mencuci di sungai karena kondisi ini.
Petugas BPBD pun kini terus disibukan dengan mengirim bantuan air bersih ke kampung-kampung yang warganya kini susah air bersih imbas kemarau.
Lalu sampai kapan kah kemarau ini akan berlangsung ?.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan musim kemarau tahun 2026 di sebagian besar wilayah Indonesia akan berlangsung lebih kering dengan durasi yang lebih panjang dibandingkan rata-rata kondisi normal.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menyampaikan bahwa puncak musim kemarau sebagian besar terjadi pada bulan Agustus dan September.
"Sebagian besar wilayah Indonesia akan mengalami musim kemarau yang di bawah normal atau lebih kering, dan juga mengalami durasi yang lebih panjang dari normalnya," ujar Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan dalam konferensi pers, Kamis (30/7/2026).
Berdasarkan pemantauan BMKG, sebanyak 509 zona musim atau setara dengan 54,5 persen dari luasan wilayah Indonesia saat ini telah memasuki musim kemarau.
Sebagian besar wilayah yang telah memasuki musim kemarau terkonsentrasi di kawasan selatan khatulistiwa, sebagian Kalimantan Timur, mayoritas Sulawesi, Maluku, hingga sebagian Papua.
Ardhasena menjelaskan, puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada bulan Agustus yang mencakup 48,8 persen wilayah, disusul bulan September seluas 25 persen wilayah Indonesia.
Sedangkan fenomena El Nino diprediksi akan berlangsung sampai kuartal awal tahun 2027.
Dalam kesempatan itu Ardhasena juga meminta publik dapat membedakan antara fenomena iklim El Nino dan musim kemarau.
Musim kemarau merupakan siklus iklim periodik tahunan di wilayah Indonesia, sedangkan El Nino adalah fenomena interaksi laut-atmosfer berskala global yang terjadi akibat pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik tengah dan timur.
Ardhasena menjelaskan bahwa durasi berlangsungnya fenomena El Nino tidak selalu sama dengan durasi dampak kemarau di daratan Indonesia.
"Jadi El Nino-nya masih berlangsung hingga awal tahun 2027, tetapi dampaknya di kita itu selesai mulai pertengahan bulan Oktober lalu berlanjut ke November," terangnya.
Secara teknis, dampak El Nino terhadap penurunan curah hujan di Indonesia akan mulai mereda seiring masuknya musim hujan pada bulan Oktober hingga November.
Namun, fenomena El Nino itu diperkirakan masih bertahan di kawasan Pasifik hingga awal tahun 2027.
Lebih lanjut BMKG mengingatkan bahwa periode krisis atau periode paling krusial terkait dampak kekeringan dan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berlangsung hingga September.
"Jadi bulan-bulan krisis krusial adalah mulai saat ini bulan Juni hingga akhir bulan September tahun 2026," tegas Ardhasena.
Guna mengantisipasi dampak kemarau yang lebih panjang dan kering ini, BMKG merekomendasikan penyesuaian strategi adaptasi pada sejumlah sektor vital.