Iran Klaim Temukan Cara Tembus Pertahanan Udara AS, Patriot Disebut Kewalahan
Laksmi Anindita July 31, 2026 01:44 AM

TRIBUNWOW.COM - Iran mengklaim berhasil menemukan celah untuk menghadapi sistem pertahanan udara Amerika Serikat (AS) di Timur Tengah melalui kombinasi serangan drone dan rudal balistik canggih. Klaim tersebut muncul dalam laporan The Intercept yang mengutip seorang pejabat AS yang tidak disebutkan identitasnya.

Menurut laporan tersebut, sejak 9 Juli Iran disebut telah menyerang sedikitnya sembilan fasilitas militer AS di Timur Tengah. Sejumlah pangkalan dilaporkan mengalami kerusakan yang disebut signifikan.

Laporan itu menyebut serangan terbaru menunjukkan Iran masih mampu menjangkau pangkalan-pangkalan militer AS meski sebelumnya Presiden Donald Trump dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth menyatakan kemampuan militer Iran telah dilemahkan.

Sebuah video yang beredar memperlihatkan personel militer AS bergegas menuju bunker saat sirene peringatan berbunyi di Pangkalan Udara Muwaffaq Salti, Yordania. Dalam rekaman tersebut, terdengar peringatan sebelum para prajurit berlindung di ruang bawah tanah.

Menurut sumber yang dikutip The Intercept, keberhasilan Iran disebut didukung penggunaan drone serang dan rudal balistik generasi baru yang diklaim memiliki kecepatan hipersonik, sistem navigasi kompleks, kemampuan mengurangi dampak gangguan elektronik, serta sebagian mampu mengubah arah saat terbang.

Karakteristik tersebut diklaim membuat sistem pertahanan udara Patriot dan THAAD semakin sulit mencegat seluruh rudal yang diluncurkan.

Sumber yang sama juga menyebut persediaan rudal pencegat Patriot dan THAAD milik AS mulai berkurang sehingga militer Amerika disebut memprioritaskan pencegatan terhadap rudal yang dinilai mengancam langsung keselamatan personel.

Laporan Royal United Services Institute (RUSI) sebelumnya menyebut Amerika Serikat dan sekutunya telah menggunakan lebih dari 11.000 amunisi, termasuk ribuan rudal pertahanan udara, dalam 16 hari pertama konflik.

Sementara itu, Center for Strategic and International Studies (CSIS) memperkirakan persediaan rudal Patriot dan THAAD memerlukan waktu lebih dari tiga tahun untuk kembali ke tingkat sebelum konflik.

Juru Bicara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Brigjen Hossein Mohebbi, juga mengklaim sistem Patriot telah melemah sehingga sejumlah rudal dan drone Iran berhasil mencapai sasaran. Ia turut menyatakan Iran menghantam sejumlah instalasi radar dan pertahanan udara, termasuk enam radar Patriot, selama gelombang serangan pada 8-22 Juli.

Namun, Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) tidak memberikan tanggapan terkait klaim tersebut maupun mengenai tingkat kerusakan pangkalan yang disebut menjadi sasaran serangan.

Iran sebelumnya mengaku telah menyerang sejumlah fasilitas militer AS di Yordania, Kuwait, Bahrain, dan Qatar, termasuk Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar serta beberapa pangkalan utama Amerika di Kuwait.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.