Beri Anak Maling Rp 50 Juta, Anak Satpam Rp 25 Juta, Dedi Mulyadi Dituding Pilih Kasih: Anak Asuh
ninda iswara July 31, 2026 02:38 AM

TRIBUNTRENDS.COM - Sorotan publik kini mengarah kepada Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi setelah muncul perbandingan bantuan yang diberikan pada dua kasus berbeda yang sama-sama menyita perhatian masyarakat.

Gubernur yang akrab disapa KDM itu dinilai sejumlah netizen memberikan nominal bantuan yang tidak sama kepada dua anak yang kehilangan ayah mereka akibat peristiwa tragis.

Dalam kasus di Bali, Dedi diketahui memberikan bantuan sebesar Rp50 juta kepada anak dari terduga pencuri yang tewas setelah menjadi korban pengeroyokan warga.

Sementara itu, pada kasus satpam yang diduga dibunuh dan jasadnya ditemukan di kawasan Waduk Jatiluhur, Purwakarta, bantuan yang diberikan berupa uang tunai sebesar Rp25 juta.

Perbedaan nilai bantuan tersebut kemudian memicu beragam komentar di media sosial dan menjadi bahan perdebatan di kalangan warganet.

Banyak pengguna media sosial mempertanyakan alasan di balik perbedaan nominal bantuan yang diberikan kepada kedua keluarga korban tersebut.

Baca juga: Dedi Mulyadi Desak Kasus Satpam Jatiluhur Terungkap: Hasil Autopsi Kantongi Bukti, 15 Saksi Dicecar

Komentar tersebut pun ramai dibahas dan turut memperkuat anggapan bahwa pemerintah daerah dianggap belum memberikan perlakuan yang setara dalam kedua kasus itu.

Menanggapi perbincangan yang terus berkembang, Dedi Mulyadi akhirnya memberikan penjelasan secara terbuka melalui akun media sosial pribadinya.

Ia mengaku telah mengetahui adanya kritik dan tudingan yang menyebut dirinya membedakan bantuan kepada dua anak yang kini sama-sama kehilangan sosok ayah.

Dedi menyadari bahwa perbedaan nominal bantuan menjadi fokus utama pembahasan publik dalam beberapa hari terakhir.

Melalui unggahannya, ia memilih menjawab langsung berbagai pertanyaan yang beredar di tengah masyarakat.

"Hayo sedang apa sekarang, sedang ngomongin perbedaan bantuan pembunuhan sekuriti dan korban pengeroyokan pencuri ayam di Bali ya? saya dianggap membeda-bedakan ya?" tanya Dedi Mulyadi dilansir TribunnewsBogor.com pada Kamis (30/7/2026).

Pernyataan tersebut menjadi awal klarifikasi Dedi terkait polemik bantuan yang belakangan ramai diperbincangkan di media sosial.

Diungkap Dedi, ada alasan khusus kenapa ia hanya memberikan Rp25 juta kepada keluarga Sumarna, satpam yang tewas dibunuh.

Ada tiga alasan yang dijabarkan Dedi.

Pertama, Dedi mengaku bahwa dirinya lebih memilih memberikan uang Rp25 juta karena sisanya ia pakai untuk menyelesaikan kewajiban almarhum pada orang lain.

"Waktu itu saya tidak menyerahkan, uang berbeda dengan yang di Bali karena ada beberapa pertimbangan. Pertimbangan pertama bahwa saya paham almarhum itu ada beberapa kewajiban yang harus diselesaikan pada pihak lain sehingga saya memilih untuk menyelesaikan kewajiban pada pihak lain dibanding menyerahkan uang tunai ke keluarga korban," imbuh Dedi.

Alasan kedua adalah karena Dedi memikirkan pendidikan anak-anak korban.

Dedi memilih untuk mengalihkan bantuan uang tunai ke bantuan pendidikan.

Lagipula kata Dedi, selain bantuan berupa uang, ia juga memberikan bantuan lain yakni menjadikan anak korban sebagai anak asuhnya.

"Kedua, saya berfokus untuk pendidikan anaknya ke depan. Yang besar itu berfokus diselesaikan sekolah SMK dan dibantu untuk mendapatkan pekerjaan di perusahaan di sekitar rumah sehingga bisa menjamin kehidupan ibu dan adiknya," pungkas Dedi.

"Kedua, adik kecil yang masih sekolah SD itu dijadikan anak asuh saya untuk menempuh pendidikan hingga dewasa nanti sesuai apa yang diharapkan," sambungnya.

Alasan terakhir adalah lantaran korban sejatinya sudah memiliki asuransi ketenagakerjaan.

Anak dan istri Sumarna, kata Dedi, bakal diberikan santunan ratusan juta oleh BPJS Ketenagakerjaan.

Karenanya Dedi merasa bantuan Rp25 juta untuk keluarga Sumarna sudah cukup ia berikan.

"Ketiga, almarhum ini merupakan anggota sekuriti yang memiliki asuransi ketenagakerjaan dan mendapat hak asuransi ketenagakerjaan Rp418 juta sehingga keluarga almarhum sebenarnya memiliki keuangan yang cukup. Yang harus dipikirkan adalah masa depan anak,"

"Semoga kita sama-sama berfokus menjadi orang yang peduli pada sesama. Terima kasih kalau perbedaan tunai yang saya berikan itu menimbulkan kegaduhan," ungkap Dedi.

Baca juga: Kejanggalan Kasus Kematian Satpam Waduk Jatiluhur, Tidak Terekam CCTV Meski Ada 27 Buah Kamera

Dedi Mulyadi dituding pilih kasih ke anak maling dan anak satpam
Dedi Mulyadi dituding pilih kasih ke anak maling dan anak satpam (Instagram)

Santunan ratusan juta dari BPJS Ketenagakerjaan

Menyambung pernyataan Dedi Mulyadi soal asuransi milik Sumarna, pihak BPJS Ketenagakerjaan memvalidasinya.

Hari ini, Kamis (30/7/2026) ahli waris Sumarna menerima santunan serta manfaat jaminan sosial dari BPJS Ketenagakerjaan termasuk beasiswa pendidikan untuk anak korban sebesar Rp418.133.773.

Santunan tersebut diterima oleh istri Sumarna, Siti Maryam.

"BPJS Ketenagakerjaan memberikan hak ahli waris berupa santunan kurang lebih Rp 418 juta. Jadi, ini merupakan hak dari perlindungan jaminan sosial yang diberikan secara langsung dan tunai," ungkap Direktur Pelayanan BPJS Ketenagakerjaan Trisna Sonjaya dikutip dari Kompas.com.

Dua anak Sumarna yang duduk di kelas 12 SMK dan 4 SD pun diberikan beasiswa.

Berikut adalah rincian santunan dari BPJS untuk korban pembunuhan Sumarna:

  • Santunan Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) meninggal sebesar Rp 264.537.088
  • Jaminan Hari Tua (JHT) Rp 10.685.285
  • Jaminan Pensiun (JP) sebesar Rp 411.400 per bulan
  • Beasiswa bagi dua anak dengan nilai maksimal Rp 142.500.000.

(TribunTrends/TribunBogor)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.