BOLASPORT.COM - Rencana Presiden FIFA Gianni Infantino menjual saham Piala Dunia dan kompetisi lainnya ke investor swasta mendapat indikasi dukungan oleh Ketum PSSI, Erick Thohir.
Ketum PSSI, Erick Thohir mengindikasikan dukungan untuk rencana FIFA membentuk FIFA Forward Enterprise (FFE).
FFE adalah anak perusahaan yang akan mengatur penjualan hak-hak komersial dan operasional turnamen yang mereka kelola.
Entitas bisnis ini ditaksir memiliki valuasi sekitar 20 miliar dolar AS (361 triliun rupiah).
Dengan dibentuknya FFE, FIFA lewat Gianni Infantino memiliki gagasan untuk menjual saham Piala Dunia dan turnamen lainnya kepada investor swasta.
Melalui pernyataannya di Sky News, Erick Thohir mengatakan bahwa uang yang terkumpul dari pembentukan FFE dapat meningkatkan standar sepak bola dunia, khususnya kawasan Indonesia berada yakni Asia Tenggara.
Meski demikian, Erick juga menggarisbawahi bila rencana itu butuh persetujuan semua anggota FIFA.
"Sepak bola Indonesia telah mengalami transformasi dalam tiga tahun terakhir, sudah banyak dibenahi," kata Erick, dikutip BolaSport.com dari Sky News, Kamis (30/7/2026).
"Peringkat tim nasional telah naik dari 174 menjadi 118. Demi melanjutkan transformasi ini, dibutuhkan pendanaan."
"Jika anggota FIFA menyetujuinya, hal itu akan menunjukkan adanya permintaan agar kesepakatan ini terwujud," tambahnya.
Di sisi lain, rencana FIFA ini ditentang konfederasi benua lain karena dinilai menjual Piala Dunia kepada pihak swasta.
UEFA yang punya 55 anggota menolak tegas usulan FIFA untuk pembentukan FFE.
"UEFA dan 55 asosiasi anggotanya bersatu padu. Kami dengan suara bulat dan tegas menolak usulan FIFA untuk mengalihkan hak kepemilikan Piala Dunia dan kompetisi FIFA lainnya kepada investor swasta," demikian pernyataan UEFA.
"Piala Dunia tidak boleh diperlakukan sebagai produk investasi. Ini adalah salah satu warisan olahraga terbesar dalam dunia sepak bola."
Asosiasi sepak bola Amerika Utara, Tengah dan Karibia, CONCACAF merespons dengan sikap serupa.
"CONCACAF adalah konfederasi yang disatukan oleh kecintaan terhadap olahraga kami, di mana sepak bola menjadi prioritas," tulisnya.
"Para anggota mengungkapkan keprihatinan mendalam terkait kurangnya proses yang semestinya dalam usulan tersebut, tenggat waktu yang dipaksakan secara tidak wajar, serta tidak adanya tinjauan atau persetujuan dari badan-badan tata kelola FIFA yang berwenang."
"Diskusi tersebut memperkuat kebutuhan akan transparansi yang lebih besar dan tata kelola yang tepat. Atas dasar alasan tersebut, CONCACAF dan 41 Asosiasi Anggotanya telah: Menolak proposal itu."
Bahkan AFC di mana Indonesia bernaung juga menyatakan sikap kecewa kepada FIFA yang dinilai memunculkan rencana tanpa diskusi dengan para anggotanya.
"Meskipun AFC menyadari pentingnya mengeksplorasi pendekatan inovatif yang dapat memperkuat masa depan sepak bola global, proyek inisiatif berskala dan berdampak sebesar ini harus didasarkan pada prinsip-prinsip tata kelola yang baik, transparansi, dan konsultasi yang bermakna," bunyi pernyataan AFC.
"AFC sangat meyakini semua pemangku kepentingan harus diberikan informasi yang memadai dan waktu yang cukup untuk menilai proposal tersebut secara menyeluruh, termasuk implikasi tata kelola, hukum, komersial, dan strateginya."
"Sebagai salah satu dari enam Konfederasi sepak bola global, AFC tetap berkomitmen terhadap pertumbuhan berkelanjutan sepak bola dunia."
Penjualan saham FFE baru bisa terwujud jika FIFA mendapatkan dukungan suara dari kongres dan 50 persen lebih dari total negara anggota (211).
Maka perlu 106 negara yang mendukung rencana ini.
Dari UEFA dan CONCACAF saja yang dengan tegas menolak, sudah ada 96 negara yang melawan proposal kontroversial FIFA.