Liputan6.com, Jakarta - Tak hanya menawarkan akting luwes nan apik, Teater Koma juga menghadirkan aspek artistik yang tak hanya memanjakan mata penonton lakon Rumah Sakit Jiwa. Namun juga memperhatikan kegunaan bahkan sampai dengan arti-arti yang disimbolkan dari suatu properti.
Di sisi lain, musik yang mengiringi jalannya lakon dilakukan secara real time bukan dengan rekaman musik, melainkan dengan alat musik klasik. Komposisi musik ini digarap oleh komposer berbakat Tanah Air, Fero A. Stefanus.
Musik garapannya mengiringi adegan-adegan tiap tokoh dalam lakon. Dengan ini penonton akan mendapat pengalaman menonton lakon yang lebih seru dan detail mulai dari ketegangan, refleksi, hingga emosi tiap karakter.
Artistik lakon ini juga diperkuat oleh elemen tata panggung, tata cahaya, tata musik, multimedia, dan rancangan kostum yang saling melengkapi dan mendetail Yang sangat menarik untuk diulik adalah tata panggung yang mengandung sebuah arti.
Seperti apa maknanya?
Dalam keterangan tertulis yang diterima Liputan6,com pada Rabu (29/7/2026), untuk menampilkan jarak, kedudukan, dan kekuasaan antar tokoh di RSJ, Teater Rumah Sakit Jiwa membuat struktur panggung level bertingkat, tingkat bawah dan tingkat atas.
Tingkatan atas ini digunakan oleh para dokter sedangkan tingkat bawah lebih banyak digunakan para pasien. Kedua tingkatan itu dihubungkan dengan tangga yang berarti juga menghubungkan tokoh di dalamnya.

Dengan semua kekreatifan dan kegigihan pihak-pihak terkait dengan teater Rumah Sakit Jiwa, Ratna Riantiarno selaku produser Teater Koma dan fasilitator kerja kreatif memberikan ucapan terima kasihnya kepada semua yang terlibat.
“Terima kasih kepada semua yang terlibat, terutama pemain yang gigih melakukan observasi dan mengundang ahli kesehatan mental untuk memperdalam pemahaman karakter," tuturnya.

Rumah Sakit Jiwa berkisah tentang Rogusta, seorang dokter baru di sebuah rumah sakit jiwa yang dipimpin Profesor Sidarita. Berbekal keyakinan bahwa pendekatan yang penuh persahabatan mampu membantu proses penyembuhan pasien, Rogusta mulai menerapkan metode yang perlahan mengubah kehidupan di rumah sakit tersebut.
Namun, perubahan itu justru memicu konflik dengan sistem yang telah lama berjalan dan mereka yang merasa posisinya terancam. Melalui kisah tersebut, Teater Koma menghadirkan refleksi mengenai upaya seseorang untuk mengubah sistem yang telah mengakar, sekaligus mengajak penonton mempertanyakan, apakah benar bahwa dunia sedang berubah menjadi sebuah ‘rumah sakit jiwa’.