TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Program bantuan makan gratis “Mari Makan” yang dijalankan Rumah Amal Salman sejak 2025 tidak hanya membantu mahasiswa dan pengemudi ojek online yang kurang mampu untuk memenuhi kebutuhan pangan. Skema bantuan berbasis voucher digital itu juga menciptakan pelanggan tetap bagi rumah makan kecil di sekitar kampus, sehingga ikut menggerakkan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Salah satu mitra program, Warung Sindang Rasa di sekitar Kampus ITB Bandung, merasakan langsung dampaknya.
Pemilik warung, Aan (56 tahun), mengatakan omzet usahanya meningkat setelah bergabung dalam program sekitar satu tahun lalu.
"Saya sudah bekerja sama dengan program Mari Makan selama satu tahun. Saya merasa sangat terbantu. Pendapatan juga bertambah. Kalau sedang ramai, sehari bisa habis lebih dari satu karung beras," kata Aan.
Menurut Aan, jam makan siang menjadi waktu paling sibuk. Setiap hari lebih dari 20 voucher ditukarkan di warungnya. Kehadiran penerima manfaat yang datang secara rutin juga berdampak pada bertambahnya pelanggan umum.
Sejumlah pengemudi ojek online yang pernah makan kerap merekomendasikan warungnya kepada rekan sesama pengemudi.
Kepala Program Mari Makan Rumah Amal Salman, Didi Riyadi, mengatakan Warung Sindang Rasa menjadi salah satu dari empat rumah makan mitra dengan tingkat penukaran voucher tertinggi.
Rata-rata terdapat sekitar 100 voucher yang ditukarkan setiap bulan di warung tersebut.
Menurut Didi, sejak awal program ini memang dirancang agar manfaat bantuan tidak hanya berhenti pada penerima, tetapi juga memperkuat ekonomi pelaku usaha kecil di sekitar kampus.
"Ketika penerima manfaat datang setiap pekan untuk menukarkan voucher, rumah makan memperoleh pelanggan yang relatif tetap. Artinya, bantuan sosial ini juga menciptakan perputaran ekonomi bagi UMKM," ujar Didi.
Program Mari Makan menyalurkan bantuan melalui voucher digital berbentuk kode QR.
Setiap penerima memperoleh satu voucher makan senilai Rp16 ribu setiap pekan yang dikirim secara otomatis melalui bot WhatsApp dan dapat ditukarkan di rumah makan mitra.
Skema digital tersebut, kata Didi, membuat penyaluran bantuan lebih mudah dipantau sekaligus mempercepat proses transaksi antara Rumah Amal Salman dan mitra UMKM.
Setiap rumah makan dibekali aplikasi pemindai QR yang mencatat riwayat penukaran voucher serta pembayaran secara otomatis.
"Eskalasi program lebih mudah karena tidak bergantung pada perangkat fisik. Pemantauan efektivitas program juga lebih efisien, baik dari sisi penyedia layanan maupun mitra," katanya.
Selain membantu mahasiswa dan pengemudi ojek online memperoleh akses makan gratis, skema tersebut membuat transaksi di warung makan sekitar kampus berlangsung lebih konsisten.
Rumah makan mitra dapat memantau saldo pembayaran melalui aplikasi, sementara Rumah Amal melakukan pengisian saldo secara berkala sesuai tingkat penukaran voucher.
“Untuk rumah makan biasanya kami top up saldo direntang angka Rp 1,5 juta – Rp 2 juta. Karena mereka juga dibekali aplikasi, ketika saldo tinggal sedikit, mereka akan mengabari kami untuk kembali melakukan pengisian saldo,” imbuh Didi.
Selama satu tahun berjalan, Program Mari Makan telah menjangkau 149 mahasiswa dan pengemudi ojek online.
Total voucher yang telah ditukarkan mencapai 1.848 transaksi.
Melihat tingginya pemanfaatan program, Rumah Amal Salman berencana memperluas pelaksanaan Mari Makan ke kawasan Kampus ITB Cirebon, Ganesha, dan Jatinangor.
Perluasan tersebut diharapkan tidak hanya menambah jumlah penerima manfaat, tetapi juga membuka peluang bagi lebih banyak UMKM kuliner untuk menjadi mitra.
"Tujuan program ini bukan hanya membuat bantuan pangan lebih efektif dan fleksibel, tetapi juga memastikan ekonomi masyarakat sekitar ikut bergerak. Harapannya, program ini bisa diperluas ke lebih banyak daerah sehingga penerima manfaat maupun UMKM lebih variatif dan juga penerima manfaat yang terlibat semakin banyak," ujar Didi.