Sorotan untuk Bos FIFA, Ini 5 Kontroversi Gianni Infantino yang Menghebohkan Dunia Sepak Bola
M Zulkodri August 01, 2026 01:33 AM

BANGKAPOSCOM-- Nama Presiden FIFA, Gianni Infantino, kembali menjadi sorotan dunia sepak bola di tengah bergulirnya Piala Dunia 2026.

Di balik keberhasilannya meningkatkan pendapatan FIFA selama hampir satu dekade memimpin organisasi sepak bola dunia itu, Infantino juga tak lepas dari berbagai kontroversi yang memicu kritik dari federasi, pengamat, hingga publik internasional.

Pria asal Swiss tersebut resmi menjabat sebagai Presiden FIFA pada 2016, menggantikan Sepp Blatter yang mundur setelah FIFA diterpa skandal korupsi besar.

Sejak saat itu, berbagai kebijakan yang diambil Infantino kerap memunculkan perdebatan, mulai dari persoalan tata kelola organisasi, penunjukan tuan rumah Piala Dunia, hingga rencana komersialisasi turnamen paling bergengsi di dunia.

Berikut sejumlah kontroversi yang mewarnai kepemimpinan Gianni Infantino.

1. Sempat Diselidiki Dugaan Pelanggaran Etik

Tidak lama setelah terpilih sebagai Presiden FIFA pada 2016, Infantino langsung menjadi perhatian Komite Etik FIFA terkait penggunaan dua penerbangan jet pribadi.

Penyelidikan dilakukan untuk memastikan tidak ada penyalahgunaan fasilitas organisasi.

Setelah proses pemeriksaan selesai, FIFA menyatakan tidak menemukan adanya pelanggaran sehingga kasus tersebut ditutup.

Namun kontroversi kembali mencuat pada 2017.

Mengutip laporan The Guardian, Infantino dituding ikut memengaruhi pergantian pimpinan Komite Etik FIFA serta diduga berupaya memengaruhi proses pemilihan Presiden Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF).

Meski demikian, pada Agustus 2020 Komite Etik FIFA kembali membebaskan Infantino dari seluruh tuduhan tersebut.

2. Pernyataan Kontroversial Menjelang Piala Dunia Qatar 2022

Salah satu momen yang paling banyak menuai kritik terjadi menjelang Piala Dunia Qatar 2022.

Saat sejumlah negara Barat menyoroti isu hak pekerja migran dan komunitas LGBTQ+ di Qatar, Infantino justru membela negara tuan rumah.

Ia menilai banyak negara Barat bersikap munafik karena selama bertahun-tahun menikmati keuntungan ekonomi dari Qatar, tetapi baru mengkritik negara tersebut ketika Piala Dunia akan digelar.

Dalam konferensi pers itu, Infantino juga melontarkan pernyataan yang viral di berbagai belahan dunia.

"Hari ini saya merasa sebagai orang Qatar. Hari ini saya merasa sebagai orang Arab. Hari ini saya merasa sebagai orang Afrika. Hari ini saya merasa gay. Hari ini saya merasa penyandang disabilitas. Hari ini saya merasa seperti pekerja migran," ujar Infantino.

Pernyataan tersebut memicu pro dan kontra karena dianggap tidak sensitif terhadap berbagai kelompok yang disebutkannya.

3. Penunjukan Arab Saudi sebagai Tuan Rumah Piala Dunia 2034

Kontroversi kembali muncul ketika FIFA menetapkan Arab Saudi sebagai tuan rumah Piala Dunia 2034.

Keputusan itu menuai kritik karena proses pencalonannya dinilai tidak memberikan ruang kompetisi yang setara.

FIFA hanya membuka peluang bagi negara-negara di kawasan Asia dan Oseania untuk mengajukan diri sebagai tuan rumah, sehingga Arab Saudi menjadi satu-satunya kandidat hingga proses pemilihan selesai.

Selain itu, berbagai organisasi hak asasi manusia juga mempertanyakan keputusan tersebut mengingat Arab Saudi masih menghadapi sorotan terkait isu HAM.

Kedekatan hubungan bisnis FIFA dengan Arab Saudi melalui kerja sama sponsor bersama Aramco dan Public Investment Fund (PIF) turut menjadi perhatian publik.

4. Memberikan FIFA Peace Prize kepada Donald Trump

Keputusan Infantino memberikan penghargaan perdana FIFA Peace Prize kepada Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, juga memicu kontroversi.

Penghargaan tersebut diberikan saat acara pengundian Piala Dunia 2026.

Sebelumnya, Infantino juga diketahui secara terbuka mendukung pencalonan Trump sebagai penerima Nobel Perdamaian.

Langkah tersebut menuai kritik karena dianggap membawa kepentingan politik ke dalam organisasi sepak bola dunia.

5. Rencana Menjual Sebagian Hak Komersial Piala Dunia

Kontroversi terbaru yang menyeret nama Infantino berkaitan dengan rencana pembentukan FIFA Forward Enterprise (FFE).

Melalui perusahaan baru tersebut, FIFA berencana melepas sekitar 20 persen saham kepada investor swasta untuk mengelola aspek komersial berbagai turnamen FIFA, termasuk Piala Dunia.

Nilai perusahaan itu diperkirakan mencapai sekitar US$20 miliar.

Sejumlah laporan menyebut investor yang dikaitkan dengan proyek tersebut antara lain JP Morgan dan investor teknologi Joshua Kushner.

Rencana tersebut langsung memicu penolakan dari sejumlah konfederasi, terutama UEFA, yang menilai Piala Dunia merupakan warisan olahraga global dan tidak seharusnya menjadi aset investasi swasta.

Meski menuai kritik, FIFA menegaskan bahwa langkah tersebut bertujuan memperbesar pendanaan bagi pengembangan sepak bola di seluruh dunia serta tidak akan mengurangi kewenangan FIFA dalam mengelola kompetisi internasional.

Kontroversi demi kontroversi membuat kepemimpinan Gianni Infantino terus menjadi sorotan. Di satu sisi ia berhasil meningkatkan pendapatan FIFA hingga mencetak rekor baru, namun di sisi lain berbagai kebijakan dan keputusannya masih memicu perdebatan panjang di kalangan pelaku sepak bola dunia.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.