TribunGayo.com, TAKENGON - Kabar bahagia datang dari Atu Singkih, Rusip Antara, Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi aceh.
Aji Avca Gunawan resmi dinyatakan lulus sebagai taruna Akademi Militer (Akmil) dalam pengumuman di Akmil Magelang, Jawa Tengah, Kamis (30/7/2026).
Namun dibalik kebahagiaan itu, ada kisah haru yang menyertai perjalanan pemuda kelahiran 9 Januari 2006 ini.
Aji merupakan anak kedua dari empat bersaudara pasangan Sugito dan Patmawati.
Kedua orang tuanya berprofesi sebagai petani kopi di kampung halaman.
Selain bertani, sang ayah juga kerap bekerja serabutan untuk menambah penghasilan keluarga setelah panen kopi usai.
Dari hasil tani dan kerja serabutan itulah, segala kebutuhan Aji dibiayai.
Mulai dari biaya les atau bimbingan belajar dan latihan fisik di Banda Aceh.
Kemudian biaya hidup sehari-hari selama menempuh persiapan di sana.
Hingga tiket pesawat menuju Magelang setelah sebelum dinyatakan lulus.
Keterbatasan biaya membuat kebahagiaan keluarga ini dijalani dengan cara yang sederhana.
Sugito dan Patmawati hanya bisa mengantar putranya hingga bandara di Banda Aceh pada 4 Juli 2026.
Keduanya tak bisa ikut merayakan momen kelulusan Aji secara langsung di Magelang.
Bukan karena tak ingin, melainkan karena terkendala biaya perjalanan.
Momen itu pula yang membuat hanya kakak kandung Aji, Eva Lestari, bersama suaminya, yang mendampingi langsung di lokasi pengumuman Pantukhir Akmil Magelang, Kamis (30/7/2026).
Bahkan untuk pelantikan mendatang, keluarga belum bisa memastikan kehadiran mereka.
Kehadiran orang tua nantinya akan sangat bergantung pada ketersediaan biaya keberangkatan.
Jika ada rezeki, mereka akan berangkat.
Jika tidak, mereka merelakan momen itu berlalu tanpa kehadiran di momen pelantikan.
Meski begitu, doa tetap menyertai dari kampung halaman.
Perjalanan Aji menuju Akademi Militer bukan kisah sukses yang datang sekali coba.
Ia lebih dulu dua kali gagal di seleksi Akmil dan satu kali gagal di jalur Calon Bintara (Caba) TNI.
Setiap kegagalan justru menjadi alasan baginya untuk kembali memperbaiki fisik dan materi seleksi, lalu mencoba lagi.
Seleksi awal ia jalani di Kodam Iskandar Muda, sebelum lanjut ke tahap seleksi pusat di Magelang.
Sang ibu mengaku hanya mampu membekali Rp 1,5 juta saat Aji harus berangkat sendiri ke Magelang, karena kondisi ekonomi keluarga tak memungkinkan untuk ikut mendampingi.
Satu hal yang membuat sosok Aji semakin istimewa di mata warga kampung.
Alumni Pondok Pesantren Al-Zahra Bireuen itu juga seorang hafidz 30 juz.
Hafalan Al-Qur'an hingga tuntas 30 juz itu ia capai saat memfokuskan diri di salah satu rumah Tahfidz di Sumatera Utara.
Sejak masih duduk di bangku pesantren, Aji sudah terbiasa dipercaya menjadi imam salat di masjid.
Cita-cita menjadi prajurit TNI pun disebut sudah tumbuh sejak Aji kecil, tumbuh bersama kepribadiannya yang dikenal cerdas, berani, dan percaya diri.
Sang ayah, Sugito, selain mengelola kebun kopi juga bekerja sebagai buruh bangunan demi mencukupi kebutuhan keluarga ditengah penghasilan yang tak menentu.
Gagal beberapa kali, tak sekali pun ia berhenti melangkah.
Hafalan Al-Qur'an yang ia jaga sejak pesantren, seolah menjadi bekal kesabaran di setiap kegagalan itu.
Kini, dari kaki hingga puncak perjuangannya, hanya satu yang tak pernah absen, doa dua orang tua yang bahkan tak mampu menyaksikan langsung anaknya diumumkan lulus.
Sugito dan Patmawati mungkin tak sempat berdiri di Magelang untuk memeluk putranya.
Tapi kerja keras mereka di kebun kopi, keringat yang menetes demi tiket pesawat dan biaya les anaknya, ada di setiap langkah Aji menuju gerbang Akmil.
Kisah Aji Avca Gunawan bukan sekadar cerita tentang lolos seleksi militer.
Ini kisah tentang anak petani kopi yang membawa hafalan Qur'an dan doa orang tuanya, jauh melampaui keterbatasan yang pernah mengelilinginya. (*)
Baca juga: Aji Avca Gunawan Anak Petani Kopi di Aceh Tengah Lolos Akmil Setelah Gagal 3 kali, Begini Kisahnya