TRIBUNJAMBI.COM, MUARA BULIAN – Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Kabupaten Batang Hari mencatat sekitar 30 persen Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) di wilayah setempat saat ini berada dalam kondisi berkembang, Minggu (1/8/2026).
Sementara itu, secara keseluruhan tercatat sekitar 50 persen BUMDes di Kabupaten Batang Hari sudah berjalan dan beroperasi aktif di tingkat desa.
Kepala Dinas PMD Kabupaten Batang Hari, Taufik, menyampaikan perkembangan BUMDes di Batang Hari cukup bervariasi. Sebagian desa berhasil membukukan pertumbuhan modal hingga miliaran rupiah, namun tidak sedikit pula yang masih stagnan atau berjalan di tempat.
"Alhamdulillah, dari perkembangan yang ada, hampir 50 persen desa di Batang Hari terkait BUMDes-nya sudah berjalan, dan yang dikategorikan sehat ada sekitar 30 persen," katanya.
Ia mencontohkan salah satu BUMDes yang menunjukkan perkembangan signifikan, yakni BUMDes Desa Bungku, Kecamatan Bajubang.
Menurut Taufik, pada 2023 BUMDes Desa Bungku menerima penyertaan modal awal dari pemerintah desa sebesar Rp150 juta. Melalui pengelolaan unit usaha yang tepat sasaran, nilai modal BUMDes tersebut kini meningkat drastis.
"Perkembangannya cukup signifikan. Dari angka Rp150 juta penyertaan modal pada 2023, pada evaluasi Juli lalu modal yang dimiliki BUMDes Bungku sudah berkembang hampir mencapai Rp1,3 miliar," ujarnya.
Menurutnya, pesatnya perkembangan usaha BUMDes Bungku tidak lepas dari potensi lingkungan desa yang sangat mendukung, karena mayoritas warga merupakan petani kelapa sawit.
Pengurus BUMDes mampu memanfaatkan peluang tersebut dengan mengembangkan usaha di sektor perkebunan kelapa sawit.
Selain Desa Bungku, beberapa desa lain yang BUMDes-nya juga berkembang dengan baik antara lain Desa Pompa Air, Desa Terusan, Kecamatan Maro Sebo Ilir, Kecamatan Mersam, Kecamatan Batin XXIV, dan Kecamatan Muara Bulian.
Kendati demikian, ia tidak menampik masih banyak BUMDes di Batang Hari yang belum mampu berkembang secara maksimal.
Beberapa faktor penyebabnya antara lain keterbatasan kapasitas sumber daya manusia (SDM), komitmen pengurus, hingga pemilihan jenis usaha yang tidak sesuai dengan kondisi dan kebutuhan desa.
"Banyak faktor yang menentukan, mulai dari kesiapan SDM, kepengurusan, hingga penetapan badan usaha yang kadang tidak sesuai dengan potensi desa, sehingga sulit berkembang," tegasnya.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Dinas PMD Batang Hari terus mengintensifkan pembinaan dan pemantauan secara berkala agar BUMDes yang sempat terhenti dapat kembali aktif.
Ia berharap BUMDes benar-benar hadir sebagai penggerak roda perekonomian masyarakat desa. Ke depan, pihaknya mendorong BUMDes bersinergi dengan Koperasi Desa Merah Putih, khususnya dalam penyediaan rantai pasok kebutuhan pangan masyarakat.
"Kita harapkan nanti ada sinergi antara Kopdes dengan BUMDes yang ada. Misalnya, BUMDes berperan sebagai pemasok komoditas pangan yang dibutuhkan masyarakat desa," tutupnya.
(Tribunjambi.com/Khusnul Khotimah)
Baca juga: Harga Pertamax Turun, Antrean Kendaraan di SPBU Batang Hari Tetap Normal