TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) mendapat sambutan dari warga saat mengikuti kegiatan jalan santai di kawasan Car Free Day (CFD) Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (1/8/2026).
Dalam keterangan yang diterima, sejak tiba di kawasan depan Kantor Gubernur NTT, Jokowi yang mengenakan jaket putih langsung dikerumuni masyarakat.
Warga dari berbagai kalangan berebut mendekat untuk bersalaman dan mengabadikan momen bersama mantan kepala negara tersebut.
Baca juga: Warga Bertemu Jokowi di CFD Kupang: Dapat Kaos hingga Sebut Opa NTT
Suasana semakin semarak ketika sejumlah warga meneriakkan kalimat yang menggambarkan kedekatan emosional Jokowi dengan NTT.
"Bapak kesayangan kita pulang kampung," seru seorang warga.
Teriakan itu disambut warga lainnya.
"Bapak pulang, Bapak Jokowi pulang kampung," teriak warga yang memenuhi lokasi CFD.
Antusiasme masyarakat membuat Jokowi beberapa kali berhenti untuk memenuhi permintaan swafoto.
Warga berusaha mendekat dari berbagai sisi agar bisa berfoto bersama Presiden RI periode 2014–2024 tersebut.
Dalam kegiatan itu, Jokowi didampingi Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Grace Natalie, Wakil Ketua DPP PSI Isyana Bagoes Oka, serta Wakil Ketua Umum DPP PSI Ronald A. Sinaga.
Tidak berselang lama, Ketua Umum DPP PSI Kaesang Pangarep juga tiba di lokasi. Kehadiran putra bungsu Jokowi tersebut turut menarik perhatian warga yang langsung mengerumuninya untuk bersalaman dan berfoto bersama.
Kunjungan Jokowi ke NTT dijadwalkan berlangsung selama tiga hari. Sehari sebelumnya, ia mengunjungi kawasan Pantai Oesina dan berdialog dengan para pelaku usaha budidaya rumput laut mengenai potensi pengembangan sektor kelautan di wilayah tersebut.
Sementara pada hari ini, usai mengikuti jalan santai di CFD, Jokowi dijadwalkan menghadiri Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) PSI Kota Kupang serta mengikuti rangkaian kirab budaya yang digelar di ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Terpisah, Ketua Harian DPP Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Ahmad Ali memberikan pandangan mengenai makna di balik kunjungan Presiden ke-7 RI, Joko Widodo ke Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 31 Juli hingga 1 Agustus 2026, mendatang.
Menurut Ahmad Ali, kunjungan tersebut tidak sekadar dimaknai sebagai agenda silaturahmi politik biasa, melainkan menjadi momentum penting untuk memperkokoh ikatan emosional historis yang telah terjalin lama bersama masyarakat NTT.
Ahmad Ali menjelaskan bahwa dalam tradisi masyarakat Flores Timur dan Lamaholot di NTT, gading gajah memegang kedudukan sakral yang tidak hanya dinilai sebagai benda pusaka bernilai tinggi.
Gading tersebut merupakan simbol kehormatan, komitmen, tanggung jawab moral, serta ikatan kepercayaan antarkeluarga yang diwariskan lintas generasi.
"Filosofi gading gajah tersebut dapat menjadi refleksi berharga dalam kehidupan politik kita. Kepercayaan rakyat tidak dibangun melalui slogan atau simbol semata, tetapi melalui komitmen yang diwujudkan dalam tindakan nyata," kata Ahmad Ali, Kamis (30/7/2026).
Menurutnya, nilai utama dari sebatang gading bukanlah terletak pada wujud fisiknya, melainkan kesungguhan dalam menjaga amanat serta hubungan baik antarsesama manusia.
Pembangunan di Timur Indonesia
Jokowi disebut memberikan atensi yang besar terhadap pembangunan di kawasan timur Indonesia, termasuk wilayah NTT selama kepemimpinannya.
Langkah ini diwujudkan melalui akselerasi pembangunan infrastruktur transportasi, konektivitas antarpulau, bendungan, pengembangan destinasi wisata prioritas, hingga berbagai program jaring pengaman sosial.
Ahmad Ali menilai kunjungan Jokowi kali ini merupakan representasi dari upaya merawat hubungan secara konsisten.
Sebagaimana filosofi gading gajah yang melambangkan janji menjaga kehormatan, hubungan antara pemimpin dan rakyat juga memerlukan kehadiran yang berkelanjutan.
"Hubungan antara pemimpin dan rakyat memerlukan konsistensi dan kehadiran yang berkelanjutan," jelasnya.
Lebih lanjut, Ahmad Ali mengingatkan bahwa dalam dinamika politik modern, kepercayaan publik merupakan amanah konstitusional yang harus senantiasa dirawat secara bertanggung jawab.
Atribut dan afiliasi partai politik dapat berganti dari waktu ke waktu, namun komitmen kerja nyata dan keberpihakan kepada masyarakat tetap menjadi ukuran utama dalam memperoleh legitimasi rakyat.
"Demikian pula dalam politik,nkepercayaan masyarakat tidak diperoleh hanya melalui identitas politik,nmelainkan melalui kerja nyata yang dapat dirasakan langsung oleh rakyat," pungkas Ahmad Ali.