Yahmi Soroti Capaian 80 Tahun Kemerdekaan RI, Dorong Politik Berbudaya dan Kembali ke Tujuan NKRI
Kemal Setia Permana August 01, 2026 06:11 PM

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG- Yayasan Harapan Mukhlisin Indonesia (Yahmi), menyoroti pencapaian Indonesia setelah 80 tahun merdeka yang dinilai perlu dievaluasi kembali berdasarkan empat tujuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Evaluasi tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Seminar Kebangsaan KAHMI 2026 bertajuk Solusi Pencapaian Empat Tujuan NKRI Melalui Politik yang Berbudaya yang digelar Yahmi di Graha HMI Cabang Bandung, Jalan Sabang, Kota Bandung, Sabtu (1/8/2026).

Ketua Yahmi, Dr. Berliana Kartakusumah mengatakan, evaluasi terhadap perjalanan bangsa perlu dilakukan dengan melihat kembali tujuan kemerdekaan yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945.

"Iya, tujuan seminar ini adalah untuk mengkritisi pencapaian kita sejak 80 tahun yang lalu, ketika Indonesia dideklarasikan kemerdekaannya," ujar Berliana.

Menurut Berliana, empat tujuan kemerdekaan sebagaimana tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 harus menjadi pijakan, dalam melihat sejauh mana Indonesia telah mencapai cita-cita para pendiri bangsa.

Ia mencontohkan tujuan mencerdaskan kehidupan bangsa yang perlu dilihat berdasarkan kondisi Indonesia, ketika merdeka dan dibandingkan dengan posisi saat ini.

"Misalnya bagaimana mencerdaskan bangsa itu, sampai di mana dulu waktu kita deklarasi kemerdekaan itu di mana posisinya, kemudian sekarang di mana posisinya? Lalu negara yang bertugas untuk itu, bagaimana perannya dan seterusnya," katanya.

Baca juga: Six Nine Padel Tetap Beroperasi Meski Satpol PP Segel Sisa-sia Pohon yang Ditebang

Berliana menilai, evaluasi tersebut penting agar bangsa Indonesia tidak melihat persoalan secara parsial. Menurutnya, ketika arah pembangunan dinilai telah keluar dari tujuan awal, bangsa harus kembali kepada pokok cita-cita kemerdekaan.

"Kalau kita kesasar, maka harus kembali ke pokok. Begitu juga saya kira kita untuk menilai apa pencapaian-pencapaian idealisme para founding fathers kita untuk merdeka ini ya harus kembali ke situ," ucapnya. 

Kondisi Indonesia saat ini, kata dia, dapat dilihat melalui dua pendekatan, yakni maksimalis dan minimalis. Dari pendekatan maksimalis, masih terdapat banyak kekurangan yang perlu diperbaiki. Namun, dari sisi minimalis,kata dia, terdapat sejumlah pencapaian bangsa yang patut diapresiasi.

Berliana menilai berbagai prestasi tersebut selama ini belum banyak dikapitalisasi sebagai sumber optimisme masyarakat.

"Satu hal saya kira yang mungkin agak kurang kita apresiasi adalah banyak prestasi bangsa yang itu tidak dikapitalisasi, sehingga kita lebih banyak apa namanya menyampaikan bahwa kekurangannya itu yang kita eksploitasi atau kita kapitalisasi sehingga itu menciutkan apa namanya harapan kita," katanya.

Berliana menyontohkan sejumlah capaian industri nasional diantaranya, industri penerbangan melalui N-250 Gatotkaca, industri perkeretaapian nasional melalui PT INKA yang produknya digunakan di Filipina, industri pertahanan nasional seperti PT PAL serta Bio Farma yang produknya digunakan di sejumlah negara, termasuk untuk kebutuhan vaksin.

Menurutnya, berbagai capaian tersebut perlu lebih banyak disampaikan kepada masyarakat agar dapat membangun optimisme, terutama di kalangan generasi muda.

"Saya kira ini yang mungkin perlu kita sama-sama menyadari bahwa ini penting untuk apa? Untuk menggelorakan harapan kita, anak-anak muda, bahwa kita bagus, kita bisa seperti orang lain, dan kita juga tidak menjadi inferior gitu kan karena kita punya karya-karya nyata yang kita sampaikan kepada masyarakat kita dan juga masyarakat dunia," katanya.

Berliana mengatakan kegiatan seminar kebangsaan tersebut juga menjadi bagian dari upaya Yahmi mengaktifkan kembali lembaga-lembaga kajian.

"Ya, saya kira salah satunya adalah lembaga-lembaga kajian ini kita coba aktivasi kembali, dan itu satu ya, salah satu di antaranya adalah yang sekarang sedang kita laksanakan ini," ujarnya.

Baca juga: MBG Keluar dari Anggaran Pendidikan, Pengamat Usul Tunjangan Guru Naik 3 Kali Lipat Seperti Hakim

Ia berharap kegiatan kajian serupa dapat dilakukan lebih sering dengan cakupan pembahasan yang lebih luas sehingga hasilnya dapat disampaikan kepada berbagai institusi untuk mendukung kemajuan masyarakat.

"Mudah-mudahan ke depan nanti lebih bagus lagi, lebih sering lagi, kemudian cakupannya lebih detail. Jadi kita punya perencanaan kajian yang A to Z sehingga ini bisa dikontribusikan kepada berbagai institusi yang memungkinkan kita menyampaikan hasil-hasil kajian ini dengan baik untuk kemaslahatan kemajuan dari masyarakat kita semua," katanya.

Seminar tersebut turut menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya Dr. Ir. Sodik Mudjahid, M.Sc., Dr. dr. Siti Fadilah Supari, Sp.JP., Tatang Muttaqin, S.Sos., M.Ed., Ph.D., serta Drs. Amich Alhumami, M.A., M.Ed., Ph.D. (*) 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.